Breaking News

Menggapai Harapan Baru di 2021

Menggapai Harapan Baru di 2021Freepik

Kita telah meninggalkan tahun 2020. Tahun yang begitu berat bagi semua orang. Tentu saja, 2021 menjadi tahun harapan untuk melangkah lebih baik lagi. Ada baiknya tahun baru ini dibarengi dengan ragam resolusi, sebagai arah untuk mempersiapkan diri mencapai cita-cita.

Langkah tersebut dilakukan oleh Dewi Rahmayuni (22), mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah. Perempuan yang akrab disapa Yuyun itu mengawali tahun baru ini dengan melakukan refleksi diri terhadap waktu yang ia lalui setahun lalu. Ia mengatakan, tahun 2020 merupakan tahun yang berat baginya.

Awal tahun lalu Yuyun harus dihadapkan dengan kenyataan yang begitu berat. Kelulusannya sebagai seorang sarjana disambut oleh pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia. Sebagai seorang perantau kenyataan tersebut tentu tidak begitu baik baginya.

Pada Februari tahun lalu, Yuyun dinyatakan lulus mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan pascasarjana di China. Namun demikian, karena pandemi Covid-19 juga, apa yang telah ia peroleh itu harus dibatalkan. Rasa sedih dan kecewa kian meliputi pikirannya.

 

Dewi Rahmayuni, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

"Pada bulan Maret saat awal pandemi itu aku jatuh sakit dan orangtua meminta aku untuk pulang ke Aceh. Saat di Aceh, ternyata dapat kabar beasiswanya tidak bisa dilanjutkan,"kata Yuyun yang dihubungi lewat sambungan telepon pada Selasa, (5/1/2021).

Rasa bingung dan galau menghantui Perempuan kelahiran 1998 itu, selama berada di kampung halamannya di Bireuen, Aceh. Sulitnya mendapat pekerjaan menjadi salah satu sebab rasa tersebut mendera dirinya.

"Selama di Aceh aku kebingungan kali, gatahu ngapain gitu. Mau cari kerja susah banget kan, apalagi tengah kondisi corona,"kata Yuyun.

Setidaknya ia menghabiskan empat bulan waktu di Aceh. Berbagai usaha telah ia lakukan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Mulai dari mencari iformasi di media massa hingga menghubungi rekan-rekannya yang telah lama menetap di Banda Aceh.

Setelah melalui beberapa bulan waktu, ia pun memantapkan tekad dan niat untuk memilih berangkat kembali ke Jakarta pada bulan Juli. Menurutnya, ibu kota dapat menjadi jawaban atas segala keresahan yang menghantuinya selama di Aceh. "Aku pilih untuk balik ke Jakarta buat lanjut S2 dan juga bekerja. Ya harus kerja, karena biaya Pascasarjana harus saya biayai sendiri."

Setelah melalui berbagai persoalan pada tahun 2020, Yuyun mulai menetapkan sejumlah resolusi pada tahun ini, antara lain, mendapatkan kembali beasiswa pascasarjana ke China, mendapatkan pekerjaan di perusahaan idaman dan lulus kuliah dengan predikat terpuji. Cewek yang baru saja menyelesaikan semester pertama di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah ini berhasil mendapatkan indeks prestasi 4. “Jika tahun ini masih harus melanjutkan kuliah di sini, harapannya aku masih bisa mempertahankan IP tersebut.”

Agung Rizki Marzuki, saat memantau pengeringan biji kopi.

Harapan untuk tahun lebih baik juga datang dari Agung Rizki Marzuki (23), anak muda asal Takengon, Aceh Tengah. Pada tahun ini ia mulai memantapkan diri mengembangkan bisnis kopi keluarganya. Sebelumnya hampir sepanjang tahun 2020 ia habiskan waktu untuk mencari pekerjaan, namun kondisi pandemi yang melanda negeri membuat usahanya itu terhambat.

“Untuk tahun 2021, aku akan berkerja keras mengembangkan usaha kopi ini. Ini resolusi utamaku. Aku yakin dengan beberapa cara baru dan melakukan inovasi, usaha kopi ini akan berkembang,”kata Agung, Alumni Sosiologi Universitas Syiah Kuala.

Agung mengaku telah melakukan sejumlah inovasi dalam bisnis kopi keluarganya. Jika sebelumnya hasil panen kopi dijual secara mentah, kini Agung mengolah terlebih dahulu biji kopi tersebut menjadi bubuk. Kemudian mengemasnya dengan kemasan yang kekinian dengan standar desain berkualitas. Setelah itu ia memasarkan bubuk kopi Gayo tersebut secara daring melalui media sosial.

Rahmayanti, Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry.

Berbeda lagi dengan Rahmayanti (22). Tahun 2021 menjadi kado terindah baginya. Pada tahun ini ia akan menjalani aktivitas barunya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), setelah dinyatakan lulus sebagai CPNS Kementerian Agama pada November tahun lalu.

Sejalan dengan kelulusannya sebagai ASN, Rahma memiliki resolusi untuk memberikan perubahan dalam dunia birokrasi pemerintahan saat ini. “Sebagai anak muda dan juga baru lulus kuliah, aku ingin memberikan perubahan dalam dunia birokrasi pemerintahan, caranya tentu mulai dari diri aku sendiri, berkerja lebih giat, disiplin dan tentu mengutamakan profesionalitas serta integritas.”

Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry itu, merasa kelulusannya sebagai ASN merupakan jawaban dari tuhan atas usaha dan rintangan berat yang ia lalui pasca lulus kuliah. Kelulusannya sebagai seorang sarjana disambut oleh pandemi Covid-19. Bencana tersebut tentu menjadi tantangan berat bagi dirinya.

“Tahun 2020 itu tahun yang berat, banyak rencana harus tertunda. Tapi aku coba laluinya dengan berbagai cara. Salah satunya aku coba tetap produktif selama bertahan di rumah, dengan mengikuti seminar dan belajar daring, baik dari youtube atau platform digital lainnya,”kata Rahma. [.]

Editor: