Breaking News

Risiko “Third-Hand Smoke”, Bahaya Baru Merokok

Risiko “Third-Hand Smoke”, Bahaya Baru MerokokFoto Ist (pngitem)

Oleh: dr. Zarra Masyithah1 dan Dr. Sofia S.Si., M.Sc2

Mahasiswa dan Dosen Pengajar Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Merokok merupakan salah satu akibat permasalahan kesehatan masyarakat yang utama. Bahaya merokok terhadap kesehatan sudah banyak diketahui. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2019, lebih dari sepertiga populasi dunia terpapar efek berbahaya dari asap rokok.

Di Indonesia, sekitar 225 ribu orang meninggal setiap tahun akibat penyakit terkait tembakau. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, jumlah perokok berusia >15 tahun adalah sekitar 33,8% dari seluruh populasi. Proporsi kebiasaan merokok dalam gedung atau ruangan sekitar 80,6% dengan sebagian besar merokok di rumah dimana anggota keluarga menjadi kelompok utama yang berisiko terkena paparan asap rokok.

Kandungan zat kimia yang ada di dalam rokok sangat berbahaya seperti ammonia, benzene, kadmium, sianida, folmaldehid. Zat kimia ini digunakan pada proses pencucian produk, pada bahan bakar, logam berat, digunakan pada senjata kimia, dan sebagai bahan dalam proses industri kimia. Selain itu juga ada bahan nikotin. Semua zat kimia ini dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit jantung, stroke, dan kanker paru. Asap rokok yang ada di udara ini dihirup oleh perokok aktif dan perokok pasif.  Istilah yang sering dikenal adalah "secondhand smoke” (SHS) atau “asap tangan kedua”, yaitu asap rokok yang dilepaskan ke udara yang dihirup kembali oleh perokok dan orang disekitarnya.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, telah ditemukan juga risiko bahaya lain dari asap rokok ini, yaitu dikenal dengan istilah “thirdhand smoke” (THS) atau “asap tangan ketiga”. Thirdhand smoke ini mulai menjadi perhatian dan telah digambarkan sebagai kontaminasi sisa dari asap rokok yang menempel pada lingkungan seperti dinding dan permukaan lain pada lokasi ada aktivitas merokok. Hal ini bisa didapatkan pada kain, perabot, dinding, tempat tidur, karpet, debu, kendaraan, dan permukaan lain saat ada aktivitas merokok sebelumnya.

THS mengandung sisa nikotin dan bahan kimia lain yang tertinggal di permukaan dalam ruangan oleh asap tembakau. Meskipun asap dari "perokok aktif" menghilang dari ruangan setelah waktu yang singkat, nikotin dan komponen lain dari asap cenderung melapisi permukaan ruangan yang bersentuhan dengan manusia setiap hari. Hal ini bisa ditemukan pada perabot rumah tangga ketika aktivitas merokok dilakukan, gorden, dan jok mobil.dan pada manusia itu sendiri termasuk kulit, rambut, dan pakaian yang terbuka.

Nikotin merupakan senyawa yang paling banyak dihasilkan selama merokok dan dapat menetap di suatu tempat selama beberapa minggu hingga bulan. Hasil penelitian yang diterbitkan pada tahun 2010 menemukan bahwa senyawa nikotin dalam asap tembakau akan bereaksi dengan asam nitrat di lingkungan untuk menciptakan racun berbahaya bagi mereka yang terpapar, yaitu Tobacco-Spesific Nitrosamine (TSNA) atau Nitrosamin-Khusus-Tembakau. TSNA merupakan zat karsinogen (penyebab pertumbuhan sel kanker) spesifik paru yang kuat dalam asap tembakau. Zat tersebut kemudian secara terus-menerus dipancarkan kembali ke udara dalam proses yang disebut "pembuangan gas”. Sebuah penelitian di Bangladesh, India menemukan tingkat TSNA yang tinggi pada produk tembakau merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya kejadian kanker saluran pernafasan dan pencernaan di Bangladesh.

