Breaking News

Psikolog P2TP2A Aceh: Jika Tidak Ditangani Secara Baik, Korban Berpotensi Menjadi Pelaku

Psikolog P2TP2A Aceh: Jika Tidak Ditangani Secara Baik, Korban Berpotensi Menjadi PelakuFoto: Ist
Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Aceh, Endang Setianingsih

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh - Belum lekang dalam ingatan soal putusan Majelis Hakim Mahkamah Syariah yang membebaskan terdakwa pemerkosa anak pada 20 Mei 2021 lalu, kini muncul lagi kasus sodomi yang diduga dilakukan seorang pemuda berinisial Am (21 th) terhadap anak berusia 8 tahun di toilet Masjid Agung Islamic Center Kota Lhokseumawe, Minggu, 30 Mei 2021.

Kepada Ruangberita.co Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Provinsi Aceh, Endang Setianingsih menyebutkan anak korban sodomi berpotensi akan menjadi pelaku apabila tidak mendapat penanganan (rehabilitasi dan pemulihan) yang tepat.

"Bila anak-anak yang tidak mendapat pemulihan, psikologinya akan berdampak pada rasa dendam dan bisa menjadi salah satu faktor mengapa korban sodomi tetap ada. Hal ini disebabkan karena korban hendak membalas dendam pada orang lain. Rasa dendam masa lalu yang tidak tersalurkan dan dipendam sendirian, dan kondisi ini tidak berlangsung sebentar. Maka korban bisa menjadi pelaku sodomi," jelas Endang saat dimintai pendapatnya mengenai dampak psikologis yang dialami anak korban sodomi, Senin, 31 Mei 2021.

"Ia (korban) ingin tidak hanya dirinya saja yang pernah disodomi, itu sebabnya ia akan melakukannya pada orang lain agar ada yang senasib," tambah Endang menegaskan.

Dalam kesempatan itu, Endang juga menjelaskan soal lingkungan yang menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh pada terjadinya kasus sodomi.

"Ketika pria berhasrat untuk berhubungan seks, namun tidak memiliki pasangan, ia melampiaskannya kepada anak kecil (bisa laki-laki atau perempuan) atau bahkan pria dewasa lainnya," terangnya.

Dikatakan olehnya, proses pemulihan psikis dan mental korban tidaklah mudah, karena yang bersangkutan akan mengalami 'side affect' (kerusakan akibat sesuatu hal terjadi peristiwa) sehingga mengalami  trauma berkepanjangan dan gangguan paranoid.

"Anak-anak yang sudah menjadi korban kekerasan seksual ini (baik laki-laki maupun perempuan), jika mereka tidak mendapat penanganan yang baik dan kurang penanaman nilai religiusitas, maka sangat mungkin kelak dirinya akan  menjadi pelaku atau pedofil," ucap Endang.

Menurutnya, peran keluarga memiliki aspek penting dalam proses pemulihan psikis dan mental korban. Menjadi hal yang wajar bagi orangtua menjadi sedih dan marah saat mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan seksual. Pun demikian, Endang mengajak para orangtua korban kekerasan seksual untuk tidak terus larut dan terjebak pada situasi tersebut.

"Kita harus segera bangkit untuk  menumbuhkan kembali rasa percaya diri pada anak, karena tanpa adanya dukungan dari orang tua serta keluarga, anak tidak akan pulih dan tentu dalam hal ini diperlukan adanya  penanganan yang baik," terang Endang.

Untuk itu, dia menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk berperan aktif saat mengetahui atau mendengar adanya peristiwa kekerasan seksual dengan melaporkan kepada pihak kepolisian.

"Jangan biarkan pelaku berkeliaran dimana-mana, karena dia akan mencari mangsa barunya, bisa anak kita, anak saudara, anak tetangga dan siapapun dia," ucap Endang.

Editor: