Breaking News

Tgk Asnawi: Ibadah Kurban Momentum Menyembelih Egoisme Millenial

Tgk Asnawi: Ibadah Kurban Momentum Menyembelih Egoisme Millenial
Tgk Asnawi M Amin

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh--Tahun ini pelaksanaan ibadah Idul Adha masih dalam masa Pandemi Covid-19. Idul Adha dengan momentum ibadah kurban merupakan sebagai simbolisasi penyembelihan ego dan kerakusan pribadi, selain sebagai saat turunnya ayat terakhir Al Qur'an "alyauma akmaltu lakum dinakum.....(hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu), satu hari sebelum wukuf di Padang Arafah. Juga Idul Adha identik dengan ibadah kurban yang diajarkan Nabi Ibrahim sangat kontekstual dengan situasi kita saat ini. 

"Ibadah kurban (mendekatkan diri) kepada Allah melalui penyembelih hewan-hewan tertentu, sangat erat kaitannya dengan dimensi sosial," ungkap Tgk Asnawi M. Amin selaku Sekretaris PWNU Aceh melaui WhatsApp kepada ruangberita.co, Rabu, (21/7)

Menurut Tgk. Asnawi, ibadah kurban pemahaman kita tidak berhenti sebatas penyembelihan hewan kurban sebagai "ritual ceremony" belaka. Kemudian hewan yang disembelih akan menjadi "tunggangan" menuju sorga dan seterusnya. Sejatinya ada pesan terdalam dari praktik berkurban, yaitu agar manusia mampu mengendalikan egonya yang disimbulkan oleh binatang. Ego yang selalu ingin "menguasai" kehidupan manusia harus "disembelih". Jangan biarkan ego kita menguasai diri sehingga mengendalikan kehidupan kita.

"Era Pandemi Covid-19 di Era Millenial, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berkali-kali berkurban namun esensianya belum kita realisasi dalam keseharian. Betapa banyak orang terjerumus nista karena menuruti egonya. Secara psikologis, ego adalah kekuatan dalam diri manusia yang cenderung menyukai pada kesenangan jasmani dan menuruti kehendak jahat (dosa). Dalam istilah psikologi sufi disebut "nafs al-ammarah" (jiwa tirani)," sambung putra kelahiran Pidie Jaya itu.

Pria yang pernah menakjodai PW Ansor Aceh, Era Pandemi Covid-19 dalam kondisi PPKM Darurat, beragam ego yang harus kita prioritaskan untuk "disembelih" termasuk ego hoaxer.

"Diantara ego Pandemi Covid-19 yang harus disembelih yakni ego untuk tidak menyebarkan berita-berita hoaks tentang Covid-19 yang membuat banyak orang resah. Apapun profesi kita, tidak seharusnya memproduksi, menyebarkan, dan memprovokasi berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik secara keilmuan maupun etika bermasyarakat," lanjutnya.

Lebih lanjut, Tgk Asnawi menambahkan, Jika ada masyarakat tidak percaya Covid-19 dan tidak mau mengenakan masker, jangan membuat provokasi di ruang publik. Keyakinan anda yang diviralkan itu adalah "binatang" yang perlu disembelih. Menyembelihnya tidak cukup sekali, tapi berkali-kali agar masyarakat tidak termakan oleh perilaku sembrono.

Demikian juga jika ada berita yang bertentangan dengan pendapat mainstream, coba resapi, dalami, dan renungkan, apakah informasi itu sudah benar? Lakukan proses filtering informasi agar tidak kontraproduktif bagi lingkungan. 

"Selanjutnya, ego lainnya yang harus disembelih, jika kita merasa sebagai orang yang mengerti agama, katakanlah tokoh agama, janganlah mudah menuduh orang lain, pihak lain atau pemerintah salah, dan menganggap pendapatnya paling benar terkait dalam penyikapan terhadap Covid-19. Ego merasa "paling" adalah berhala atau binatang dalam diri kita yang harus disembelih," pintanya. [•]

Iklan Idul Adha Bupati Abes
Iklan Idul Adha Gub Aceh