Breaking News

Memahami Akar Kesejahteraan, Mengapa Negara Gagal?

Memahami Akar Kesejahteraan, Mengapa Negara Gagal?

 Oleh: Assauti Wahid
Pengamat Isu Sosial

Judul : Mengapa Negara Gagal : Awal mula kekuasaan, kemakmuran, dan kemiskinan
Penulis : Daron Acemoglu dan James A. Robinson (alih bahasa, Arif Subiyanto; penyunting, Dharma Adhivijaya; kata pengantar oleh Komaruddin Hidayat)
Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta
Halaman : xxiii, 582 Halaman
ISBN : 978-602-3487-8
Judul asli : Why nations fail : the origins of power, prosperity, and poverty
Teks dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan dari bahasa Inggris

Buku ini merupakan sebuah buku yang mengetengahkan kepada Anda sebuah kerangka teori berdasarkan riset mereka tentang mengapa sebuah negara bisa kaya, makmur dan mengapa negara lainnya justru miskin, tertinggal serta berlangsung dalam jangka waktu terlalu lama. Sobat semua, ketika ada soal, mengapa sebuah negara makmur dan negara miskin. Umumnya. Kita sering menjawabnya dengan hal-hal yang mudah dan menurut pendapat kita seperti faktor geografis atau faktor budaya atau karena faktor ras atau faktor kecerdasan.

Oleh dua profesor ini, ternyata semua jawaban-jawaban kita adalah keliru. Mereka telah melakukan riset dan kajian sejarah tentang bagaimana sebuah negara, sebuah peradaban timbul dan tergelam. Dan kesimpulan inilah yang dibahas dengan sangat mendetail di dalam buku ini. Ternyata bukan faktor geografis, bukan faktor budaya, bukan faktor pengetahuan. Di sini lebih cerdas dibandingkan yang lain. Tetapi faktornya ialah  Institusi.  Dua institusi yang sangat berpengaruh terhadap kemakmuran atau kesengsaran atau kemiskinan sebuah bangsa ialah faktor Institusi Politik dan Institusi Ekonomi.

Sobat sekalian, yang membedakan negara maju dengan negara tertinggal atau negara miskin ialah pada negara maju, senantiasa hadir institusi politik dan ekonomi yang inklusif yaitu institusi yang memberikan ruang partisipasi seluas-luasnya kepada rakyatnya.

Berbanding terbalik dengan negara miskin. Di negara-negara miskin yang terjadi ialah institusi ekstraktif yaitu institusi yang tidak memberikan ruang partisipasi dalam politik kepada rakyatnya. Tetapi hanya kepada kelompok-kelompok tertentu atau masyarakat elit di dalam negara itu. Begitu juga dengan ekonomi dikendalikan oleh kekuatan kecil di dalam negara dan ini tidak memberikan runag partisipasi dalam ekonomi kepada rakyatnya secara luas.

Nah, dalam buku ini, kedua penulis menjelaskan berbagai perbedaan kesejahteraan bangsa-bangsa adalah menggunakan kerangka ini. Misalnya ketika Anda mempelajari bagaimana negara-negara barat khususnya Amerika dan Eropa. Mereka lebih sejahtera karena sistemnya terus diperbaharui agar tercipta sebuah sistem politik yang inklusif dengan keterlibatan masyarakat mereka, serta memberikan ruang partisipasi politik yang lebih luas dan pada saat yang sama menciptakan sebuah sistem institusi ekonomi yang memberikan ruang besar bagi rakyatnya untuk berpartisipasi.

Sebagai contoh salah satu instrument partisipasi ekonomi adalah pemberian hak paten. Kita tahu, hak paten ini yang memicu lahirnya inovasi. Dari inovasi inilah kemudian ekonomi dapat tumbuh dengan baik di negara-negara maju. Setiap inovasi yang dilahirkan oleh rakyat baik secara personal maupun secara organisasi dilindungi oleh negara, membuat mereka senantiasa terus menciptakan, berekspresi dan menciptakan inovasi-inovasi baru dan membuat perekonomian semakin tumbuh dengan sangat pesat.

Berbanding terbalik dengan negara-negara miskin serta negara terbelakang. Di mana kekuatan politik hanya tersentralisasi pada kelompok politik tertentu dan kemudian pada saat yang sama akhirnya. Menciptakan sebuah institusi-institusi ekonomi yang digunakan untuk daya bagi kekuatan dukung politik ini. Ini  ialah sebuah lingkaran setan.

Sehingga ekonomi tidak terjadi pertumbuhan pesat. Mungkin ada orang kaya, tetapi kekayaan hasil dari monopoli bukan karena partisipasi pertumbuhan rakyat yang menciptakan pertumbuhan ekonomi rakyat secara menyeluruh. Sebagai perbanding sederhana. Misalnya, seorang Bill Gates di Amerika Serikat yang bisa menjadi kaya raya karena ia telah menciptkan teknologi kemudian memberikan manfaat kepada semua orang.

Dengan temuan Bill Gates ini, menumbuhkan perekonomian negara Amerika Serikat sedemikian rupa bahkan seluruh dunia. Dibandingkan dengan Carlos Slim Helu orang terkaya di Mexico. Memang ia kaya, mungkin kekayaan lebih banyak dari Bill Gates tetapi kekayaan itu tidak diikuti dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat secara keseluruhan karena ia kaya bukan karena penemuannya, bukan karena bisnis yang membuatnya mampu melahirkan kekayaan yang cukup besar tetapi karena menompoli bisnis. Dan ini salah satu contoh institusi bisnis si ekonomi yang ekstratif. Inilah yang diperbincangkan dalam buku dengan ketebalan 582 halaman, membandingkan antara salah satu negara dengan negara lain dan bagaimana institusi-institusi ini bekerja.

Lantas, ada realitas lain. Bahwa faktanya di beberapa negara lain ada institusi politiknya inklusif tetapi institusi ekonominya ekstratif dan juga sebaliknya. Ada institusi politik yang ekstratif tetapi institusi ekonominya inklusif. Ini tentu saja memiliki proses pertumbuhan yang berbeda. Misalnya, Afrika Selatan. Sejak runtuhnya politik apartheid, mereka menciptakan sebuah institusi politik yang lebih inklusif tetapi pada kenyataanya institusi ekonomi masih pada sifat ekstratif yang dikuasai oleh kelompok tertentu. Sampai ada istilahnya, pekerjaan-pekerjaan yang masih harus dikuasai oleh kulit putih dan tidak bisa diberikan kepada kulit hitam.

Nah, hal yang berbeda yang terjadi pada China. Di China institusi politiknya adalah ekstratif masih menggunakan sistem otoritarian dengan sistem satu partai tetapi sistem ekonominya sangat inklusif. Di mana seluruh masyarakat berpartisipasi didalam proses ekonomi dan ini yang membuat akhirnya mereka mampu mengentaskan kemiskinan pada masyarakat China.

Jadi parameter inilah yang digunakan oleh kedua profesor untuk menjelaskan mengapa sebuah negara bisa makmur, kaya dan mengapa sebuah negara justru terus-menerus mengalami kemiskinan. Buku ini luar biasa menarik, menurut saya Anda perlu membacanya.

 Kita bisa berkaca kepada bangsa kita. Apakah institusi-institusi ekonomi di negara kita ini sudah inklusif atau masih ekstratif? Apakah proses ekonomi itu sudah melibatkan banyak orang, memberikan regulasi-regulasi yang memberikan ruang kepada semakin banyak orang pula untuk berpartisipasi atau masih dikendalikan oleh kelompok tertentu yang kemudian membuat pertarungan atau proses bisnis didalamnya menjadi tidak seimbang karena monompoli didalamnya.

Dan apakah institusi politik kita itu bisa dikatakan sebagai katagori institusi yang inklusif atau masih memiliki nilai-nilai ekstratif yang bisa menghambat tumbuhnya atau munculnya lembaga-lembaga ekonomi atau institusi-institusi ekonomi yang inklusif.

Bagi saya, salah satu benefit dari buku setelah saya membacanya. Ialah saya tersadarkan bahwa kita jangan berkecil hati, hanya karena kita merasa bahwa mungkin orang Eropa jauh lebih hebat dari kita sehingga lebih kaya dari kita.

Tidak sekaya mereka, ternyata itu keliru. Problemnya adalah bagaimana kita mengelolah negara. Ketika kita mampu mendorong agar di negeri kita ini. Muncul sebuah institusi politik yang inklusif yang akan melahirkan institusi ekonomi yang juga inklusif. Maka, tidak mustahil kita akan tumbuh sebuah negara yang maju dan akan menjadi salah satu barometer ekonomi dunia.

Editor: