Breaking News

Nasib Susu di Tangan Beruang

Nasib Susu di Tangan Beruang
Tangkapan layar youtube BEAR BRAND

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Pegiat Institut Literasi dan Peradaban

Beredar video di sebuah supermarket, produk susu merk Bear Brand diserbu pembeli, tak tanggung-tanggung satu orang bisa ambil lebih dari dua krat, masyaallah, kejadian panic Buying kembali terulang, kali ini produk susu dan minuman bervitamin c, YouC-100.

Ketika di awal pandemi masker dan hand sanitizer, langka di pasaran hingga harganya tak lagi masuk di akal. Tan Shot Yen , ahli gizi masyarakat, menjelaskan konsumsi susu beruang sama saja dengan minum produk susu lainnya di pasaran. Kandungan gizi yang ada dalam produk susu kemasan di pasaran sama antara satu produk dan lainnya, tak bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti yang dipercaya masyarakat.

Asumsi bahwa susu beruang bisa menyembuhkan penyakit seperti demam, flu, batuk, atau lainnya hanya mitos yang menyelimuti produk susu beruang. "Selama ini overclaim produk enggak pernah dibenahi, publik salah asumsi, literasi gizi publik minim, akhirnya ada kepercayaan-kepercayaan yang dibentuk sebagai opini publik. Apa yang mestinya mitos dijadikan kebenaran. Sebaliknya, fakta ilmiah sama sekali tidak digubris," tuturnya (CNNIndonesia, 4/7/2021).

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban juga membantah susu beruang bisa menyembuhkan covid-19. Kandungan dalam susu disebut tidak bisa membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19 dalam tubuh. "Susu beruang untuk mengobati covid-19, ya tentu saja tidak bisa, susu beruang tak bisa mematikan virus SARS-CoV-2 penyebab covid-19," jelasnya (CNNIndonesia.com, 4/7/2021)

Lily Arsanto Lestari, Salah satu pengajar di Program Studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) , mengatakan, mengonsumsi susu memang meningkatkan imunitas tubuh, tetapi bukan berarti harus memilih produk susu tertentu untuk dikonsumsi. “Tapi ya tidak harus Bear Brand, susu yang lain juga bagus,” ujar Lily (Kompas.com, 3/7/2021).

Mengapa terjadi Panic Buying?

Panic Buying menunjukkan tingkat stres masyarakat sangat tinggi, padahal justru menurunkan imun dan memperkeruh suasana. Masyarakat sangat takut akan kesehatan dan kehidupannya tak bisa lagi dipertahankan. Bagaimanapun tak ingin siapapun sakit, terutama terpapar Corona, selain harus isolasi mandiri tanpa jaminan penguasa akan biaya hidupnya dan kapan akan berakhir pandemi ini, rumah sakit menutup pelayanannya karena overload pasien, banyaknya nakes yang meninggal, alat kesehatan dan obat yang langka dan lain sebagainya sudah ada dalam bayangan setiap individu masyarakat ketika mereka sakit.

Panic Buying juga memperlebar jurang ekonomi dan sosial, satu kelompok bisa memenuhi membeli tak sekadar jumlah yang dibutuhkan namun sekaligus stok, sedangkan satu kelompok lain hanya bisa urut dada atau malah mencaci, karena tak satupun terbeli. Biaya hidup lebih menuntut untuk dipenuhi, daripada untuk satu kaleng susu seharga 50 ribu, lebih baik untuk beli kebutuhan makan, pulsa daring anak dan lainnya.

Semua berasal dari kekhawatiran akan jaminan kesehatan khususnya dan jaminan hidup dari negara yang tak didapatkan rakyat. Diperparah dengan sistem kapitalis yang melingkupi seluruh pengaturan negara terhadap pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Penanganan hanya berganti istilah, tak serius, rakyat masih harus berjuang sendiri, alih-alih memenuhi kebutuhan hidupnya, yang ada malah memperkaya negara dengan pungutan pajak dan lain-lain, sementara lapangan pekerjaan kian sulit, pengangguran bertambah.

Akar persoalan

PPKM Darurat yang kembali diberlakukan inipun menegaskan pengurusan setengah hati, sektor bisnis masih diberi kesempatan untuk beroperasi sedangkan tempat ibadah 100% ditutup. Akhirnya yang terjadi adalah hubungan bisnis semata, untung rugi, rakyat dianggap beban, sebab memelihara rakyat sama dengan buang uang.

Perkara covid-19 fluktuatif, muncul kluster baru secara signifikan, nakes kelelahan, rumah sakit penuh, vaksin belum merata sudah muncul virus varian baru yang tak terdeteksi dan muncullah kasus sudah vaksin masih bisa terpapar lagi, hingga panic Buying semestinya membuka mata kita bahwa penguasa gagal, pihak kapitalis menunggangi keadaan ini dengan terus menerus menaikkan opini sejumlah produk sukses tangkal Corona padahal hoax, justru manfaat bisa di dapat dari yang lain.

Tapi rakyat mati kreatifitas. Penguasa mati hati, memberikan informasi tanpa edukasi. Pendapat ahli hanya diambil seadanya, justru kebijakan menteri yang asal bunyi jadi rujukan. Dalam sejarah baru kali ini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia mengambil alih urusan menteri kesehatan. Hingga beredar opini covid ini investasi atau konspirasi , a
akibatnya rakyat jadi apatis. Tak peduli kesehatan bahkan tak patuh penguasa.

Bagaimana seharusnya?

Dalam Islam, kapitalisme haram diambil, sebab landasannya adalah sekuler, meninggikan aturan manusia merendakan aturan Allah SWT. Padahal banyak ayat menjelaskan bahwa satu-satunya hukum yang berlaku bagi manusia dan seluruh alam semesta ini adalah aturan Allah. "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam". [al-A’râf 7:54].

Di ayat yang lain," Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? " [al-Mâ`idah 5:50]. Sangatlah gamblang, dari dua ayat di atas saja kita faham, tak ada ranah manusia menentukan baik buruknya pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sebab manusia terbatas, untuk satu persoalan saja akan beragam dalam menentukan hukumnya, terlebih jika sudah diisi dengan kepentingan pribadi atau golongan.

Bahkan untuk urusan susu saja, jika ditangan kaum " beruang" kapitalis justru menjadi keuntungan, abaikan kesehatan masyarakat bahkan hilangnya nyawa akibat buruknya fasilitas kesehatan seakan hanya jadi tumbal kekayaan mereka.

Fakta panic Buying hanyalah menguntungkan segelintir pihak saja, padahal dalam masa gelombang covid-19 kedua ini, semestinya kita menyatukan hati dan pikiran. Menata mindset lebih fokus lagi, bahwa kegagalan sistem inilah akar persoalannya, dan sebagaimana tanaman, jika akarnya telah rusak atau busuk maka harus kita ganti dengan tanaman yang baru.

Aturan yang mampu mengendalikan masyarakat pada tujuan hidupnya yang benar, guna menata hidupnya lebih baik, tak sekedar terombang ambing opini murahan pihak yang hanya mau ambil untung semata, yang mampu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan hakiki. Wallahu a'lam bish showab. [•]

Iklan Idul Adha Bupati Abes
Iklan Idul Adha Gub Aceh