Breaking News

Pidie dan Stempel Geulanteu

Pidie dan Stempel Geulanteu

TULISAN ini saya angkat bermula dari komentar salah seorang murid saya di MAN 1 Sigli yaitu Fauzan A. Rahman di Laman Facebook Saya yang mengatakan bahwa dia tidak tahu kapan Kabupaten Pidie lahir. Hal ini berbeda dengan Kota Banda Aceh yang tersebut dalam catatan sejarah lahirnya pada tanggal 22 April 1205 M atau bertepatan dengan 1 Ramadhan 601 H.

Pertanyaan ananda kami ini, menggelitik saya untuk mencoba membuka beberapa literatur dan tulisan-tulisan yang menulis tentang Kabupaten Pidie. Berdasarkan beberapa tulisan tersebut, saya mencoba rangkum dan saya tulis ulang. Dengan harapan, tulisan ini akan dibaca oleh anak-anak saya, murid-murid tercinta saya, serta rekan dan sahabat saya di Kabupaten Pidie, sehingga akan menambah pengetahuan mereka tentang sejarah Kabupaten Pidie.

Menurut Prof. D.G.E. Hall dari Inggris dalam bukunya "A History of South East Asia" menjelaskan bahwa Pidie merupakan sebuah Kerajaan yang maju pada akhir abad ke 15. Dalam buku itu dijelaskan bahwa seorang pelawat dari Eropa bernama Ludovico Di Varthema pernah singgah di daerah Pidie pada akhir abad ke 15.

Dalam catatan Varthhema, Pidie saat itu masih disebut dengan Negeri Pedir. Selanjutnya, Muhammad Said dalam bukunya "Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah" menjelaskan bahwa Negeri Pedir merupakan sebuah negeri yang maju dan dikenal oleh negara-negara lain, hal ini dibuktikan dengan singgahnya 18 sampai 20 kapal besar asing setiap tahun untuk mengangkut lada ke negeri Tiongkok, China.

Pelabuhan Pedir saat itu juga sangat dikenal sebagai pelabuhan ekspor kemenyan dan sutra hasil produksi masyarakat atau penduduk lokal. Sehingga jadilah Pedir sebagai kawasan yang banyak didatangi bangsa asing untuk berdagang di pelabuhan Pedir. Kondisi ini, menurut Varthema, dekat jalan pelabuhan Pedir terdapat 500 orang penukar mata uang asing.

Sebagai daerah atau kawasan sibuk dengan perdagangan, Negeri Pedir pada saat itu telah menggunakan mata uang emas, perak dan tembaga sebagai alat tukar atau jual beli. Dapat dibayangkan, karena kesibukan masyarakat di kawasan pelabuhan Pedir yang sangat luar biasa pada saat tersebut, menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang super sibuk dengan berbagai aktifitas Perdagangan.

Muhammad seorang alumni PTI Al-Hilal Sigli dalam sebuah tulisannya menjelaskan bahwa Ibukota Kabupaten Pidie yaitu Sigli diambil dari bahasa Arab yaitu Syighlun yang berarti "sibuk". Kemudian kata Syighlun itu oleh masyarakat lokal diucapkan dengan kata "Sigli".

*Cap Geulanteu*

Kerajaan Pedir/Poli adalah Kerajaan yang sangat kuat dan makmur. Kerajaan Pedir atau Pidie dikenal dengan daerah penghasil panen padi dua kali dalam setahun pada saat tersebut. Ketika Kerajaan Pedir meleburkan diri menjadi bagian Kerajaan Aceh Darusalam dan sebagai kerajaan yang lebih duluan ada, pada masa-masa selanjutnya untuk kawasan Pidie tidak disebut dengan sebutan Aceh Pidie, tapi tetap sebutan Pidie sebagai hak otonom.

Sebagai wujud pemberian hak otonom untuk Kerajaan Pidie di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, peran raja Negeri Pidie tetap diperhitungkan. Hal ini dapat dilihat dari setiap keputusan Majlis Mahkamah Rakyat Kerajaan Aceh Darussalam, Sultan tidak memberi Cap Geulanteu (Stempel Halilintar) sebelum mendapatkan persetujuan Laksamana Raja Maha Raja Pidie.

Maha Raja Pidie beserta Ulee Balang Stik dalam Kerajaan Aceh Darussalam Berhak mengurus dan mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan Balai Rakyat Negeri masing-masing. Sekedar untuk diketahui, Kerajaan Pidie sudah duluan ada sebelum Kerajaan Aceh Darussalam yang dikenal dengan Kerajaan Pedir atau Poli.

Dalam catatan sejarah disampaikan bahwa, Kerajaan Pidie luasnya sekitar 50 hari perjalanan dari timur ke barat dan 20 hari perjalan dari dari Utara ke Selatan. masyarakat Pidie dikenal dengan masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang, sehingga tidak heran bila warga Pidie yang suka berdagang dijuluki dengan "Tionghoa Hitam/Black Chinese". Sehingga bersama dengan orang Bireun, orang-orang Pidie mendominasi pasar-pasar di berbagai wilayah Aceh.

* Penulis adalah Widyaiswara Ahli Madya pada Balai Diklat Keagamaan Aceh, dan Mahasiswa Program Doktor UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.

*Banda Aceh, 23 April 2021/11 Ramadhan 1442 H*

Selamat Hari Raya Diskominfo Aceh
Iklan Bank Aceh Selamat Hari Raya
Iklan Pemkab Pijay
Selamat Hari Raya Sekda Aceh