Breaking News

Waspada Infeksi Ganda!!  COVID-19 dan Demam Berdarah

Waspada Infeksi Ganda!!  COVID-19 dan Demam BerdarahIlustrasi

Oleh: Elva Miza Tarigan

Mahasiswa Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta

Pandemi COVID-19 memberikan tekanan besar bagi tenaga medis dan sistem kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Dengan jumlah kematian akibat COVID-19 yang meningkat, diperlukan pula perawatan intensif yang lebih banyak.

Alhasil dampak besar dirasakan pada bidang kesehatan dari penyakit lainnya. Pada saat sumber daya dan tenaga medis dialihkan ke COVID-19, tantangan baru muncul dan menjadi perhatian khusus bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

WHO telah menekankan pentingnya mempertahankan upaya untuk mencegah, mendeteksi, dan mengobati penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti Demam Berdarah (DBD) dikala pandemi merebak. Hal serupa juga harus diterapkan untuk pencegahan dan pengendalian penyakit arbovirus lainnya.

Terdapat sekitar 100 juta kasus DBD yang terjadi setiap tahun, dengan beban tertinggi di Asia Tenggara diikuti oleh Amerika Latin.  Penularan epidemi baik DBD maupun COVID-19 didorong oleh kepadatan penduduknya. Dengan begitu, dari dampak gabungan epidemi demam berdarah dengan COVID-19 ini dapat berpotensi melemahkan kesehatan masyarakat di kota-kota tropis dan subtropis.

Data Pusat Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa tingkat kejadian demam berdarah sebanyak 6.122 kasus yang didominasi pada umur 16-44 tahun. Negara-negara seperti Bolivia, Honduras, Meksiko dan Paraguay telah melaporkan peningkatan dua atau tiga kali lipat jumlah kasus demam berdarah dibandingkan dengan periode yang sama dari tahun sebelumnya,  dan Asia Tenggara juga sedang berjuang melawan lonjakan kasus demam berdarah dan gelombang kedua varian Covid-19.

Infeksi Ganda

Pada tahap deteksi awal, demam berdarah dan COVID-19 sulit dibedakan karena memiliki kesamaan gambaran klinis dan laboratorium. Keduanya muncul dengan gejala demam yang tidak dapat dibedakan dengan tanda dan gejala karena tidak cukup spesifik. Parameter laboratorium menunjukkan persamaan, diantaranya limfopenia, leukopenia, trombositopenia, dan transaminase yang meningkat.

dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid melaporkan pasien yang pertama kali salah didiagnosis dengan demam berdarah karena tes serologi cepat dengue menunjukkan hasil positif. Lalu dikonfirmasi lanjut dengan rapid antigen dan PCR. Adanya kesalahan diagnosis Covid-19 sebagai DBD lantaran keliru saat mengisolasi pasien tersebut akan memicu wabah di pengaturan perawatan kesehatan kedepannya.

Gagal dalam mengenali demam berdarah dan menangani tepat waktu dapat menyebabkan kematian yang seharusnya dapat dicegah. Kesadaran yang tinggi akan demam berdarah dan penerapan tes serologi untuk membedakan demam berdarah dari Covid-19 harus dijadikan prioritas pada sistem perawatan Rumah sakit.

Hal yang sama dibutuhkan tindakan perlindungan pribadi dan universal dalam mencegah penularan SARS CoV-2 dan varian baru dari Inggris B117 dari Afrika Selatan B1315 dan Varian India B1617 yang diperkirakan lebih ganas dalam memakan korban jiwa.

Kesalahan diagnosis yang disebut sebagai Misdiagnosis terjadi karena reaktivitas silang serologi antara Covid-19 dan DBD pertama kali dilaporkan di Singapura dimana pasien dipastikan memiliki demam berdarah melalui dengue IgM dan IgG rapid tes serologis, tetapi kemudian ditemukan positif Covid-19 menggunakan tes RT-PCR.
Analisis RT-PCR berikutnya gagal untuk mendeteksi DENV dalam sampel urin dan darah, memastikan tidak adanya infeksi dengue pada masing-masing pasien.

Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya kemampuan reaktivitas silang serologis antara DENV dan SARS-CoV-2, khususnya ketika menggunakan tes berbasis serologi cepat, yang dapat menyebabkan tantangan yang signifikan di negara-negara endemik dengue di Asia. Seperti di Indonesia, belum ada laporan kesalahan diagnosis antara Covid-19 dan demam berdarah dalam literatur. 

Tetap Taat Aturan

Meskipun saat ini staf kesehatan masyarakat di banyak negara  berfokus dalam penanganan COVID-19, akan tetapi setiap individu sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan langkah-langkah pengendalian nyamuk selama pandemi.

Memaksimalkan penyemprotan dalam ruangan, JUMANTIK, biolarvasida, dan tindakan 3M Plus di tingkat rumah tangga atau dapat pula menggabungkannya dengan kegiatan deteksi kasus untuk COVID-19. Mengingatkan selalu pesan kesehatan untuk patuh protokol kesehatan dan menjaga kebersihan lingkungan dari genangan air sebagai wujud  tindakan pengendalian vektor. 

Saat lockdown diterapkan, diharapkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengendalian nyamuk harus diperkuat. Penularan demam berdarah di dalam dan sekitar rumah dianggap sebagai faktor pendorong wabah demam berdarah.
Di Indonesia sendiri kasus DBD terbanyak adalah secara eksklusif didiagnosis dengan tes serologi cepat IgM dan IgG, jika tidak terdiagnosis secara klinis.

Oleh karena itu, mungkin saja ada kasus Covid-19 di antara pasien yang didiagnosa demam berdarah juga. Ditambah dengan akses pengujian Covid-19 di Indonesia yang masih menjadi tantangan besar, kurangnya laboratorium yang memadai di seluruh wilayah dan tingkat pengujian yang rendah dapat menghambat diagnosis dan penanganan pasien  DBD dan terinfeksi Covid-19 juga. []

Editor:
Iklan Idul Adha Bupati Abes
Iklan Idul Adha Gub Aceh