Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Maraknya Prostitusi Politik Era Millenial, Benarkah? (Bagian Pertama)

Maraknya Prostitusi Politik Era Millenial, Benarkah? (Bagian Pertama)

Covid-19 masih melanda negeri ini, pemerintah dengan berbagai pertimban tetap melanjutkan pilkada di tahun 2020 ini. Biasanya memasuki tahun politik baik menjelang pemilihan legilatif (pileg),  pilkada maupun pilpres tentunya bermacam fenomena lahir efek dari perpolitikan itu sendiri. Kita sering mendengar pelacur itu didunia prostitusi dan kehidupan malam. Namun dipanggung politik juga kerap lahirnya "pelacur politik". Sebelum membahas lebih lanjut, terlebih dahulu kita ulas pengertian "pelacur " dan "politik".

Perkins dan Bennet dalam Koendjoro (2004), memberikan pengertian pelacuran sebagai transaksi bisnis yang disepakati oleh pihak yang terlibat sebagai sesuatu yang bersifat kontrak jangka pendek yang memungkinkan satu orang atau lebih mendapatkan kepuasan seks dengan metode yang beraneka ragam.  Senada dengan hal tersebut, Supratiknya (1995) menyatakan bahwa prostitusi atau pelacuran adalah memberikan layanan hubungan seksual demi imbalan uang. 

Berdasarkan penjelasan diatas pelacur itu sebuah praktik penyimpangan demi mendapat kepuasan. Dalam pengertian yang lain pelacur itu menjajakkan kemolekan tubuhnya dan kecantikkan wajahnya kepada pria-pria hidung belang. Mengumbar setiap jenkal auratnya agar bisa terjual laku. Tapi itu semua mereka lakukan demi uang, -meskipun beberapa melakukannya demi kepuasan dan hobi toh pada akhirnya mereka mendapatkan uang juga.

Tak peduli apakah yang dilakukannya adalah zina dan haram, asal dapat uang, apapun jadi. Bahkan beredar gosip bahwa kini ada yang namanya melacur demi kepopuleran. Menajajakan tubunya, lubang surgawinya, demi kepopuleran, demi menyandang title artis. (A. Zamrud AK, 2014).

Salah seorang ilmuwan ternama Aristoteles menyatakan bahwa pengertian politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki. Sementara itu menurut Joice Mitchel yang mengatakan bahwa pengertian politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum masyarakat seluruhnya. Robert menyebutkan politik merupakan seni memerintah dan mengatur masyarakat manusia. Penjelasan dari definisi diatas dapat diambil sebuah pengertian politik merupakan seni atau cara dalam mengambil sebuah keputusan demi kehidupan masyarakat (umum).

Kita akan bertanyaa apakah pelacur politik itu mereka yang digunakan para politisi sebagai bentuk suap yang lain itu? Atau istri-istri simpanan para politisi? Ataukah orang-orang yang melacurkan tubuhnya demi kekuasaan? Tentu saja bukan. Disini kita ingin bukan membahas tentang oknum-oknum penjaja tubuh itu. Merujuk pada pengertian pelacur diatas, mencari orang lain atau kawan untuk saling memuaskan kemudian mendapatkan uang. Begitulah pelacur politik.

Mereka mencari kawan dan orang lain demi memuaskan hasratnya dan menebalkan kantong-kantong pribadi mereka meskipun dengan cara yang haram sekalipun. Para pelacur politik tidak malu lagi datang kepada pihak atau partai politik manapun dan menawarkan dirinya agar diusung sebagai calon. Perilaku seperti ini, tak ubahnya dengan yang dilakukan oleh para  pelacur atau PSK (Pekerja Sek Komersial) yang mana mereka menawarkan diri kepada semua orang untuk ditiduri demi melampiaskan keinginannya. (Aditiya Zamrud AK, 2014).

Keinginan para pelacur politik ini juga tidak semata-mata ingin mencari uang atau kekayaan dengan menduduki suatu jabatan tertentu. Ada pula yang sebatas melampiaskan dendam atau hanya ingin dipandang lebih hebat di antara para pejabat lainnya. bukan hanya itu di sisi tingkat intelektualnya, para pelacur politik ini justru memiliki keahlian dan pengalaman yang mumpuni, bahkan past perfomance-nya di ranah politik boleh dikatakan hebat, sebab pernah menduduki jabatan sekelas menteri beberapa kali. Naman sayang tidak didukung oleh kecerdasan emosionalnya. Namun apa boleh dikata, memang beginilah dunia yang punya beraneka rupa. Yang anehnya lagi, masih ada orang atau kelompok tertentu yang mempercayainya. Sudah jelas-jelas perilakunya seperti pelacur, masih saja diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri.

Sang Aktor Politik

Dunia politik kerap membawa berbagai macam fenomena. Saat musim politik tiba timbul dan lahirnya bermacam istilah,  diantara pelacur politik. Ungkapan Politik atau pelaku politik (politikus) dan pelacur tentunya mempunyai wajah (alasan) kesamaannya dari satu sisi walaupun ada perbedaannya.Sosok politikus dan pelacur sesungguhnya keduanya sangat berbeda, akan tetapi jika kita mengkaji pada substansinya lebih dalam, pelacur dengan politikus dalam batas-batas tertentu ada sedikit kesamaannya yaitu pada kepuasan. Politikus adalah seseorang atau kelompok orang yang berusaha atau terlibat dalam kegiatan politik, tujuannya mendapatkan kekuasaan. Dengan kekuasaan seseorang atau kelompok tentunya orang tersebutakan mendapatkan kepuasan. Sedangkan Pelacur atau prostitusi adalah orang yang berkegiatan dalam penjualan jasa seksual, tujuannya untuk uang dan kepuasan. Jadi ada sedikit nilai kesamaannya antara Politikus dengan Pelacur atau Pelacuran, yaitu kepuasan. (Imam Kodri, Kompasiana, 2015)

Selanjutnya Imam Kodri juga menambahkan dengan demikian tujuan berpolitik ujung-ujungnya adalah mendapat kekuasaan dan kepuasan. Demikian juga dengan melakukan pelacuran atau prostitusi si pelaku akan merasakan kepuasan. Kepuasan yang didapat dalam politik maupun prostitusi sifatnya sementara alias tidak abadi. Hanya saja kepuasan dari pelacuran atau prostitusi lebih cepat berlalu secepat anak panah melesak lepas dari busurnya. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Setiap besaran sesuatu fariabel tentu ada yang bernilai positip maupun negatip. Jika Politik dan Prostitusi dianggap sebagai suatu besaran dari fariabel yang menghiasai kehidupan umat manusia, maka baik politik maupun prostitusi seharusnya ada nilai positipnya dan negatipnya. Akan tetapi yang saya ketahui dalam pelacuran atau prostitusi sangat sulit mencari nilai positipnya bahkan oleh banyak kalangan prostitusi dianggap suatu perbuatan tercela. Oleh sebab itu dalam Prostitusi selalu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena si pelaku tidak akan sudi jati dirinya diketahui oleh umum, walaupun dalam proses ada kesepakatan oleh para pelaku-pelakunya. Sedangkan dalam politik akan mudah mencari sisi baiknya, baik dalam proses maupun hasil, Apalagi jika dalam proses Politik tidak dengan paksaan. 

Lantas bagaimana aksinya sang pelacur politik? Bersambung

Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya

Editor: