Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Mengenal Vertigo, Penyakit yang Membuat Manusia Sempoyongan

Mengenal Vertigo, Penyakit yang Membuat Manusia Sempoyongan

Oleh dr. Habibi Hibatullah


Vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar) tanpa sensasi peputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar atau badan yang berputar. Vertigo berasal dari bahasa latin “vertere” yaitu memutar. Vertigo termasuk ke dalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyongan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik.

Vertigo merupakan salah satu penyakit neurologi yang paling sering terjadi. Berdasarkan data epidemiologi dunia, kejadian vertigo mencapai hingga 30%. Selain itu, vertigo merupakan keluhan yang umum ditemukan pada klinik, hingga mencapai 20-30%. Angka prevalensi vertigo pada dewasa usia 18-79 tahun dalam seumur hidupnya mencapai 7.4% dengan angka insidensi 1 tahun 1.4%. Angka kejadian lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria. (dikutip dari Alomedika.com)


Berdasarkan penyebabnya, vertigo dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni vertigo sentral dan perifer. Vertigo sentral adalah jenis vertigo yang disebabkan oleh gangguan pada sistem saraf pusat.Sementara vertigo perifer adalah jenis vertigo yang disebabkan oleh masalah pada organ keseimbangan yang ada di telinga bagian dalam. Penyebab vertigo didominasi oleh penyebab perifer (hingga mencapai 80%) dengan angka kejadian paling banyak dari kelompok ini adalah Benign Paroxysmal Postural Vertigo (BPPV). 20% sisanya adalah penyebab dari sentral.


Gejala vertigo biasanya seperti rasa berputar baik tubuh ataupun lingkungan, perasaan melayang, telinga berdenging, mual muntah atau keringat dingin. Namun terdapat perbedaan gejala pada kedua jenis vertigo tersebut. Vertigo Perifer keluhannya dirasakan lebih berat, namun durasi lebih singkat. Sedangkan pada vertigo sentral keluhan yang dirasakan tidak terlalu berat tetapi durasi lebih lama. Diantara kedua jenis vertigo ini, vertigo sentral yang lebih berbahaya karena dicurigai terdapat massa (tumor) yang harus segera mendapatkan penangganan. Sedangkan pada vertigo perifer, umunnya disebabkan oleh gangguan pada telinga tengah seperti pada kasus BPPV (Benign paroxysmal positional vertigo) dimana vertigo tersebut muncul karena perubahan posisi tubuh seperti dari duduk ke berdiri begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu BPPV umumnya dirasakan saat bangun tidur di pagi hari.

Terdapat faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami vertigo di antaranya adalah berusia di atas 50 tahun, mengalami kecelakaan, memiliki riwayat di dalam keluarga, mengalami stres berat, mengonsumsi alkohol dan merokok.

Pemeriksaan vertigo

Untuk menegakkan diagnosa vertigo dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, seperti Pemeriksaan laboratorium darah rutin, urin, dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Lalu dapat dilakukan pemeriksaan Foto Rontgen tengkorak, leher, Stenvers (pada neurinoma akustik), Elektroensefalografi (EEG), Elektromiografi (EMG),
Brainstem Auditory Evoked Potential (BAEP).Pencitraan CT-scan, arteriografi, magnetic resonance imaging (MRI).

Sedangkan untuk pemeriksaan sederhananya dapat dilakukan permeriksaan manuver Dix-Hallpike. Jika positif, itu adalah BPPV yang merupakan vertigo perifer. Tetapi jika hasil pemeriksaannya negatif, dapat dicurigai vertigo sentral.

Penangganan vertigo

Penangganan yang umumnya dapat dilakukan untuk mengatasi vertigo adalah dengan mengkonsumsi obat-obatan vertigo yaitu obat antihistamin H3 dan obat-obat vertigo yang lain. Selain itu dapat dilakukan metode-metode sederhana untuk mengatasi vertigo. Salah satu metode yang paling populer dalam mengatasi vertigo adalah manuver Epley atau penempatan cairan di saluran telinga menuju tempat lain yang menyebabkan ketidakseimbangan atau rasa pusing.

Di sisi lain, jika mengalami gangguan pada leher atau punggung karena cedera atau kondisi kesehatan lainnya, maka salah satu pilihan pengobatan lain yang bisa diambil adalah metode Brandt-Daroff. Kedua teknik tersebut dapat dilakukan tanpa adanya pengawasan dokter. Jika keluhan tidak membaik setelah melakukan metode-metode diatas maka harus segera berobat ke dokter spesialis neurologi untuk mendapatkan penangganan lebih lanjut.