Breaking News

Pelaku Pemerkosaan Divonis Bebas, Bardan Sahidi: Saya Lebih Sepakat Gunakan UU Perlindungan Anak

Pelaku Pemerkosaan Divonis Bebas, Bardan Sahidi: Saya Lebih Sepakat Gunakan UU Perlindungan AnakFoto: Ist
Anggota DPRA, Bardan Sahidi

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh - Anggota Komisi I DPRA Bardan Sahidi menyebutkan kekerasan terhadap perempuan dan anak tergolong pada kejahatan extraordinary crime atau kejahatan yang luar biasa, sehingga harus ditangani secara luar biasa pula.

"Kalau saya tidak terlalu berharap banyak lagi pada hakim Mahkamah Syariah itu. Persoalannya pada pengadilan ini pada bukti ya. Saya lebih sepakat para penyidik itu menggunakan UU Perlindungan Anak," ujar Bardan Sahidi saat dimintai pendapatnya mengenai keputusan vonis bebas pelaku pemerkosaan terhadap anak dibawah umur oleh Mahkamah Syariah Aceh, Senin, 24 Mei 2021.

Dia melanjutkan, tidak seharusnya semua proses peradilan kasus tersebut  diarahkan pada mekanisme kasasi. Bardan menilai, ada peran pengacara melalui 'kepiawaiannya' sehingga pelaku memperoleh vonis bebas.

"Anak ini, sebut saja namanya Bunga, sebelumnya berada di rumah aman, rumah sejahtera yang ada di Lampeuneurut. Oleh pengacara, Bunga diambil, dan saat BAP, keterangannya berubah. Disebutlah disana pelaku mengalami gangguan jiwa," ungkap Bardan.

Atas fakta itu, Bardan menangkap keanehan. Menurut dia, pernyataan gangguan jiwa harusnya berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog.
"Kenapa vonis jatuh tanpa melampirkan hasil pemeriksaan psikolog," tegas Bardan bernada menggugat.

Walau demikian, politisi yang berasal dari Dapil Aceh Tengah dan Bener Meriah ini menyampaikan menyerahkan sepenuhnya pada proses peradilan, karena fakta persidangan sepenuhnya berorientasi pada bukti.

Seperti yang diketahui, dua terdakwa pelaku perkosaan terhadap anak di bawah umur bebas dari tuntutan Mahkamah Syariah.
Pada awalnya, hakim saat itu menjatuhkan vonis 200 bulan hukuman penjara atau 16,6 tahun terhadap paman korban yang berinisial DP. Sementara, ayah korban, MA,  divonis bebas oleh majelis hakim. Hakim berdalih MA tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan jarimah pemerkosaan terhadap anak kandungnya.

Penasehat hukum DP selanjutnya mengajukan banding ke Mahkamah Syariyah Provinsi Aceh. Dalam proses banding ini, DP akhirnya menghirup udara bebas setelah Majelis Hakim Mahkamah Syariah Aceh membebaskan paman korban itu dari segala tuduhan.

Editor: