Breaking News

Meraih Ridha Sang Guru dalam Menggapai Kesuksesan

Meraih Ridha Sang Guru dalam Menggapai Kesuksesan
Al-Mukarram Abu Ishak Lamkawe bersama salah seorang muridnya

Dunia tanpa ada guru rasanya hampanya  dan matinya sendi kehidupan. Keberadaan seorang guru sangat penting peranannya dalam membumikan kebaikan dan perbaikan serta kelangsungan rotasi pendidikan dan kehidupan di muka bumi ini terlebih di era millenial seperti saat ini. Dunia tarbiyah di era industri 4.0 atau Millenial sangat pentingnya melahirkan sosok anak didik dengan pendidikan karakter. Setiap Iindividu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang baik terhadap Allah Yang Maha Kuasa, dirinya ,sesama lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional.

Pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan di sertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya). Dengan adanya pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang siswa akan menjadi cerdas emosinya. Bekal penting dalam mempersiapkan seorang siswa dalam menyongsong masa depan adalah kecerdasan emosi, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Selain itu, pendidikan karakteradalah kunci keberhasilan individu.Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah hati (kejujuran dan rasa tanggung jawab), pikir (kecerdasan), raga (kesehatan dan kebersihan), serta rasa (kepedulian) dan karsa (keahlian dan kreativitas). Pendidikan karakter di lakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga ,satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. (Dwi Yuni Arsih, Pentingnya Pendidikan Karakter, 2017).

Dewasa ini, fenomena aktifitas dan kenyataan di dunia pendidikan dalam mengemas sebuah pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran sekarang ini belum optimal seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dengan kekacauan-kekacauan yang muncul di masyarakat bangsa ini, diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi atas kekacauan ini. Beranjak dari itu pendidikan dengan basis karaktrer sangatlah penting untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam dunia tarbiyah, seseorang tidak akan memperoleh ilmu tanpa melalui perantaraan muallim (guru) baik secara langsung atau tidak langsung. Seorang murid dengan sungguh-sungguh menunut ilmu dari gurunya, dan seorang guru dengan tulus ikhlas memberikan pendidikan dan pengajaran kepada muridnya, hingga dengan demikian terjadilah hubungan yang harmonis antara keduanya. Murid yang mendapatkan ilmu pengetahuan dari gurunya dengan cara demikian akan memperoleh ilmu yang berkah dan bermanfaat. Seperti yang telah disebutkan diatas, dalam menjalani kehidupan sehari-hari prosesi rabitah (ikatan bathin) itu banyak yang telah kita lakoni walaupun dalam berbagai versi aplikasinya sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Didunia pendidikan umpamanya, rabithah antara murid dengan guru biasa adalah menyalurkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), sejauh mana seorang murid mampu mencerna dan menangkap apa yang telah disalurkan oleh sang gurunya tersebut, itulah yang diperoleh oleh anak didiknya. Sedangkan dalam persoalan kerohaniahan, rabithah antara murid dengan guru mursyid yakni menyalurkan masalah kerohaniahan atau yang sering disebut denagn “transfer of spiritual”.

Persamaanya “tranferisasi” nya membutuhkan seorang mursyid (guru), sebab tanpa perantaraan guru tidak mungkin murid memperoleh “keilmuan”nya. Bahkan sinilah letak perbedaannya. Transfer of knowledge tidak akan sempurna tanpa peranan guru, terlebih lagi “transfer of spiritual“ yang jauh lebih spesifik dan tinggi perkaranya, maka tidak akan terkoneksi spritualnya tanpa guru mursyid. Bahkan Imam Abu Yazid Al-Bustamimenyebutkan: ” Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syaitan”. (Tafsir Ruhul Bayan Juz V, hal 203). Bentuk rabitah seorang pelajar dengan gurunya, mereka menghoramti guru dan ahlinya dan menjalankan apa yang telah diketahuinya, dengan berbuat apa yang diketahui Allahpun akan memberikan ilmu yang belum diketahuinya.

Kebersamaan terutama dengan murabbi (guru) yang telah mendidik kita tanpa pamrih dan penuh keikhlasan. Keberhasilan seorang murid (thalib) sangat tergantung dari doa dan keridhaan sang murabbi.
Keberhasilan yang di raih seorang murid secara esensial bukanlah usaha sang murid itu tetapi sejauh mana keridhaan dan kesungguhan serta keberkahan dari murabbi, walaupun tidak menafikan usaha dari murid itu sendiri.

Bahkan kedudukan orang tua lebih mulia dari murabbi, sangat wajar dan layak kita sebagai murid menempat sang murabbi dengan doa dan keridhaannya sebagai kunci kesuksesan dan keberhasilan dalam mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat.Sebuah kisah menarik yang menjadi sebagai sebuah anugerah yang tidak dapat tidak berharga dari seorang sufi besar di dunia. Beliau adalah Syekh Habib Umar Bin Abdurahman Al-Atthas RA.Beliau merupakan sebagai seorang penyusun Ratib Al-Atthas. Pernah pada suatu waktu dalam sebuah halaqah pengajian, sedang duduk bersama para santrinya. Ada satu santri yang bernama Syekh Ali Baaros RA sedang duduk di sampingnya sambil memijit kaki sang murabbi (guru) itu.

Habib Umar terdiam sesaat dan berkata kepada muridnya: “Kita kedatangan tamu istimewa, Nabi Khidir AS. Sekarang beliau sudah berada di gerbang depan.”Mendengar dawuh sang murabbi, para murid sangat gembira dan berhamburan menuju gerbang depan menyambut kehadiran Nabi Khidir AS. Namun hanya seorang yang tidak ikut untuk menyambut nabi Khidir, beliau bernama  Syekh Ali Baaros.

Melihat tingkah laku muridnya, sang murabbi keheranan, lanras Habib Umar Bin Abdurrahman bertanya kepada Syekh Ali Baaros: “Ya Ali, kenapa engaku tidak menyambut Nabi Khidir bersama teman-temanmu yang lain?” Syekh Ali Baaros menjawab: “Wahai guru, Nabi Khidir AS datang sengaja menemui engka. Untuk apa aku lepaskan tanganku dari kakimu karena kedudukanmu (yaitu sebagai guru) di mataku (sebagai murid) jauh lebih mulia dibandingkan Nabi Khidir”

Sungguh mulia dan penuh takdhim ungkapan seorang murid terhadap gurunya. Habib mendengar jawaban dari muridnya seperti itu, lalu berucaplah Habib Umar: “Tidak akan aku terima hadiah Fatihah dari siapapun untukku kecuali disertai dengan nama Ali Baaros. Ini bukti keridhaanku kepadanya!”Dengan keridhaan guru, Syekh Ali Baaros yang berguru puluhan tahun kepada Habib Umar dengan berkhidmat dan mengabdi di kemudian hari bisa menjadi ulama besar yang banyak memberi manfaat kepada umat.

Kemuliaan guru seperti orang tua kita. Namun, rahasia dunia ada pada kedua orang tua, sedang rahasia akhirat ada pada tangan guru.“Law Laa Murabbi Ma Araftu Rabbi” (Jika bukan karena guru, maka aku tidak akan mengenal Tuhanku).Sungguh mulia akhkak dan ketakdhiman seorang murid. Kebersamaan dengan guru bukan hanya di maknai kedekatan jarak dan sering berkunjung, namun esensialnya sejauh mana sang qalbu seorang murid dalam menghormati dan memuliakan mereka. Dalam bahasa tasawuf dengan dengan rabitah (ikatan bathin). Rabitah kepada guru menjadi kunci kesuksesan.

Menjadi seorang murid bukanlah dengan membangkan sang gurunya, namun esensial seorang murid, mereka yang di banggakan oleh murabbi (guru)nya seperti cerita Habib diatas sangat bangga dengan muridnya Syekh Ali Baros. Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Abu abbas Al-Mursyi: "Bukanlah seorang murid yang berbangga dengan gurunya, akan tetapi murid adalah yang dibanggakan oleh gurunya"

Berangkat dari penjelasan di atas, momentum HGN (Hari Guru Nasional) yang diperingati setiap tanggal 25 November setidaknya seorang guru yang merupakan pahlawan tanpa jasa terus melangkah dalam pengabdian meraih ridha-Nya juga sebagai anak didik atau murid tidak melupakan jasa sang guru dengan mengaplikasikan ilmu yang telah diajarinya dan mendakwahkanya serta tidak lupa memanjatkan doa kepadanya. Amin.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
**Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAIA Samalanga serta alumni Dayah Baldatul Mubarakah al-Aziziyah Pimpinan Abu Lamkawe

Iklan Biro Pengadaan Barang dan Jasa
DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan
Iklan Badana Pengelola Keuangan Aceh