Breaking News

Musafir Mahabbah Aceh Selatan: Takziyah dan Jambo Hatta

Musafir Mahabbah Aceh Selatan: Takziyah dan Jambo Hatta

Malam dengan aura sedikit agak kedinginan, roda empat warna silver melaju kencang dan santai disupiri Cek Din panggilan akrab Tgk. Mahyuddin direktur Barberchop yang terletak di Lamteumen dalam agenda takziyah ke negeri Pantai Barat Selatan. Rombongan tersebut terdiri dari beberapa agamawan muda dan akademisi kampus terkenal di negeri paling ujung Nusantara ini.

Terlihat Tgk. Muhammad Khalil Nisam (Pimpinan Dayah Nur Jalali Al-Aziziyah Meunasah Lueng Samalanga), selain memimpin Dayah yang telah didirikan beberapa tahun silam dengan santrinya dari berbagai daerah di Aceh, Tgk. Khalil juga menjadi guru di Dayah MUDI Samalanga. Juga hadir dalam rihlah tersebut Tgk. Iswadi Laweung pimpinan Dayah Nurul Arifah al-Aziziyah Simpang Matang Samalanga.

Abah Laweung yang akrab disapa itu juga pakar radikalisme yang kerap diundang di kampus di Aceh dan kini dipercayakan sebagai Kaprodi PMI IAI Al-Aziziyah Samalanga.

Rombongan lainnya dalam mobil tersebut Abu P panggilan akrab dengan nama aslinya Tgk Muhajir Peureulak guru di Dayah Darul Muta'alimin Desa Kruet Lintang, Kecamatan Peureulak Timur yang merupakan dayah pernah dipimpin Abu Lah Kruet Lintang yang meninggal beberapa bulan yang silam.

Cek Din sosok pemilik pangkas rambut terkenal di kota Madani Banda Aceh merupakan nahkoda tunggal rombongan tersebut meluncur melewati tanjakan dan lautan yang terlihat indah di malam hari. Anggota rombongan lainnya selain penari jemari ini, satu lagi rombongan lainnya Tgk. Zuhri Padang Tiji saat di MUDI Samalanga populer dengan Tgk Oom Zuhri, hingga saat ini belum tahu wajah tasmiyah (indikator) dengan nama populer tersebut.

Alumni MUDI Samalanga yang kini juga dipercayakan memimpin Lembaga Pendidikan di tanah kelahiran jauzahnya (istrinya) Garot Seuke Geulumpang Baro, Pidie, Dayah Nurul Yaqin Al-Aziziyah. Sosok satu menjadi suplemen dan membuat supir tunggal CekDin mampu bertahan menjadi nahkoda CR-V dengan petuah dan ilmu yang brilian disampaikan Waled Zuhri.

Tawa tidak pernah berhenti membahana menghiasi perjalanan yang melelahkan dengan tujuan takziyah ke rumah ulama kharismatik Aceh Waled Marhaban Bakongan yang juga ayah dari Tgk.H Mubarak guru senior Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang kini telah mendirikan Dayah di pantai barat selatan.

Paparan dan kupasan Tgk Om Zuhri menjadi ilmu baru dengan penyampaian santai dan mengundang tawa siapa saja yang mendengarnya, jama'ah rombongan tersebut terkesima dengan kupasan Waled Zuhri beragam ilmu termasuk dalam melestarikan keutuhan rumah tangga.

Sekaliber Cek Din, Abah Iswadi dan lainnya terkesima dengan paparan tersebut juga mencatat dalam memori masing masing "tarekat" Waled Zuhri dalam memanjakan sang jauzah melebihi apa yang dipaparkan Dokter Boyke, apa itu tarekatnya, rujuklah kepada Waled Zuhri?

Beragam paparan lainnya disampaikan Tgk Om Zuhri memadamkan "teungeut" dan Tawa sahut menyahut bahkan membuat perut merana bahkan Tgk. Abdul Ghafur yang juga serombongan lain mobil merasa sangat rugi tanpa bersamaan dengan Tgk. Oom Zuhri Cs. Kelihaiannya sebagai mediator kelahiran Pidie ini membuat semua persoalan dan tantangan clear dan selesai, inilah sekelumit sosok Waled Zuhri (Tgk Om Zuhri)

CR-V menjelajahi pantai barat selatan itu sejak pukul 02. 00 WIB dinihari setelah singgah makan dan minum melepaskan penat juga shalat Dhuhur di Masjid yang tidak pinggiran laut Samudera Hindia. Memasuki kawasan negeri Abuya Muda Waly Al-Khalidy sangat terasa aura negeri wali tersebut.

Beberapa tempat wisata di sepanjang Aceh Selatan yang terkenal dengan negeri penghasil pala tersebut berjarak lebih kurang 10 jam dari pusat ibukota Provinsi

Selain hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan daerah tersebut. Negeri Pala itu juga menyimpan dan memiliki pesona alam yang asri dipadukan dengan beragam adat istiadat dan budayanya termasuk memiliki bahasa tersendiri selain bahasa Kluet dan bahasa Jamee.

Juga keindahan semakin terpesona dengan Kekayaan alam tidak tertandingi dengan Kabupaten lain, fenomena ini terlihat berbatasan langsung dengan hutan Ekosistem Leuser. Pemandangan hutan hujan yang indah ini makin aduhai dengan bentang pantai indah yang terhampar luas ke Samudera Hindia.

Melintasi Wilayah Aceh Selatan, tak lengkap tanpa singgah di tempat bersejarah dan tempat yang kerap dikunjungi wisatawan yang dikenal dengan sebutan Jambo Hatta. Jambo Hatta merupakan sebuah gubuk yang dibuat berbentuk panggung dengan ornamen klasik khas Aceh Selatan.

Menikmati keindahan alam dan udara yang asri rombongan Tgk Oom Zuhri singgah melepaskan penat sambil menikmati makan Dhuhur bersama sambil melepaskan candaan kocak ala Tgk Om Zuhri. Keberadaan Jambo Hatta terletak di puncak Gunung Pintoe Angen tepatnya di antara Gampong Lhok Rukam dan Gampong Panjupian. Dari pusat kota Tapaktuan cukup menempuh jarak lebih kurang 8 km atau sekitar 15-20 menit perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Berdasarkan catatan sejarah, Jambo Hatta merupakan tempat ini pernah disinggahi Wakil Presiden pertama Indonesia yang juga sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia Muhammad Hatta saat dalam perjalanan keliling Aceh sekitar tahun 1953. Singkat cerita tempat tersebut populer dengan Jambo Hatta.

Ungkapan Jambo karena bentuknya seperti gubuk namun dengan arsitektur khas Aceh menyerupai rumah panggung. Memasuki Jambo Hatta melaui beberapa anak tangga yang harus kita naiki. Secara umum gubuk tersebut terbuat dari kayu. Beberapa bagian tampak sudah terkelupas, seiring usianya yang kian menua. Jika kita lihat, bangunan 2 lantai ini berasistekkan gaya klasik khas Aceh Selatan tempo dulu. Katanya, bangunan ini sudah sempat beberapa kali dipugar.

Di bawah jambo ini terdapat sebuah prasasti sebagai bukti Bung Hatta pernah mengunjunginya dengan bunyi sebagai berikut :

"DI TEMPAT INI, PROKLAMATOR/WAKIL PRESIDEN RI, DRS MOHAMMAD HATTA, BERISTIRAHAT DALAM PERJALANAN KELILING ACEH DI TAHUN 1953, UNTUK MEMPERERAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA"

Tempat ini sekarang sudah menjadi tempat wisata yang memiliki nilai sejarah. Letaknya di badan jalan menjadikan tempat ini strategis untuk disinggahi. Selain sebagai tujuan wisata, bagi pengguna jalan yang melewati Jambo Hatta bisa singgah untuk istirahat karena di sini terdapat cafe, WC umum, dan musala.

Perjalanan terus melaju menuju negeri Bakongan tempat takziyah almarhum Waled Bakongan. Cek Din dan rombongan juga rombongan lainnya menuju Dayah Raudhatul Muna Bakongan Aceh Selatan sampai di Magrib.

Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Jambo Hatta, Aceh Selatan, 28 Agustus 2021

Musafir Mahabbah Aceh Selatan: Takziyah dan Jambo Hatta


Malam dengan aura sedikit agak kedinginan, roda empat warna silver melaju kencang dan santai disupiri Cek Din panggilan akrab Tgk. Mahyuddin direktur Barberchop yang terletak di Lamteumen dalam agenda takziyah ke negeri Pantai Barat Selatan. Rombongan tersebut terdiri dari beberapa agamawan muda dan akademisi kampus terkenal di negeri paling ujung Nusantara ini.

Terlihat Tgk. Muhammad Khalil Nisam (Pimpinan Dayah Nur Jalali Al-Aziziyah Meunasah Lueng Samalanga ), selain memimpin Dayah yang telah didirikan beberapa tahun silam dengan santrinya dari berbagai daerah di Aceh, Tgk. Khalil juga menjadi guru di Dayah MUDI Samalanga. Juga hadir dalam rihlah tersebut Tgk. Iswadi Laweung pimpinan Dayah Nurul Arifah al-Aziziyah Simpang Matang Samalanga. Abah Laweung yang akrab disapa itu juga pakar radikalisme yang kerap diundang di kampus di Aceh dan kini dipercayakan sebagai Kaprodi PMI IAI Al-Aziziyah Samalanga.

Rombongan lainnya dalam mobil tersebut Abu P panggilan akrab dengan nama aslinya Tgk Muhajir Peureulak guru di Dayah Darul Muta'alimin Desa Kruet Lintang, Kecamatan Peureulak Timur yang merupakan dayah pernah dipimpin Abu Lah Kruet Lintang yang meninggal beberapa bulan yang silam.

Cek Din sosok pemilik pangkas rambut terkenal di kota Madani Banda Aceh merupakan nahkoda tunggal rombongan tersebut meluncur melewati tanjakan dan lautan yang terlihat indah di malam hari. Anggota rombongan lainnya selain penari jemari ini, satu lagi rombongan lainnya Tgk. Zuhri Padang Tiji saat di MUDI Samalanga populer dengan Tgk Oom Zuhri, hingga saat ini belum tahu wajah tasmiyah (indikator) dengan nama populer tersebut.

Alumni MUDI Samalanga yang kini juga dipercayakan memimpin Lembaga Pendidikan di tanah kelahiran jauzahnya (istrinya) Garot Seuke Geulumpang Baro, Pidie, Dayah Nurul Yaqin Al-Aziziyah. Sosok satu menjadi suplemen dan membuat supir tunggal CekDin mampu bertahan menjadi nahkoda CR-V dengan petuah dan ilmu yang brilian disampaikan Waled Zuhri.

Tawa tidak pernah berhenti membahana menghiasi perjalanan yang melelahkan dengan tujuan takziyah ke rumah ulama kharismatik Aceh Waled Marhaban Bakongan yang juga ayah dari Tgk.H Mubarak guru senior Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang kini telah mendirikan Dayah di pantai barat selatan.

Paparan dan kupasan Tgk Om Zuhri menjadi ilmu baru dengan penyampaian santai dan mengundang tawa siapa saja yang mendengarnya, jama'ah rombongan tersebut terkesima dengan kupasan Waled Zuhri beragam ilmu termasuk dalam melestarikan keutuhan rumah tangga. Sekaliber Cek Din, Abah Iswadi dan lainnya terkesima dengan paparan tersebut juga mencatat dalam memori masing masing "tarekat" Waled Zuhri dalam memanjakan sang jauzah melebihi apa yang dipaparkan Dokter Boyke, apa itu tarekatnya, rujuklah kepada Waled Zuhri?

Beragam paparan lainnya disampaikan Tgk Om Zuhri memadamkan "teungeut" dan Tawa sahut menyahut bahkan membuat perut merana bahkan Tgk. Abdul Ghafur yang juga serombongan lain mobil merasa sangat rugi tanpa bersamaan dengan Tgk. Oom Zuhri Cs. Kelihaiannya sebagai mediator kelahiran Pidie ini membuat semua persoalan dan tantangan clear dan selesai, inilah sekelumit sosok Waled Zuhri (Tgk Om Zuhri)

CR-V menjelajahi pantai barat selatan itu sejak pukul 02. 00 WIB dinihari setelah singgah makan dan minum melepaskan penat juga shalat Dhuhur di Masjid yang tidak pinggiran laut Samudera Hindia. Memasuki kawasan negeri Abuya Muda Waly Al-Khalidy sangat terasa aura negeri wali tersebut.

Beberapa tempat wisata di sepanjang Aceh Selatan yang terkenal dengan negeri penghasil pala tersebut berjarak lebih kurang 10 jam dari pusat ibukota Provinsi

Selain hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi andalan daerah tersebut. Negeri Pala itu juga menyimpan dan memiliki pesona alam yang asri dipadukan dengan beragam adat istiadat dan budayanya termasuk memiliki bahasa tersendiri selain bahasa Kluet dan bahasa Jamee.

Juga keindahan semakin terpesona dengan Kekayaan alam tidak tertandingi dengan Kabupaten lain, fenomena ini terlihat berbatasan langsung dengan hutan Ekosistem Leuser. Pemandangan hutan hujan yang indah ini makin aduhai dengan bentang pantai indah yang terhampar luas ke Samudera Hindia.

Melintasi Wilayah Aceh Selatan, tak lengkap tanpa singgah di tempat bersejarah dan tempat yang kerap dikunjungi wisatawan yang dikenal dengan sebutan Jambo Hatta. Jambo Hatta merupakan sebuah gubuk yang dibuat berbentuk panggung dengan ornamen klasik khas Aceh Selatan.

Menikmati keindahan alam dan udara yang asri rombongan Tgk Oom Zuhri singgah melepaskan penat sambil menikmati makan Dhuhur bersama sambil melepaskan candaan kocak ala Tgk Om Zuhri. Keberadaan Jambo Hatta terletak di puncak Gunung Pintoe Angen tepatnya di antara Gampong Lhok Rukam dan Gampong Panjupian. Dari pusat kota Tapaktuan cukup menempuh jarak lebih kurang 8 km atau sekitar 15-20 menit perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Berdasarkan catatan sejarah, Jambo Hatta merupakan tempat ini pernah disinggahi Wakil Presiden pertama Indonesia yang juga sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia Muhammad Hatta saat dalam perjalanan keliling Aceh sekitar tahun 1953. Singkat cerita tempat tersebut populer dengan Jambo Hatta.

Ungkapan Jambo karena bentuknya seperti gubuk namun dengan arsitektur khas Aceh menyerupai rumah panggung. Memasuki Jambo Hatta melaui beberapa anak tangga yang harus kita naiki. Secara umum gubuk tersebut terbuat dari kayu. Beberapa bagian tampak sudah terkelupas, seiring usianya yang kian menua. Jika kita lihat, bangunan 2 lantai ini berasistekkan gaya klasik khas Aceh Selatan tempo dulu. Katanya, bangunan ini sudah sempat beberapa kali dipugar.

Di bawah jambo ini terdapat sebuah prasasti sebagai bukti Bung Hatta pernah mengunjunginya dengan bunyi sebagai berikut :
"DI TEMPAT INI, PROKLAMATOR/WAKIL PRESIDEN RI, DRS MOHAMMAD HATTA, BERISTIRAHAT DALAM PERJALANAN KELILING ACEH DI TAHUN 1953, UNTUK MEMPERERAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA."

Tempat ini sekarang sudah menjadi tempat wisata yang memiliki nilai sejarah. Letaknya di badan jalan menjadikan tempat ini strategis untuk disinggahi. Selain sebagai tujuan wisata, bagi pengguna jalan yang melewati Jambo Hatta bisa singgah untuk istirahat karena di sini terdapat cafe, WC umum, dan musala.

Perjalanan terus melaju menuju negeri Bakongan tempat takziyah almarhum Waled Bakongan. Cek Din dan rombongan juga rombongan lainnya menuju Dayah Raudhatul Muna Bakongan Aceh Selatan sampai di Magrib.

**Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Jambo Hatta, Aceh Selatan, 28 Agustus 2021