Breaking News

Rosi Malia, Dedikasikan Hidup Cetak Perempuan Berdaya

Rosi Malia, Dedikasikan Hidup Cetak Perempuan Berdaya
Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Aceh, Rosi Malia, saat berkunjung ke kantor Ruangberita.co, di Banda Aceh, Sabtu, (27/2/2021).

Rosi Malia. Ia adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi dan memberdayakan perempuan-perempuan lainnya di Aceh. Belasan tahun ia persembahkan waktunya untuk menolong kaum hawa. Mulai dari janda hingga mereka yang berada dalam lapas agar berkemampuan melalui karya dan usaha.

"Alhamdulillah binaan kita sudah lebih 100 orang, itu untuk Banda Aceh saja. Kalau secara keseluruhan Aceh tentu lebih,"ujar Rosi, saat berbincang dengan Ruangberita.co, Sabtu pekan lalu.

Rosi, yang akrab disapa Osie, terlibat dalam pemberdayaan perempuan sejak ia aktif sebagai Ketua Yayasan Pemberdayaan Humanitas (YPH) pada tahun 2005 silam. Kemudian berlanjut di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan terakhir sampai saat ini aktif di organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Aceh.

Ya, Osie adalah salah satu wanita pengusaha di Aceh. Dan kini ia pun mengemban amanah sebagai Ketua IWAPI Aceh periode 2018-2023. Tugasnya di IWAPI, antara lain, mengedukasi perempuan untuk menjadi pelaku usaha yang tangguh, membina, mengembangkan, memberi permodalan dan mempromosikan usaha-usaha kaum perempuan.

Keinginannya melihat perempuan menjadi kaum tangguh adalah salah satu alasan yang mendorongnya untuk berjuang memberi pemberdayaan. Ia ingin perempuan di Aceh mampu berdikari, agar bisa keluar dari budaya patriarki sehingga dapat memberi ruang yang sama bagi wanita.

"Saya sering mengimbau kepada perempuan-perempuan agar jangan terlalu berharap banyak sama pria atau suami, karena suatu hari kita bisa saja ditinggal pergi ataupun ditinggal meninggal. So, kita perempuan harus mantap, karena kita menenteng anak-anak kita kalau pria tidak lagi bersama kita. Karena itu kita harus mandiri sebagai perempuan," ujar Osie sembari tertawa.

Perjuangan perempuan kelahiran Kota Sabang itu tidaklah sia-sia. Pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukannya bersama-sama kawan di IWAPI telah melahirkan banyak perempuan Aceh yang mandiri melalui berbagai usaha kecil hingga menengah.

"Sebagian dari mereka sudah banyak yang berhasil usahanya. Tentu saya ikut senang," kata perempuan yang memiliki keturunan Jepang itu.

Ketua IWAPI Aceh, Rosi Malia, bersama pengurus mengunjungi salah satu pelaku usaha kerajinan tas bordir khas Aceh yang menjadi binaan IWAPI, di Gampong Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Meskipun demikian, Osie mengaku, upaya memberdayakan perempuan di Aceh agar mau memulai usaha bukanlah hal mudah baginya. Ia juga mengalami berbagai tantangan dan kendala. Menurutnya keinginan untuk berjuang dan berusaha dalam jiwa sebagian perempuan di Aceh masih kurang. Selain itu, kekompakan untuk saling mendukung antar sesama perempuan juga belum begitu kuat.

"Di Aceh, rasa percaya diri perempuan untuk membangun usaha masih kurang, kadang-kadang mereka takut. Takut gak laku (produknya), padahal yang terpenting itu mencoba dulu sambil melihat kondisi pasar apa yang dibutuhkan pasar," kata alumni Universitas Syiah Kuala itu.

Bagi Osie, perempuan adalah makhluk yang unik. Mereka mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Contohnya saja mengurus rumah tangga, di samping mengurus suami, perempuan juga bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya. Karena itu, dengan segala kelebihan yang dimiliki perempuan, ia yakin harusnya mereka juga mampu untuk berkarya melalui usaha agar mandiri dan mensejahterakan keluarganya.

"Banyak sekali yang bisa dilakukan perempuan, apalagi hanya untuk melakukan sesuatu yang kreatif. Seperti membuat air minum yang menarik dan enak, dijual jadi uang. Tentu bisa membantu keluarganya," katanya.

Oleh sebab itulah, ia memfungsikan keberadaan IWAPI  untuk menyatukan antar sesama perempuan pelaku usaha. Di situ mereka akan saling membantu dan bahu-membahu, sehingga jiwa kewirausahaan perempuan terbangun melalui organisasi tersebut.

"Kita memang membina perempuan-perempuan dan  membangun jiwa kemandirian mereka. Jadi, Aceh ini tidak ada lagi yang namanya miskin lah kalau semua sudah berkarya, dan soal pasar, IWAPI sendiri selama ini juga ikut membantu pemasaran usaha dari perempuan pengusaha," kata Osie.

Di masa pandemi Covid-19 ini tantangan pembinaan dan pemberdayaan usaha yang digeluti kaum perempuan menjadi semakin berat bagi Osie. Wabah yang melanda seluruh penjuru dunia itu memberi dampak cukup signifikan terhadap perekonomian global, termasuk dunia usaha. Banyak usaha menjadi lesu dan sepi. Namun demikian, Osie dan teman-temanya tidak menyerah. Mereka bekerja dan memikirkan bagaimana usaha-usaha kaum perempuan di Aceh tetap survive di tengah gempuran Covid-19.

Salah satu satu strategi Osie bersama teman-temanya di IWAPI untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan penjualan secara digitalisasi. Ia membantu usaha para perempuan dipasarkan secara online. "Kami IWAPI membangun kerja sama dengan berbagai platform digital, seperti Toko Pedia, Facebook, Google, kita bekerja bersama mereka untuk membantu pemasaran."

Cinta Aceh

Usaha Osie memberdayakan kaum perempuan melalui dunia usaha tidak terlepas dari rasa cintanya terhadap tanah kelahiran, Aceh. Ia merasa sedih ketika data statistik menyatakan Aceh sebagai daerah termiskin di Sumatera. Padahal begitu banyak potensi yang dimiliki Aceh yang dapat dijadikan peluang.

Selain memberdayakan ekonomi perempuan melalui dunia usaha, untuk memajukan Aceh, Osie juga mendorong dan menggaet para investor untuk menanamkan modalnya di Aceh. Ia meyakini investasi dapat mengatasi berbagai persoalan Aceh. Utamanya terkait kemiskinan dan pengangguran.

"Tahun 2013 lalu saat krisis energi di Aceh, Alhamdulillah saya berhasil mendatangkan investor dari Malaysia untuk menanamkan modalnya membangun PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air ) Krueng Isep di Nagan Raya. Meskipun begitu banyak kendala yang saya hadapi, tapi demi Aceh saya berusaha dan berhasil," tutur penerima Anugerah Women Asean Award (WAA) dari Asean Women Entrepreneurs Network (AWEN) di Bangkok, Thailand itu.

Dalam perbincangan panjang dengan Ruangberita.co, Osie juga menjelaskan ihwal kecintaan dirinya terhadap dunia usaha yang sudah terbentuk sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sejak saat itu, ia sudah mulai menjual berbagai barang ke teman-temannya. Kemudian terus ia tekuni hingga menjadi salah satu wanita pebisnis yang sukses di Aceh. Kini ia membidangi berbagai usaha, mulai dari butik, parfume, pelaksana event organizer, proyek kelistrikan, hingga bergelut dengan ekspor dan impor.

"Saya yakin perempuan-perempuan lainnya di Aceh juga dapat bangkit dan berkembang. Peremuan harus menjadi komponen penting dalam pembangunan daerah ini, tidak ada yang tidak mungkin," ungkap Osie tentang tekadnya yang kuat. [•]

Selamat Hari Raya Diskominfo Aceh
Iklan Bank Aceh Selamat Hari Raya
Iklan Pemkab Pijay
Selamat Hari Raya Sekda Aceh