Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Local Wisdom "Siesta", Rahasia Bahagia Warga Sabang

Local Wisdom "Siesta", Rahasia Bahagia Warga Sabang

Oleh :  dr. Habibi Hibatullah

Dalam bahasa Spanyol, siesta artinya tidur sebentar. Kata siesta diambil dari bahasa
latin hora sexta yang artinya jam keenam. Karena kegiatan sehari-hari dimulai pada saat matahari terbit, maka enam jam setelahnya adalah siang hari.


Di Kota kecil Ador, dekat Valencia - Spanyol, tidur siang adalah hal yang suci. Begitu
sucinya sampai walikota menjamin hak warganya untuk tidur dalam satu peraturan hukum pada tahun 2015.


Semua yang ada di kota itu tutup mulai jam 2 hingga 5 dan semua suara harus dijaga
seminimal mungkin. Orang tua disarankan agar menjaga anaknya di dalam rumah dan main bola jelas tidak boleh ketika para warga menikmati '40 kedipan' -istilah yang merujuk pada tidur siang.

Bukan hanya orang Spanyol saja yang melakukan siesta. Siesta juga dikenal di negara-negara yang pernah memiliki sejarah dengan negara Spanyol. Misalnya di negara-negara mediterania seperti Yunani, Cyprus, dan Italia sampai Filipina dan Nigeria.

Local wisdom (Kearifan lokal) Siesta ala Sabang

Ternyata, di Indonesia juga ada budaya tidur siang unik yaitu tepatnya berasal dari Kota
Sabang di Provinsi Aceh. Masyarakat Sabang sejak zaman dahulu dikenal memiliki kebiasaan tidur siang yang telah menjadi budaya umum yang dipraktikkan seluruh masyarakatnya.


Budaya tidur siang di Sabang muncul akibat kondisi geografis wilayahnya yang
bercuaca cukup panas pada siang hari dan menurut cerita warga lokal, budaya ini sudah
mengakar sejak masa penjajahan Belanda. Umumnya pada masa itu, para penjajah Belanda menginstruksikan kepada para pedagang untuk menutup tokonya.


Alhasil, para pedagang rela menutup tokonya hingga para pekerja kantoran akan pulang
terlebih dahulu bila tiba waktunya tidur siang. Budaya ini masih bertahan sampai hari ini.

Hubungan Siesta dengan Kesehatan Warga Sabang

Kebiasaan siesta ini memberikan dampak baik bagi kesehatan fisik dan mental warga
sabang. Hal ini dirasakan penulis saat menanggani pasien yang berobat di Puskesmas tempat penulis bertugas.


Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar ) Aceh tahun 2012, hanya 4,12 persen warga sabang yang mengalami penyakit mental skizofrenia (gangguan jiwa). Dimana proporsi ini menempatkan Sabang sebagai peringkat 3 paling rendah penderita gangguan jiwa di Aceh.


Menurut penulis, hal ini tidak terlepas dari kebiasaan warga sabang yang terkesan santai dengan siesta (tidur siang)nya. Kebiasaan ini cukup baik dalam mencegah kasus gangguan jiwa tersebut dan meningkatkan quality of life (kualitas hidup).
Selain itu jika ditinjau dalam kesehatan fisik, kebiasaan tidur siang ini dapat mempengaruhi kebugaran fisik. Warga Sabang yang rutin tidur siang umumnya dapat tidur malam dengan lebih cepat alias mencegah insomnia. Senada dengan rutinitas malam warga Sabang dimana pukul 12 malam sebagian besar para pedagang sudah menutup tokonya dan aktivitas kota tidak ada lagi.


Harapan penulis, kebiasaan ini dapat diikuti oleh kabupaten/kota yang lain. Terbukti
berdasarkan pengalaman penulis, rutinitas warga sabang yang terkesan santai ini sangat baik dalam meningkatkan quality of life. Contohnya warga sabang dengan budaya tidur siangnya masih bisa memiliki rumah, kendaraan pribadi bahkan menyekolahkan anaknya sampai ke
perguruan tinggi. Terakhir, semoga kebiasaan tidur siang warga siang ini tidak tergerus jaman. Tetap menjadi warisan budaya “hidup” bagi generasi penerus.

Penulis saat ini sedang bertugas di Puskesmas Sukakarya Kota Sabang