Breaking News

Santri Aceh yang Menjadi Kritikus Film

Santri Aceh yang Menjadi Kritikus FilmFoto Pribadi

Kehidupan paska damai di Aceh memberikan pencerahan dan ghirah terhadap basis intelektual di kalangan anak muda. Beragam komunitas intelektual pun muncul di tengah publik Aceh, seperti akademisi pemikiran, filsafat, politik, seni dan kebudayaan.

Bicara soal politik di Aceh itu sudah sangat biasa, perdebatan dan diskusi-diskusi politik lazim terjadi dimanapun bahkan di warung kopi. Tetapi ketika kita berbicara tentang film dokumenter baik kritikan maupun produktivitasnya. Walaupun terbatas, ini menjadi hal unik dan menarik untuk diulas.

Salah satu sosok anak muda Aceh yang bergelut di bidang film dokumenter ialah Akbar Rafsanjani, pemuda kelahiran Garot, Kab Pidie.

Kesehariannya diisi dengan kegiatan berdagang di siang hari, belajar dan mengajar mengaji di pagi dan malam hari. Percaya atau tidak, pemuda yang akrab disapa Akbar ini adalah lulusan santri di dayah ternama di Pidie.

Ketertarikan Akbar di bidang perfilman sejak di bangku sekolah. Setiap film yang selesai ditonton selalu tidak lupa dicatat, ketika itu ia belum tahu istilah mengenai review atau sinopsis film. “yang penting di catat dulu” begitu penuturannya kepada ruangberita.co.

Kebiasaannya “mencatat” alur cerita film mempengaruhi cara pandang terhadap fenomena di ranah sosial. Baginya, media tulis bukan satu-satunya media yang bisa kita gunakan untuk menyampaikan informasi apapun. Ada media visualisasi, yaitu film sebagai salah satu opsi untuk menyampaikan informasi dengan cara yang berbeda.

Keaktifannya di dunia film dokumenter terjadi di tahun 2014 ketika mengikuti Aceh Documentary Competition 2. Partisipasinya di kegiatan ini dilandasi oleh ketertarikan untuk mengangkat cerita tentang pengajian Al Qur'an di Blang Asan Kota Sigli yang masih menggunakan cara belajar Baghdadiyah. -Baghdadiyah merupakan metode belajar dasar Al Qur'an model klasik-.

Menurutnya, ini informasi yang menarik mengingat metode belajar Al Qur'an seperti itu sudah sangat jarang di praktekkan, apalagi di Kota.

Film yang digarap saat itu berjudul “Tgk Rangkang - guru di balai pengajian tingkat dasar-“.Meskipun pemula, namun Film ini berhasil masuk 5 finalis dan mendapatkan penganugerahan terbaik, sehingga pemutaran filmnya sampai ke Universitas Kebangsaan Malaysia.

selain prestasi tersebut, kebanggaan lainnya adalah pemberian beasiswa sekolah film dari Aceh Documentary di Banda Aceh. Sejak itulah Ia banyak belajar tentang sinematografi, skrip dan editing.

Batu loncatan.

Setelah Akbar mulai aktif dalam dunia sineas di Aceh, ia pada tahun 2015-2017 sudah menjadi supervisi bagi junior yang ingin belajar pembuatan film dokumenter. Disela aktif sebagai supervisi, pada suatu even di Aceh Festival Film di Banda Aceh dan kebetulan bersamaan juga diselenggarakan kelas kritik film.

Selaku panitia, Akbar menyempatkan mencuri waktu agar bisa belajar tentang kritik film yang diasuh oleh seorang kritikus film nasional Adrian Jonathan. Dikelas itu ia mendapatkan Ilmu mengenai musik, tari dan akting, nyaris pekerjaan kritikus film melampaui pekerjaan sutradara.

Memang menurut pengakuaannya, Akbar semenjak remaja sudah suka menulis dimana dan apa saja. Dari tahun 2009 sudah menyalurkan hobi menulis lewat blog, contohnya, mulai mereview film salah satunya The Da vinci Code, film itu dianggap kontroversial karena tidak terlepas polemik Kristologi yang disajikan di film itu.

Beberapa artikelnya tentang kritik film pernah dimuat di media massa, seperti film Surat Kaleng 1949 - dimuat di Serambi Budaya-, kemudian setelah itu dia mulai rutin menulis. 

Paling monumental yang dia ingat sebagai batu loncatan sebagai kritikus film, menulis kritik review film Angin Badai Ba sebuah film genre indie tentang latar belakang konflik Aceh, artikelnya itu berhasil dimuat di Nang Magazine Filipina.

Atas keberhasilan itu, Akbar mendapatkan undangan ke festival film Seashorts di Malaysia, festival film itu bisa dikatakan tempat berkumpulnya para sineas Asia. Akbar kebetulan juga menyempatkan diri bertemu dan berkenalan dengan akademisi Indonesianis film yaitu Thomas Barker.

Keberhasilan membangun relasi di level Internasional, Akbar dipilih menjadi kontributor di Indonesia untuk majalah sinema singapura Sindie.sg dan aktif sampai sekarang.

Beberapa tulisannya dalam bahasa Inggris terkait kritik film : Film Review: Help Is On The Way (2020), Angen Badee Ba : A Film and a Director Repressed by the Indonesian Military.

Prospek Film Dokumenter Di Aceh.

Akbar memberikan pendapat menyangkut prospek film dokumenter di Aceh, dalam pandangan dia, industri kreatif perfilman di Aceh sangat progres.

Selama ini komunitas film dokumenter Aceh tidak pernah absen mengikuti festival film di Indonesia. Industri film dokumenter di Aceh terbilang potensial, dalam 1 tahun 10 buah film dokumenter diproduksi. Di luar dugaan, bahkan diberikan apreasiasi oleh komunitas film dokumenter nasional.

Mengenai kekurangan film dokumenter di Aceh, dirasakan belum berhasil secara komersil karena para sineas Aceh belum terlalu meyakinkan bisa menguasai pasar, karena selama ini sebatas ditonton di bioskop alternatif.

Pekerjaan besar kedepan untuk seorang Akbar di industri kreatif film Aceh, "Mengajak kalangan sineas muda Aceh terus berkarya dan menghidupkan industri film dokumenter”.

Visi kedepan baginya ialah bisa menjebatani mereka sineas muda Aceh dengan sineas luar negeri. Memperkenalkan mereka ke para sineas luar negeri, memberikan informasi, mencari donatur untuk sebuah film, belajar menjadi co production dan bekerjasama dengan rumah produksi.

Iklan Biro Pengadaan Barang dan Jasa
DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan
Iklan Badana Pengelola Keuangan Aceh