Kelompok rentan seperti anak-anak dan orang dewasa yang tidak merokok berisiko mengalami masalah kesehatan dari asap rokok ini dari kegiatan mereka menghirup, menyentuh, atau menelan residu asap rokok tersebut. Para peneliti di Institut Kedokteran Reproduksi Universitas Nantong Tiongkok mendapati bahwa THS dapat memengaruhi fungsi normal dari organ tubuh seperti hati, paru-paru, otak, dan sistem kekebalan dan reproduksi manusia. THS dianggap berpotensi menyebabkan bahaya terbesar bagi bayi dan anak kecil karena kelompok usia ini cenderung sangat dekat dengan orang dewasa yang merokok melalui pelukan. Asap rokok yang masih menempel di kulit dan pakaian mereka akan terserap pada kulit anak. Kemampuan bayi menghirup 40 kali lebih banyak dari orang dewasa sehingga saat pelukan akan masuk partikel kimia dari sisa asap rokok yang menempel tadi. Aktivitas anak yang masih merangkak di lantai dan cenderung sering memasukkan tangan ke mulut tanpa mencucinya terlebih dahulu menyebabkan anak menelan racun dari sisa asap rokok tadi ke dalam sistem tubuh anak. Sebuah penelitian di Jakarta pada tahun 2019 didapatkan hampir dua pertiga bayi tinggal bersama ayah yang perokok.

Perpindahan partikel berbahaya dari sisa asap rokok ini ini juga dapat terjadi melalui perpindahan manusia antar ruang karena dapat ikut memindahkan residu THS. Sebuah tim peneliti di Universitas Yale Amerika Serikat menunjukkan bahwa THS dapat menyebar dalam jumlah besar ke dalam ruangan melalui manusia meskipun lingkungan bebas rokok. Penelitian menunjukkan bahwa jika seseorang berada di ruangan dimana tidak ada orang yang merokok, maka orang itu masih bisa terpapar senyawa kimia berbahaya dari rokok, tergantung pada siapa yang memasuki ruangan tersebut atau yang sebelumnya mengunjungi dia. Asap rokok dari “perokok aktif” dapat menempel pada tangan dan pakaian mereka lalu akibat perpindahan posisi, residu asap rokok dapat menempel pada perabotan, gorden, dinding, tempat tidur, karpet, kendaraan, dan permukaan lainnya.

Asap rokok tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dengan membuka jendela, menggunakan kipas angin dan AC, atau membatasi merokok hanya di area tertentu di rumah. Namun, tentu di ruangan yang kurang berventilasi baik seperti angkutan umum, kantor, dan rumah kemungkinan akan menghasilkan konsentrasi residu yang jauh lebih tinggi. Metode pembersihan tradisional juga tidak cukup menghilangkan residu asap rokok. Menyedot debu dan mengelap tidak sepenuhnya menghilangkan residu karena kemampuan nikotin untuk menyerap dengan kuat ke permukaan dan menembus bahan. Sebuah penelitian oleh Badan Riset Nikotin dan Tembakau pada tahun 2021 menemukan bahwa selama periode 4 bulan sebelum pembersihan, kadar nikotin di permukaan tetap tidak berubah.

Kondisi di atas sangat memprihatinkan bagi kesehatan masyarakat. Upaya untuk menanggulangi hal ini harus segera dilakukan. Pemerintah Aceh sebagai daerah yang memperhatikan kesehatan masyarakatnya sangat prihatin sehingga membuat kebijakan untuk mewujudkan pembatasan penggunaan rokok melalui pemberlakuan Qanun No.4 tahun 2020 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). KTR adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan atau mempromosikan produk tembakau. Pemberian sanksi bagi perseorangan yang melanggar aturan tersebut dapat dikenakan hukuman secara bertahap mulai dari teguran lisan, teguran tertulis, denda administratif, bahkan sampai pidana kurungan paling lama 7 hari. Upaya lainnya dengan sosialisasi untuk berhenti merokok demi melindungi orang-orang di sekitar, termasuk anggota keluarga yang dicintai. Selain perpanjang harapan hidup dan mengurangi risiko penyakit, berhenti merokok dapat membuat diri lebih segar dan awet muda karena dengan merokok dapat menyebabkan keriput, gigi bernoda, dan kulit kusam. Marilah kita galakkan bebas rokok untuk menyelamatkan lingkungan dan generasi selanjutnya.

Editor: