Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Tafakur Sesaat Lebih Baik Ketimbang Ibadah 60 Tahun Lamanya?

Tafakur Sesaat Lebih Baik Ketimbang Ibadah 60 Tahun Lamanya?

Melepas kelelahan dan kepenatan dalam keseharian terkadang kita merealisasikan dengan refreshing atau rekreasi atau dalam bahasa lain dikenal dengan trevelling. Keberadaan Traveling juga bisa menjadi sarana dakwah. Itulah yang dilakukan para pendahulu kita, bahkan sejak zaman para Nabi. Di sisi lain kita juga harus mengambil pelajaran dari apa yang sudah kita lakukan dengan traveling, alangkah baiknya disaat kita traveling kita mengingat akan kebesaran tuhan yang maha esa, dan semua itu tertera di ayat suci Al-Qur’an berikut ini:

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
(Al-Mulk: 15)

Trevelling merupakan bagian dari tafakur intinya memikirkan secara mendalam tanda-tanda kekuasaan Allah. Tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi, langit, dan di antara keduanya. Rasulullah SAW bersabda, "Tafakur satu jam lebih baik ketimbang ibadah 60 tahun lamanya." (Antara lain termaktub dalam kitab Nashaih al-Ibadkarya an-Nawawi al- Bantani).

Ali bin Abi Thalib RA berkata, "Tidak ada ibadah yang semisal dengan tafakur. " Ahli ma'rifat berkata, "Tafakur itu ibarat lampion bagi hati. Jika ia sirna, sirna pula penerang baginya." Selanjutnya salah seorang ulama lainnya Al-Hifni berkata, "Tafakur mengenai ciptaan Allah seperti mengerikannya detik-detik sakarat al-maut, beratnya siksa di alam kubur/barzah, dan mencekamnya suasana pada hari kiamat jauh lebih baik dari ibadah lantaran di dalamnya terkandung banyak kebaikan."

Metode tafakur itu terbilang banyak. Tetapi, yang paling baik adalah tafakur tentang ayat-ayat Allah. Dengan pengertian, memikirkan secara mendalam keajaiban-keajaiban ciptaan Allah di bumi, langit, dan di antara keduanya. Banyak kalam Allah yang menyeru kita untuk memikirkan secara mendalam ciptaan-Nya.

Allah SWT berfirman, "Maka, apakah mereka tidak memerhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagai mana ia ditinggikan? Dan gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?" (QS al-Ghasiyah [88]: 17?20)

Seseorang yang bertafakkur (merenung)tentang banyak hal yang bisa membuat kesadaran kita, keimanan kita dan semangat kita hadir kembali juga sebagaimana di ungkapkan dalam firman-Nya:"Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 4). Prosesi dan hasil Tadabbur mampu menghanyutkan sang pentadabbur dan menerobos kerikil dan jurang hati yang telah berantakan dan ternoda oleh dosa menuju ke arah revolusi dan manajemen qalbu yang fitrah (suci). Ekses tadabbur mampu melahirkan singasana qalbu kembali menjadi khusyu’, mutmainnah (tenang dan tentram).

Destinasi akhir dari tafakkur dan tadabbur ini bertujuan agar keimanan kita meningkat. Sedangkan Objek tafakkur yang kedua adalah berupa alam atau ayat kauniyah. Terlebih kondisi sekarang dengan "demam" pilkada, sehingga sebagian saudara kita terbawa oleh hawa nafsu dan keegoisme sehingga menabrak dinding hukum Allah dan Rasul plus hukum ulil amri ( pemerintah) sendiri yang telah di rancang secara khusus.

Berbagai fenomena dan sepak terjang kita juga menjadi sebuah renungan dengan mensikronisasi dengan ayat-ayat qauniah yang tidak tertulis. Dengan seringkali mengangkat fenomena ayat kauniyah, untuk membantu dan mendorong manusia agar bertafakkut dan merenung, muaranya sakan lahir rasa dan keyakinan tentang keagungan dalam dirinya. Dikala itu rasa itu telah terpatri dalam relung qalbu yang dalam, kita sandarkan dengan diri kita yang di lemuri dosa dan noda disertai untaian air mata penyesalan.

Menurut Imam Syafi’i, jalan-jalan itu ada manfaatnya:Pertama, semua kesedihan akan hilang. Jika sedang sumpek, jangan berdiam di rumah saja, tetapi pergilah keluar rumah, jalan-jalan. Pergilah ke suatu tempat dan lihatnya keadaan kaum muslimin di situ, carilah pengalaman. Kedua adalah akan muncul ide-ide karena sering berinteraksi dengan orang lain selama di perjalanan.

Beranjak dari itu mari kita memperbanyak bertafakkur sebagai sarana untuk merenungkan diri dan mengoreksi kesalahan. Bertafakkur dengan melihat keindahan alam sehingga lahirlah sikap mengenal diri meraih ridha ilahi. Amin

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Ketua Ansor Pidie Jaya