Breaking News

Liga 1 Jalan Lagi atau Klub Mati

Liga 1 Jalan Lagi atau Klub Mati
Foto Tempo.co

RUANGBERITA.CO I Jakarta - Tak kunjung pastinya nasib Liga 1 membuat klub-klub kontestan gerah. Lima klub, yakni Persebaya Surabaya, Barito Putera, Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja Banda Aceh mendesak PSSI serta PT Liga Indonesia Baru (LIB) segera memutuskan status kompetisi.

"Ketidakpastian kompetisi membuat klub semakin berada dalam posisi sulit. Beban finansial semakin berat. Memutar kembali kompetisi adalah solusi untuk memperpanjang nafas klub," kata manajer Persebaya Candra Wahyudi.

Kevakuman kompetisi selama lebih dari 1,5 tahun tidak hanya memukul nasib pemain dan pelatih. Klub pun harus berjuang keras untuk tetap survive.

"Liga 1 harus segara berjalan lagi. Kami sudah menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi, tidak ada alasan untuk tidak menggelar lagi kompetisi," ujar Rahmat Djailani, sekretaris umum Persiraja. "Kami siap bermain di manapun," tegasnya.

Seruan juga dilontarkan kubu Barito. Asisten Manajer Barito M. Ikhsan menyatakan bahwa timnya sudah bersiap di Jogjakarta sejak dua bulan lalu. Tak hanya rela jauh dari markas mereka di Banjarmasin, Barito juga harus mengeluarkan biaya besar selama bersiap di Jawa.

"Jangan sampai kejadian musim lalu terulang. Kami sudah bersiap, ternyata liga tidak jalan. Klub pasti rugi besar," kata Ikhsan.
Setelah menunda satu bulan, PSSI harus segera memutuskan kapan kick-off Liga 1. Kabarnya, LIB sebagai operator kompetisi menyiapkan jadwal kick-off pada 20 Agustus. Format yang dirancang adalah semi bubble to bubble, mengadopsi suksesnya ajang Piala Menpora 2021.

"Semoga liga dimulai Agustus ini. Dengan protokol kesehatan yang ketat seperti Piala Menpora, saya rasa liga bisa berjalan aman," kata Manajer Persik Syarif Hidayatullah.
Sementara itu, Manajer Persita I Nyoman Suryanthara juga mendesak PSSI serta LIB secepatnya memberi kepastian kompetisi. Hal itu sangat dibutuhkan klub untuk menentukan langkah ke depan. Utamanya untuk memastikan kondisi keuangan klub dalam mengikuti kompetisi.

"Berjalannya lagi liga akan memutar roda ekonomi pelaku sepak bola. Tanpa kompetisi, selain tidak ada prestasi, klub juga bisa mati," ujar Nyoman.