Breaking News

Nasir Djamil Minta Pelaku Pemerkosaan di Aceh Besar Diberi Hukuman Maksimal, Termasuk Kebiri

Nasir Djamil Minta Pelaku Pemerkosaan di Aceh Besar Diberi Hukuman Maksimal, Termasuk Kebiri

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh-- Anggota DPR RI asal Aceh, Nasir Djamil, meminta jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jantho untuk menuntut semaksimal mungkin pelaku pemerkosa anak di bawah umur. Ia meminta penegak hukum menuntut pelaku dengan Qanun Aceh terkait Uqubat Restitusi dan PP nomor 70 tahun 2020 tentang kebiri kimia.

"Maraknya tindak pidana pemerkosaan di Aceh Besar telah sampai pada tingkat membahayakan bagi generasi masa depan Aceh Besar secara khusus dan Provinsi Aceh secara umum,"kata Nasir seperti dikutip dari rilis yang dikirim untuk Ruangberita.co, Rabu, 27/1/2021.

Nasir mengaku akan mengikuti sampai tuntas kasus pemerkosaan tiga terdakwa yang disidangkan di Mahkamah Syar'iya Jantho. "Kepada penegak hukum baik Polisi - Jaksa maupun Hakim kami berharap dapat memberikan keadilan yang bermartabat bagi korban, dan hukuman yang setimpal bagi pelaku."

Menurut Nasir, Jarimah Jinayat Permerkosaan merupakan sebuah tindakan tidak bisa ditolerir dengan alasan apapun. Perbuatan tersebut sangatlah sadis dan bejat serta kejam.

Nasir mengatakan, berdasarkan pasal 50 Qanun Nomor 6 Tahun 2014, hukuman bagi pelaku pemerkosan maksimal dituntut 200 bulan penjara.

"Oleh sebab itu, kami meminta JPU dari Kejari Jantho menuntut terdakwa dengan maksimal, dan harapan kami terdakwa juga dituntut untuk uqubat restitusi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 51 Qanun Nomor 6 Tahun 2014,"kata Nasir, Ketua Forbes DPR RI itu.

Selain itu, Nasir juga meminta kepada Pemrintah Kabupaten Aceh Besar untuk segera melakukan tindakan advokasi terhadap korban serta tindakan preventif supaya ke depan tidak terulang perilaku pemerkosaan yang kerap memakan korban.

"Semoga masyarakat Aceh Besar juga mawas diri, harus menghidupkan kontrol masyarakat dan tokoh tokoh gampong, tokoh adat, serta tokoh agama harus tinggi dan waspada supaya ke depan anak anak kita di Aceh besar tidak lagi jadi korban keganasan kekerasan seksual,"ujar Nasir.

Kepada para orang tua, Nasir juga mengingatkan agar ikut pro aktif mengawasi dan tidak abai dengan perubahan perilaku pada anak, memantau teman bergaul dan zona bermain anak.

Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa waktu terakhir ini kerap terjadi kasus pemerkosaan di Aceh Besar, di antaranya,
kasus seorang paman dan ayah di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, berkali-kali merudapaksa anak kandungnya, Bunga (bukan nama sebenarnya) yang masih berusia 11 tahun.

Kasus perkosaan itu terjadi di rumah yang sama sepanjang Agustus 2020 setelah ibu korban meninggal dunia April lalu.

Kemudian, tentang seorang kakek berusia 78 tahun berinisial MN bin H, warga Kecamatan Montasik, Aceh Besar, diadili di Mahkamah Syar'iyah Jantho, karena diduga memerkosa empat bocah perempuan.

Terdakwa menodai empat bocah, masing-masing tiga orang pada 31 Juli dan satu orang lagi pada 3 Agustus 2020.

DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan