Breaking News

United Nation Peacemaker Day, Tak Butuh Sekadar Celebration but Real Actions!

United Nation Peacemaker Day, Tak Butuh Sekadar Celebration but Real Actions!Foto: Ilustrasi (Shutterstock)

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

Ada dua peristiwa penting yang diperingati Indonesia pada 29 Mei 2021, yakni Hari Lansia Nasional dan United Nation Peacemaker Day.

United Nation Peacemaker Day, hari Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa Internasional, yang jatuh pada tanggal 29 Mei merupakan hari untuk membayar penghargaan semua pria dan wanita yang telah melayani dan terus melayani dalam operasi penjaga perdamaian PBB untuk tingkat profesionalisme, dedikasi, dan keberanian mereka yang tinggi dan untuk menghormati kenangan dari orang-orang yang telah kehilangan nyawa mereka di jalan perdamaian.

Peringatan hari tersebut dikukuhkan oleh Majelis Umum PBB Resolusi 57/129, pada tanggal 11 Desember 2002 setelah permintaan resmi dari Asosiasi Pasukan Penjaga Perdamaian Ukraina dan Pemerintah Ukraina ke Majelis Umum PBB dan pertama kali dirayakan pada tahun 2003.

Tanggal 29 Mei menandai ulang tahun pembentukan Organisasi Pengawasan Gencatan Senjata PBB (UNTSO), pada tahun 1948 untuk memantau gencatan senjata setelah Perang Arab-Israel 1948, yang merupakan misi penjaga perdamaian PBB yang pertama kalinya.

 Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, pada tahun ini menyampaikan pendapatnya, Penjaga perdamaian PBB membantu memelihara perdamaian di beberapa tempat paling berbahaya di dunia. Hari ini dan setiap hari, kami menghormati dedikasi dan keberanian pemelihara perdamaian kami dalam membantu masyarakat berpaling dari perang dan menuju masa depan yang lebih aman dan stabil. Dan tema tahun ini adalah "Jalan menuju perdamaian abadi: Memanfaatkan kekuatan pemuda untuk perdamaian dan keamanan."

Saat ini, puluhan ribu penjaga perdamaian muda (berusia antara 18 dan 29 tahun) telah dikerahkan di seluruh dunia dan memainkan peran utama dalam membantu misi melaksanakan aktivitas yang diamanatkan termasuk perlindungan warga sipil. Dan operasi perdamaian PBB ini sejalan dengan serangkaian resolusi Dewan Keamanan yaitu  meningkatkan kerjasama mereka dengan kelompok pemuda dan pemuda untuk membantu membangun perdamaian berkelanjutan dan melaksanakan mandat mereka di lapangan.

Mengapa pemuda? Bisa jadi karena mudah dibina dan idealismenya sangat tinggi. Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat,  sekaligus mantan prajurit pasukan perdamaian, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),  ia memberikan penghormatan untuk pasukan perdamaian PBB yang bertugas menjaga perdamaian dan melindungi masyarakat sipil di daerah konflik.

"Kita bangga, lebih dari 2.800 di antaranya adalah prajurit Indonesia, mengemban amanah konstitusi ikut serta menjaga perdamaian dunia," katanya dilasir dari okezone.com, Sabtu (29/5/2021).

Sebagai veteran pasukan perdamaian ia mendukung penuh kontribusi bangsa bagi terwujudnya perdamaian dunia. "Tugas mulia yang tentunya tidak mudah dilakukan. Saya doakan semoga seluruh pasukan perdamaian yang bertugas, sukses menjalankan misinya. Respect to all my fellows blue helmet!," tegasnya (okezone.com,29/5/2021).

Tema peringatan "Jalan menuju perdamaian abadi: Memanfaatkan kekuatan pemuda untuk perdamaian dan keamanan." Terkesan sangat ambigu, benarkah PBB akan mampu menjadi pelopor jalan menuju perdamaian abadi? Melihat fakta yang kini terjadi saja, yaitu penjajahan Israel kepada Palestina PBB hanya sebatas mengecam keras, begitu pula PBB tak mampu menggalang suara kepada dunia untuk kemudian mengirimkan pasukan atau setidaknya membantu pihak PBB untuk mengenyahkan zionis Israel.

Jangankan perdamaian abadi, yang ada di dunia hari ini adalah munculnya dua kubu, pembela Palestina dan pembela Israel. Masing-masing saling menyerang dan inilah faktanya sebagai akibat sekatan nationalisme , dengan asas sekularisme, bahkan tanpa perasaan memfitnah kelompok-kelompok dakwah di masyarakat. Mengkriminalisasikan ide Khilafah sebagai ide terburuk.

Padahal jika organisasi perdamaian dunia sekelas PBB saja tak mampu mewujudkan perdamaian hakiki, bukankah itu saatnya kita beralih strategi? Untuk apa terus menerus mengharap kepada PBB, ini bukan perkara permaianan, di negeri-negeri yang hari ini dilanda konflik hidup mereka bak di ujung tanduk, nyawa manusia tak ada harganya, sewaktu-waktu bisa melayang tanpa ada pembelaan.

Dan inilah sesungguhnya yang hendak terus dipelihara, suasana konflik, sebab di dalamnya ada banyak manfaat terutama bagi negara kapitalis semacam Amerika, adalah sangat mudah mengendalikan PBB untuk menghapus Israel misalnya, atau meminta pemerintah Myanmar menghentikan penyiksaan ya terhadap minoritas Muslim, atau Xinjiang, kamp konsentrasi bagi kaum Muslim terdeteksi oleh citra satelit Amerika dengan mudah, namun inilah fakta keji itu, atas nama perdamaian dan peri kemanusiaan hanyalah jargon kosong.

Terlebih dunia barat telah sukses memecah dunia menjadi negara bangsa, yang memiliki kemerdekaannya sendiri, kepala negaranya sendiri bahkan sistem kenegaraannya sendiri, sehingga empati akan perikemanusiaan telah mati sejak lama.

Saatnya seluruh umat di berbagai belahan dunia ini sadar, bahwa United Nation Peacemaker Day tak lebih ceremonial PBB, secara teknis mereka tak punya kuasa hakiki mengubah strategi dunia, konstalasi politik negara-negara di dunia ini sejatinya telah tunduk kepada hegemoni Amerika sebagai negara ula. Jika kita ingin perdamaian hakiki terwujud maka haruslah negara berhadapan dengan negara, sistem dengan sistem, dan itu Islam. Wallahu a' lam bish showab. []

Editor: