Breaking News

Khutbah Idul Adha di Masjid Baitul Makmur Lhok Ketapang, Aceh Selatan.

Prof. Misri A Muchsin Ajak Jam’aah Meneladani Kehidupan Keluarga Nabi Ibrahim

Prof. Misri A Muchsin Ajak Jam’aah Meneladani Kehidupan Keluarga Nabi Ibrahim
Prof. Dr. Misri A. Muchsin, M. Ag

RUANGBERITA.CO Aceh Selatan - ‘Idul Adha memiliki makna yang berkaitan dengan sejarah dua insan yang kuat menghadapi cobaan, yakni Ibrahim dan putranya Ismail. ‘Idul Adha secara kebahasaan berarti hari raya kurban (udlhiyah), domba yang dikurbankan, disembelih, dipersembahkan sebagai kurban. Pengertiannya yang lebih luas adalah keberanian dan keikhlasan berkurban untuk mencapai ketinggian dan ridha Allah seperti yang dicontohkan oleh Ibrahim dan Ismail serta para rasul dan para nabi lainnya. Untuk maksud yang mulia dan keimanan, Ibrahim AS harus menghadapi cobaan-cobaan dalam hidupnya yang luar biasa.

Demikian diantara inti pembahasan khutbah Idul Adha yang disampaikan Prof. Dr. Misri A. Muchsin, M. Ag  di Masjid Baitul Makmur Lhok Ketapang, Aceh Selatan.

“Kondisi Pandemi telah merobah tradisi dan kesempatan berhaji umat Islam Indonesia khususnya, karena wabah corona dimaksud merambah ke seluruh dunia, termasuk Arab Saudi. Ada saudara kita yang seharusnya sudah terjadwal tahun kemaren atau tahun ini, tetapi gara2 mewabah penyakit dimaksud maka terpaksa ditunda. Tentunya agi kaum Muslimin yang sudah mendaftar Haji,  Allah sudah catat pahala hajinya walaupun ajal menjemputnya di kemudian hari,” ungkap Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam releasnya kepada ruangberita.co, Selasa, (20/7)

Oleh karena itu, menurut sosok doktor lulusan UIN Sunan Kalijaga dengan disertasinya Tasawuf di Aceh dalam Abad XX Studi Pemikiran Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba (1907-1983) itu mengatakan tidak menjadi alasan seseorang yang mampu secara finansial tetapi ia tidak mendaftarkan Haji. Haji itu ibadah Mal Ibadah harta) dan  juga ibadah badaniyah (ibadah fisik) dan ibadah nafsiyah (ibadah menyangkut kesiapan jiwa). Jadi Manistata’a dimaksudkan termasuk dalamnya ketiga jenis ibadah dimaksud.

“Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail berkaitan dengan sejarah ibadah kurban dalam al-quran melambangkan pribadi hamba yang konsisten dengan keyakinannya  kepada Allah yang tidak ada duanya dan harus menjunjung perintahNya. Demi keyakinan, Ibrahim rela berpisah dengan ayah kandungnya, ia rela meninggalkan tanah tumpah darahnya, bersedia menyembelih anaknya, dan anaknya juga bersedia disembelih meskipun pada akhirnya Allah menggantinya dengan domba.,” lanjut penulis buku “Dinamika Sejarah Politik Islam Periode Awal”

Prof  Misri menambahkan, kisah Ibrahim juga menggambarkan kepada kita bahwa tidak ada kemenangan tanpa ujian dan tidak ada keberhasilan tanpa cobaan. Oleh karena itu, marilah kita ambil keteladanan Nabiyullah Ibrahim  ‘alaihis salam. Keteladanan beliau yang kita ambil bukan hanya sekedar memotong hewan kurban unta, kerbau, sapi ataupun kambing. Tetapi juga kecerdasan beliau dan ketajaman sikap kritis yang diterapkan secara efektif dalam kehidupan masyarakat luas. juga sifat-sifat beliau seperti tersebut dalam surat Hud ayat 75.

“Dari sifat cerdas, kritis dan santun, wacana dan jelajah garapan beliau menjadi menyeluruh ranah jangkauannya. Dari tingkat yang paling tinggi (menghadapi raja Namrudz) secara individual dan dalam system institusional sampai tingkat yang paling dasar (rela berpisah dengan ibu-bapak) dalam keluarga. Beliau tunjukkan pola reformasi keimanan yang rusak dimulai dari yang paling bawah dan sederhana ke puncak yang paling tinggi secara tuntas,” paparnya.

Menurut Misri, dari sifat cerdas dan kritis Ibrahim, wacana dan jelajah garapan beliau dapat menjangkau seluruh ranah, dari yang paling dasar: ibu bapak dan keluarga sampai yang puncak pemerintahan kekuasaan yaitu raja Namrudz. Untuk reformasi total dan keimanan yang rusak oleh kemusyrikan, beliau kumpulkan dulu data yang akurat secara tuntas. Ibrahim menanyakan tentang Tuhan Pencipta kepada ibunya, dan beliau coba cari sendiri dengan memperhatikan kenyataan (ayat kauniah-alam mayapada ini).

“Tidak berhenti sampai di situ, Ibrahim AS mengkritisi unta, sapi, kuda yang akhirnya beliau simpulkan bahwa binatang-binatang itupun pasti mempunyai tuhan dan penciptanya. Akan tetapi ketika melihat aneka pepohonan, gunung-gunung dan aneka makhluk ada yang tinggi dan ada yang pendek ada yang kuat dan ada yang lemah, beliau tidak dapat menyimpulkannya begitu saja, dan akhirnya beliau tanya kepada ibunya siapakah yang membuat demikian itu? Dan ketika di akhir malam beliau melihat bintang dan rembulan, dan paginya matahari terbit, beliau menyatakan: inikah tuhanku? Akan tetapi ketika tenggelam, beliau lalu menemukan Tuhannya yang hakiki dan beliau menyatakan, seperti diabadikan oleh Allah dalam QS.Al-An’am,  79,” ulasnya pengarang buku “Filsafat sejarah dalam Islam” itu.

Lebih lanjut, Prof. Misri menyebutkan, ini berarti beliau telah tuntas sampai maqom mushoddaq (dapat membenarkan ajaran yang benar dan dengan benar pula). Beliau sudah memperoleh kesaksian dangan benar dan kejelasan tentang Tuhan, baik tentang sifat dan dzatNya maupun hubunganNya dengan benda-benda dan makhluk-makhluk semua. Beliau sudah musyahadah dan ma’rifat kepada Allah SWT dengan sempurna.

“Perjuangan kita hari ini tentu berbeda dengan apa yang dihadapi Ibrahim AS. Secara formal tidak ada lagi Namruz hari ini. Hanya kadang yang berupa namruz modern tidak dapat kita menyangkalnya. Kasus pemurtadan dan aliran sesat di mana-mana terakhir ini muncul, cukuplah kita mengambil pelajaran agar tidak tertular dalam keluarga dan masyarakat kita. Ibrahim berkorban adalah untuk menegakkan agama dan syariát Allah di bumi,”jelasnya.

Dalam Khutbah Idul adha di daerah kelahirannya Aceh Selatan itu, di akhir khutbahnya, ia mengatakan, hari ini kita di Aceh secara legal-formal diizinkan penegakan dan penerapan syariát Islam oleh Negara, tetapi tidak sedikit yang tidak pro-syari’at, telah menghambat dan malah melawan pembumian syariát Allah di negeri yang berjulukan serambi Mekkah ini. Lalu jika ada upaya menghambat dan melecehkan dari pihak mana saja, bukankah ini sikap-sikap Namruz yang sudah berjangkit kembali? Mari kita renungkan dan hindari dari sikap tidak terpuji teresebut  naúzubillahi min zalik!

“Ibrahim mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Beliau mencari kebenaran hakiki. Setelah beliau dapatkan dengan kukuh beliau imani dalam segala kondisi dan bentuk rintangan yang menghadangnya. Manusia hari ini  menyadari atau tidak, dengan mudah  menukar kebenaran dengan uang,” tutupnya. []

Iklan Idul Adha Bupati Abes
Iklan Idul Adha Gub Aceh