Breaking News

Menjaga Kondisi Mental di Masa Pandemi

Menjaga Kondisi Mental di Masa Pandemi
Foto : Freepik

Author : Akhsanul Khalis

Seiring bertambah banyaknya orang di Aceh yang terinfeksi Covid-19, menjadikan situasi semakin tidak menentu akhirnya berdampak terhadap kondisi mental, terkadang orang terlalu reaktif terhadap situasi pandemi, hingga mengakibatkan juga stabilitas emosi tidak terkendali. 

Terkait masalah kesehatan mental pada masa pandemi cenderung tertutupi dan tidak tampak langsung ke permukaan, kelihatan seseorang masih bisa tersenyum namun di dalam batin terjadi pergolakan yang berat. 

Menurut departemen kesehatan Amerika CDC ( Centers for Disease Control and Prevention), Pandemi COVID-19 mungkin membuat stres bagi sebagian orang. Ketakutan dan kecemasan tentang penyakit baru ini sangat membebani dan menyebabkan tekanan emosi yang kuat pada orang dewasa dan anak-anak. Tindakan protokol kesehatan di masyarakat, seperti jarak sosial, dapat membuat orang merasa terisolasi dan kesepian, serta dapat meningkatkan stres dan kecemasan. 

Kemudian faktor dis-informasi tentang pandemi di media juga rentan memperparah kondisi kesehatan mental. Bahkan WHO telah mempublikasikan istilah baru yaitu infodemik sebuah istilah yang mengenai informasi terlalu banyak tentang suatu masalah, sehingga sulit untuk mengidentifikasi solusinya. Infodemik dapat menyebarkan informasi yang salah, disinformasi, dan rumor selama keadaan darurat kesehatan.  

Terpaparnya informasi yang salah selama pandemi mengakibatkan seseorang semakin terserang kepanikan dan dirundung kecemasan. Padahal kondisi mental sangat penting dijaga disaat pandemi, imunitas tubuh sangat dipengaruhi kondisi pikiran. 

Tetap Tenang

Hasil wawancara singkat dengan Siti Hajar S.Psi.,S.Sos.I., M.A selaku fasilitator komunitas Wellbeing Shelter, -sebuah lembaga nirlaba yang bergerak mengkampanyekan kesehatan mental dan meminimalisir stigma negatif terkait kesehatan mental di Aceh-. 

Menurut paparannya, dampak pandemi memang memberikan pengaruh secara langsung terhadap kondisi mental bagi setiap orang dengan relatif berbeda-beda. 

Secara otomatis pikiran manusia akan merespon ancaman, karena di otak ada bagian yang berfungsi sebagai pusat kontrol emosi yaitu Amigdala. Apabila Amigdala terus terpacu terhadap respon ancaman, akan membuat perasaan manusia terus merasakan cemas berlebihan. 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa kecemasan berlebihan yaitu: harus melalukan "diet media", dalam hal ini diet media dimaksud sebagai tindakan memproteksi informasi yang tidak relevan, rumor negatif yang terkait dengan pandemi Covid-19. Seseorang bisa merasakan kepanikan apabila terus menerus mengonsumsi konten informasi yang bersifat rumor. 

Akan lebih baik, setiap hari itu di isi dengan aktivitas yang positif, seperti berolahraga, membaca buku, menonton film dan berbagai macam kegiatan yang menyenangkan. Selama pandemi kita tidak boleh larut dengan situasi kegelisahan. 

Karena aspek terpenting cara kerja psikologi, bagi setiap orang itu punya kontrol emosi; misalkan ketika kita menghadapi sesuatu yang membuat pikiran tidak tenang, kita harus segera keluar dari zona itu (beradaptasi) dan masuk ke zona yang lebih positif. 

"Intinya tidak boleh terus berlarut-larut dengan ketegangan pikiran dan emosi, segera melakukan tranformasi pikiran. Jangan memforsirkan pada satu masalah, kalau bahasa gaulnya harus segera "move on", kita sudah tahu Covid-19 sebagai bahaya, cukup waspada dengan menjalankan protokol kesehatan tapi jangan paranoid, "papar alumni S-2 psikologi UGM ini. 

Akhsanul Khalis

Kolumnis Ruangberita.co

Iklan Biro Pengadaan Barang dan Jasa
DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan
Iklan Badana Pengelola Keuangan Aceh