Breaking News

Problem Identitas Di Era Sekarang

Problem Identitas Di Era Sekarang
Assauti Wahid.

Oleh : Assauti Wahid

Isu penting dalam kebudayaan yaitu “Problem Identitas”. Dengan melihat secara seksama, mengapa kita mengalami identitas dan mengapa itu menjadi isu besar. Ada beberapa sebab yang pertama ialah. Hilangnya, batas wilayah dalam katagori hari ini. Akibat globalisasi dan sebagainya. Kita memang mengalami, bagaimana orang berpergian ke wilayah dengan cara lebih mudah dan cara interaksi antara wilayah tanpa batas lagi. Tapi juga katagori-katagori ras, suku, agama itu hari ini menjadi makin kabur. Siapa dikatakan bagi orang dalam, orang luar dan serta makin campur adukkan ya....?. Bila kita melihat melalui secara genetik kita semakin campur-aduk akibat pernikahan campuran. Itu salah satu penyebab serius.


Barangkali kita bisa meanalogikan. Misalnya, dalam satu ruang kuliah bisa bersama orang lain dan itu tidak menjadi soal. Baik-baik saja, seandainya tiba-tiba terjadi tsunami atau banjir diluar. Maka tidak bisa keluar terpaksa hidup berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan bersama satu kelas disitu. Kita akan mulai membuat batas-batas teritorial tidur dan wilayah mana orang bisa masuk, meja sebelah mana, wilayah siapa dan sebagainya.


Disitu akan mulai menegaskan-negaskan batas teritorial itu. Disebabkan oleh faktor alamiah. Begitulah, memang ada kontraks ketika batas-batas itu hilang . Justru kita tiba-tiba menyadari pentingnya batas-batas katagori identitas itu. Tapi, alasan kedua mengapa identitas menjadi penting yaitu “ketidakadilan”. (perasaan indentitas) dalam dunia global ini orang-orang makin menyadari bahwa ternyata ada pihak-pihak tertentu yang memonopoli penghasilan, memonopoli kesejahteraan dan sebagainya.

Sedangkan pihak lain. Seakan-akan menjadi korbannya. Ada berbagai pihak-pihak diisap sumber daya alamnya dan seterusnya. Perasaan-perasaan tertindas dan perasaan diperlakukan secara tidak adil.
Ini menunjukkan bahwa kita, menjadi butuh diakui martabatnya dan sebagainya itu. Disitu identitas kita menjadi isu besar. Pasti ada penyebab lainnya. Yaitu media sosial (pasar pengakuan sosial). Emang seperti berkah ketika hadir teknologi yang bernama media sosial dan terasa menjadi bencana juga. Karena masalah awalnya ialah berkah. Karena orang bisa mengutarakan pendapatnya. Bahkan bisa share/sharing mengenai banyak hal yang dianggap penting. Tapi pada sisi lain. Ketika semua orang atau setiap orang mendapatkan peluang mengutarakan pendapat. Tiba-tiba kita menyadari betapa pendapat orang sangat berbeda satu sama yang lain. Itu melahirkan geostik. Kondisi geostik luar biasa disitu. Itu pertama, yang kedua. Dampak media sosial menunjukkan bahwa semua orang ingin diakui, pingin tahu, berapa orang mengikuti ianya, berapa followers, berapa yang melike ianya dan serta apapun ia share, itu ditanggapi oleh orang lain.


Kalau semua orang melakukan seperti itu. Maka, menjadi kebutuhan utama juga untuk melihak reaksi orang, penghargaan orang terhadap siapa kita sesunguhnya. Karena ini menyebabkan kita seperti membutuhkan identitas. Akan tetapi, sebetulnya akar dalam hal ini. Sudah digarap oleh para filsuf Plato misalnya berbicara kebutuhan diri tentang timmos, martabat diri, di akui serta bahwa setiap orang itu membutuhkan martabat tinggi untuk dihargai.


Hal seperti berlanjunya pada filsuf besar lain Hegel. Bahkan ia melihat seluruh sejarah adalah pergumpulan terus-menerus antara satu pihak yang kebutuhan untuk mengunguli semua pihak yang lain. Ini yang disebut megalothmia oleh Yoshihiro Francis Fukuyama dengan kebutuhan diperlakukan setara semua sebagai martabat yang sama itu. Yang disebut dengan Isothymia oleh Fukuyama. Dua hal ini kemudian dieloborasi lebih lanjut.


Menurut saya, yang menarik kira-kira akar krisis kita hari ini. Yang menyangkut identitas. tegangan antara megalothmia dan isothymia. Masih ada unsur lain lagi. Akar lain, yaitu situasi kehidupan moderen ini sangat diwarnai oleh kehidupan konsumerisme dimana hidup hanya bekerja. Apapun itu, hanya kehidupan untuk mengkonsumsi lebih. Tapi, lama-kelamaan kehidupan menjadi konsumerisme ini menjadi sesuatu yang datar, kebiasaan dan flat. Mundane consumerism istilah didalam situasi seperti itu.


Orang membutuhkan sesuau yang mencuat, heroikme dan fundamental sifatnya. Itu berupa apapun untuk ingin keluar dalam kondisi datar dan orang-orang menikmati saja. Itu butuh ekstrim dari heroisme fundemental ini adalah teriorisme, bentuk-bentuk terorisme fundemental untuk atas nama ideologi tertentu, agama tertentu dan ataupun yang menarik. pengakuan negatif dunia dalam arti itu fundemental heroik. Fundenmental heroik bisa sangat seksi.
Menarik sangat merasang anak-anak muda terutama. Sekira itu menjelaskan makna Isis. Misalnya diikuti oleh anak muda.

Tapi, sebetul fundemental heroik bisa juga impian-impian negara sekarang. Misalnya Rusia melalui Putin ingin menjadi kekaisaran yang fundemental yang melebihi negara-negara lain atau Amerika melalui Trump kepeingin mengembalikkan Amerika Serikat menjadi negara terbesar sebagai negara superpower. Itu bentuk lain-lain heroiksme fundemental ini.


Kalau kita melihat sebetulnya. Akar dari krisis identitas dalam rangka situasi seperti itu, adalah ketegangan megalothmia dengan Isothymia juga serta heroiksme fundemental dengan konsumerisme mundane yang flat dan serta datar saja.


Masalahnya problem identitas sekarang. Harus dijernikan dulu, untuk melihat penyebab-penyebabnya atau akar-akarnya.
Sekarang dari pengertian dari identitas itu. Orang sering tergecuh. Identitas itu terbagi dua, identitas formal dan identitas substansial. Identitas formal sebetulnya adalah kategori-kategori adminstrasi atau kategori sosial yang sebetulnya itu. Hanya kerangka dan wadah.


Identitas formal misalnya dalam kategori-kategori adminstrasi, kita termasuk dalam RW mana dan RT mana? keluran apa ? atau pekerjaan resmi kita apa? Dan banyak lainnya. Itu penting untuk adminstratif. Tapi, ada yang lebih penting sebenarnya identitas subsantial. Dari sisi kultural kita, hampir mencakup segala hal. Arti kebudayaan. Disini adalah agak luas lebih luas dari adminstrasi. Itu mencukup cara berfikir, cara kita berhubungan dengan orang lain misalnya.

Katagori-katagori kultural itu. Sedikit mendalam dan menunjukkan akar soal.
Identitas formal kultural menunjukkan keberadaan kita dan akar kita. Agar mendasar kepentingannya yang lebih mendalam. Yaitu identitas subsantial.