Breaking News

USK dan Masyarakat Panen Raya Nilam di Ranto Sabon

USK dan Masyarakat Panen Raya Nilam di Ranto SabonPanen Raya Nilam di Ranto Sabon
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, beserta Tim Atsiri Research Center (ARC) USK, yang dipimpin Dr. Syaifullah Muhammad., M.Eng, ikut dalam panen raya Nilam bersama masyarakat Ranto Sabon, Aceh Jaya, Minggu (28/2/2021). Dalam penen raya tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Bank Indonesia, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DPMG) Aceh, Camat Kecamatan Sampoiniet, Danramil, Keusyih dan perangkat desa lainnya.

RUANGBERITA.CO I Aceh Jaya - Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, beserta Tim Atsiri Research Center (ARC) USK, yang dipimpin Dr. Syaifullah Muhammad., M.Eng, ikut dalam panen raya Nilam bersama masyarakat Ranto Sabon, Aceh Jaya, Minggu (28/2/2021). Kehadiran USK kata Taufik, sekaligus memberikan pendampingan bagi masyarakat petani Nilam di Ranto Sabon, yang sudah berjalan sejak 2019 agar berhasil dan tepat sasaran.

“Universitas Syiah Kuala, akan senantiasa memberikan dukungan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan baik itu penelitian maupun pengabdian agar masyarakat agar dapat terus berkembang dan mandiri secara ekonomi. USK berkomitmen memberikan pengetahuan, teknologi, SDM bahkan pendanaan untuk mengembangkan berbagai inovasi hulu-hilir industri nilam Aceh” ujar Taufik.

Taufik mengatakan, hasil panen ini juga sekaligus menjadi bukti bahwa bertani Nilam hari ini, tidak bisa hanya sekedar bermodalkan ilmu praktek turun temurun. Dengan diberikan berbagai intervensi baik dari segi kualitas tanah, bibit, perawatan, panen, hingga penyulingan, perekonomian masyarakat sangat berpotensi untuk dapat ditingkatkan. Karena itu, masyarakat diharapkan mau bekerja lebih giat, menerapkan parktik pertanian yang baik, dan tetap berdoa kepada Allah agar kegiatan bertani Nilam di masa yang akan datang akan membawa kebaikan bagi masyarakat dan alam sekitar.

Hal ini turut diperkuat Dr. Syaifullah Muhammad, Kepala ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala. Menurutnya, sejak 2019 ARC Universitas Syiah Kuala bersama Bank Indonesia Perwakilan Aceh telah mengembangkan Program Local Economic Development (LED) Nilam di Desa Ranto Sabon Kecamatan Sampoinet Aceh Jaya. Ada tiga tahapan awal pengembangan Desa Nilam Ranto Sabon yaitu pada 2019 fokus pada penguatan sektor hulu terkait pembibitan, pengembangan budidaya dan pembangunan pusat pembelajaran Nilam masyarakat. Dilanjutkan pada 2020 penguatan budidaya dan hilirisasi produk turunan dan 2021 penguatan kelembagaan desa dan komersialisasi produk desa dengan media desa wisata nilam Ranto Sabon.

“Penting ada kerja sama antara masyarakat, dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi dan media. Kerjasama ini menjadi kunci dari segala keberhasilan. “Jaga persatuan, hindari perpecahan. Perbesar persamaan, perkecil perbedaan. Tingkatkan pikiran positif, hilangkan pikiran negatif, dan keberhasilan akan bersama kita” kata Syaifullah.

“Sejak intervensi berbagai program yang dilakukan ARC bersama dunia usaha dan pemerintah, harga minyak nilam sudah stabil dan cenderung meningkat dalam 5 tahun terakhir. Kestabilan harga ini karena ekosistem bisnis menjadi lebih damai dengan konsep blue ocean, dimana inovasi pada rantai pasok dan nilai nilam dikembangkan menjadi lebih luas. Budidaya digalakkan, kualitas penyulingan dan pemurnian dikembangkan, produk turunan diberbanyak masuk ke market melalui digital marketing, serta SDM dan riset terus dikembangkan. Ini semua berkontribusi positif untuk tataniaga komoditas unggualan daerah Aceh yang lebih baik” ujarnya lagi.

Ia juga menekankan, untuk kepentingan rakyat, sudah seharusnya semua stakeholders berkompromi dengan berbagai perbedaan. Silahkan berbeda dan berdebat, tapi leburkan perbedaan itu ketika kepentingan rakyat harus diperjuangkan. Persoalan kemiskinan Aceh begitu mencuat saat ini, harus dihadapi secara bersama-sama oleh semua elemen masyarakat dan pemimpin Aceh. Aceh tidak kurang uang. Aceh tidak kurang orang pintar, yang kita kurang adalah saling memahami, mengalah untuk kepentingan masyarakat kita. Kita harus belajar mengalah” tutup Syaifullah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh (DPMG), Azhari., S.E., M.Si,  yang ikut berhadir dan berdiskusi kepada masyarakat petani Nilam di Ranto Sabon, menyampaikan, bahwa salah prioritas utama DPMG saat ini adalah untuk menguatkan BUMG di seluruh Aceh agar memberi nilai tambah ekonomi kepada masyarakat.

 “Isu utama hari ini di Aceh adalah persoalan kemiskinan, kami berharap BUMG Ranto Sabon dapat menerapkan iptek yang dibina oleh ARC untuk mengelola budidaya nilam hingga pengembangan produk turunannya. Saya pikir, gampong yang sudah memilik produk sendiri merupakan salah satu gampong yang menunjukkan kegigihan dalam berusaha. Jika masyarakat sudah berkomitmen, kami pun siap mendedikasikan waktu, tenaga, dan kemampuan kami untuk mendukung masyarakat.’ Ujar Azhari

Panen Raya ini dihadiri oleh perwakilan dari USK, Bank Indonesia, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong (DPMG) Aceh, Camat Kecamatan Sampoiniet, Danramil, Keusyih dan perangkat desa lainnya. Acara dimulai dengan pemotongan tanaman Nilam secara simbolis dilanjutkan dengan diskusi dan makan siang bersama serta berlanjut dengan FGD terkait pengembangan desa wisata nilam/desa inovasi Ranto Sabon.

‘Kita sangat berbahagia, walaupun ada beberapa penyakit Nilam yg muncul, namun panen Nilam kali ini hasilnya sangat memuaskan. Dengan beberapa intervensi yang kami berikan, tanaman Nilam hari ini beratnya sampai 7-8 kg per pohon. Ini 3-4 kali lipat dibandingkan panen biasanya”, Ujar Prof. Rina Sriwati, salah satu pengurus Atsiri Research Centre USK yang juga merupakan ahli bidang penyakit tanaman.

Hal senada juga disampaikan Camat Sampoinet, Syarkani. Ia menyampaikan kegembiraan dan dukungan penuh dari pemerintah baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten untuk usaha yang telah dilakukan ARC bersama BI Aceh dalam mengembangkan ekonomi lokal masyarakat berbasis tanaman Nilam.

 “Pada rapat terakhir dengan pak sekda telah disetujui untuk membuat masterplan pengembangan desa ranto sabon sebagai desa wisata nilam. Dan juga akan dilakukan peningkatan beberapa fasilitas jalan untuk memperlancar transportasi ke Ranto Sabon”, jelas Syarkani.

Untuk diketahui, pada panen raya ini juga dilakukan pembelian minyak nilam yang telah disuling oleh masyarakat Ranto Sabon oleh Koperasi Inovac yang bekerjasama dengan Perancis. Minyak nilam masyarakat dibeli dengan harga Rp.700.000 sampai Rp. 750.000 per kilogram sesuai dengan kualitasnya.

 

Editor:
Iklan Biro Pengadaan Barang dan Jasa
DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan
Iklan Badana Pengelola Keuangan Aceh