Breaking News

Semangat Kemerdekaan; Menumbuhkan Aktivitas literasi Selama Pandemi

Semangat Kemerdekaan; Menumbuhkan Aktivitas literasi Selama PandemiFreepik

Sudah menjadi fakta selama sekolah diliburkan dan pembelajaran dialihkan ke sistem daring membuat kondisi pembelajaran tidak berjalan maksimal.

Kebanyakan anak yang masih wajib belajar justru memanfaatkan waktu bermain game saban hari di rumah dibandingkan melakukan kegiatan membaca buku. 

Kegiatan literasi selama pandemi tidak menjadi prioritas ; anak dan orang tua sibuk dengan kegiatan "unfaedah", bermain game dan orang tua sibuk menonton youtube prank artis.

Apabila minat baca rendah, kebodohan bisa menjadi ancaman jangka panjang bagi bangsa kita. “ Bom waktu wabah kebodohan" siap meledak kapan saja.

Nah, moment 17 Agustus mari manfaatkan semangat kemerdekaan kita untuk menumbuhkan literasi, karena Indonesia merdeka digerakkan oleh para pejuang bangsa yang melek ilmu pengetahuan, sudah banyak tercatat dalam sejarah pahlawan bangsa yang punya hobi membaca buku dan menulis.

Dua Pahlawan Inspiratif.

Yuk, agar menumbuhkan semangat literasi, kita perlu sekilas mengenal kepada founding father bangsa Indonesia yang dikenal punya hobi membaca dan menulis yaitu Bung Hatta Dan Haji Agus Salim.

Bung Hatta tokoh bangsa yang pernah merasakan kehidupan pengasingan akibat menentang pemerintah kolonial, Bung Hatta diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Boven Digul Meurauke yang merupakan daerah terpencil ketika itu, dimana sebuah 'penjara' yang jerujinya hanya di batasi oleh Hutan belantara.

Kehidupan pengasingan membuat semua orang pasti merasakan gejolak jiwa karena di rundung rasa sepi. Dikalangan tahanan politik Digul, "malarindu" menjadi momok menakutkan selain penyakit malaria.

Muncul pertanyaan dibenak kita, bagaimana kondisi Bung Hatta ketika itu agar bisa melampiaskan rasa kesepian selama masa penahanan ? Jawabannya, terletak pada sifat "kutu buku" dari seorang Bung Hatta.

Disaat pengasingan Bung Hatta membawa semua buku-bukunya dari penjara ke penjara terpencil -Digul sampai Banda Naira-

Kerajingan membaca buku memberi keuntungan tersendiri bagi Bung Hatta untuk mengatasi penyakit kesepian akibat merindukan teman-teman seperjuangan dan kerabat. Hingga ada sebuah qoute terkenal dari Bung ;

"Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas".


Kemudian tentang Haji Agus Salim beliau merupakan tokoh bangsa yang semua orang sudah pasti mengenalnya, Agus Salim terkenal sebagai politisi, ulama dan diplomat handal.

Agus Salim bukan hanya terkenal sukses sebagai tokoh pergerakan bangsa namun juga sukses mendidik anak-anaknya secara mandiri (home schooling).

Di dalam catatan biografi beliau dituliskan, dari 8 anaknya semua berhasil mendapatkan pendidikan yang melampaui ilmu di sekolah formal.

Haji Agus Salim seorang poliglot -orang yang mampu menguasai sejumlah bahasa-,

Melalui tempaan pendidikan di rumah rupanya bakat poliglot itu bisa diturunkan ke anaknya.

Agus Salim dan istri ikut sama-sama berperan dalam mendidik anaknya, tugas mendidik anak itu dilakukan secara bergantian di tengah kesibukan sebagai aktivis pergerakan.

Metode pendidikan Agus Salim kepada anak-anaknya tergolong sangat sederhana. Agus Salim mendidik anak tanpa paksaan dan menyenangkan, semua disiplin ilmu diajarkan seperti matematika, bahasa, sejarah, agama dan budi pekerti.

 

Iklan Biro Pengadaan Barang dan Jasa
DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan
Iklan Badana Pengelola Keuangan Aceh