Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Tsunami dan Konflik Aceh Silam, Bekal Kekuatan Hadapi Pandemi Covid-19

Tsunami dan Konflik Aceh Silam, Bekal Kekuatan Hadapi Pandemi Covid-19

Oleh : Ulul Azmi (Bendahara Umum Fokusgampi Banda Aceh)

Peristiwa Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 dicatat sebagai bencana alam terparah selama sejarah modern. Dilain sisi Tsunami menjadi momen untuk menginisiasi perdamaian bagi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia.

Bencana Tsunami hingga Proses perdamaian Aceh tak bisa berlangsung ideal tanpa adanya kesadaran sejarah di benak masyarakat. Semua pihak, baik mereka yang pernah bergelut pada masa lalu maupun generasi saat ini, penting merawat ingatan kolektif mengenai dampak konflik dan Tsunami yang pernah menggerus banyak sendi kehidupan di Aceh. Salah satu yang penting dijadikan refleksi 16 tahunan yakni rentang masa pemberlakuan Darurat Militer (DM) dan Tsunami di Aceh, 2003-2004 silam.

Atas dasar tersebut masyarakat Aceh masih dihantui oleh perasaan trauma, walaupun sebagian telah menjadi bekal dan peningkatan mentality pribadi masyarakat Aceh ketika dilanda bencana baru seperti pandemi Covid-19 yang akhir-akhir ini telah meresahkan dunia.

Bahkan Setiap pribadi dewasa di Aceh pernah mengalami tiga peristiwa besar dalam hidupnya saat ini, yaitu periode konflik bersenjata, bencana gempa dan tsunami 2004 serta Covid-19.

Aceh adalah provinsi yang rawan terhadap bencana, Hal itu disebabkan karena kondisi geologi dan geografi Aceh berada di jalur cincin api (ring of fire) yang menyebabkan beberapa gunung api, dan zona subduksi menjadi pusat gempa bumi dan tsunami.

Dari sisi hidrometeorologi, Aceh juga rentan terhadap banjir bandang, longsor, banjir luapan, dan kekeringan. Sederet fenomena alam ini, telah menjadikan masyarakat Aceh akrab dengan berbagai bencana yang datang silih berganti.

Sehingga pemahaman terhadap bencana sangat penting guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi setiap ancaman bencana alam. Selain itu, banyak hal terkait indikasi akan datangnya bencana juga harus terus digali agar masyarakat lebih paham.

Selanjutnya kita harapkan kepada pemerintah dan BRR seusai bencana tidak hanya membangun sarana fisik, tapi masalah non fisik terkait dengan mengatasi trauma korban konflik, Tsunami hingga covid19 juga menjadi prioritas yang harus difikirkan secara berkesinambungan.