Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Komunitas Guru Bahagia : Pandemi ! Apakabar Kesehatan Mental Guru dan Siswa ?

Komunitas Guru Bahagia : Pandemi ! Apakabar Kesehatan Mental Guru dan Siswa ?

RUANG BERITA. CO | BANDA ACEH - Komunitas Guru Bahagia membuat program podcast untuk membicarakan mengenai kesehatan mental para guru dan siswa selama pandemi.

Siti Maulia Rizki sebagai moderator dari  komunitas Guru Bahagia  dan Siti Hajar Sri Hidayati ditunjuk sebagai nara sumber dari komunitas Well-Being Selter - sebuah komunitas yang bergerak dibidang kampanye kesehatan mental di Aceh-.

Mengawali diskusi, komunitas Guru Bahagia merasakan adanya sejumlah kendala proses pembelajaran di masa pandemi terutama produktifitas pembelajaran yang dinilai minim akibat permasalahan mental, seperti kurangnya motivasi, minat belajar para siswa dan muncul masalah mental pada sejumlah guru.

Menurut komunitas Guru Bahagia proses transisi dan adaptasi di sektor pendidikan akibat Covid-19 memberikan dampak kepada kesehatan mental siswa dan guru. Masalah ini di rasakan kurang mendapatkan perhatian khusus.

Menurut narasumber diskusi Siti Hajar Sri Hidayati, dalam membuka topik terkait pemahaman psikologis "Ketika berbicara persoalan kesehatan mental bisa juga mempengaruhi kesehatan fisik. Penyakit fisik kadang-kadang muncul karena disebabkan mentalnya yang terganggu.  Apalagikan faktor bencana, termasuk pandemi telah memberikan pengaruh kepada kondisi mental.

Dampak Pada Siswa dan Guru.

Pada persoalan kondisi siswa dan guru, coba flashback ketika bulan 3 awal muncul corona di Indonesia, semua sekolah di liburkan, kondisi anak- anak lebih senang karena sekolah libur dan beralih ke online. Namun belajar online semakin lama membuat perbedaan terhadap proses belajar, siswa mulai jenuh.

Kita rasakan tantangan yang begitu komplek seperti terkendala juga pada fasilitas. Kebijakan di sektor pendidikan memang kelihatan serba salah sekarang ini, itu kita yakini menimbulkan stres kepada siswa, guru dan orang tua juga. "Terang Siti Hajar yang juga selama pandemi selain aktif mengajar di Universitas juga menjadi guru konseling bagi siswa di sekolah swasta.

Menurut Siti Hajar yang juga bergerak sebagai tenaga pengajar, melakukan pantauan selama pandemi, hasilnya ada beberapa kasus tentang mekanisme belajar yang menimbulkan persoalan, contoh kendala pemahaman pembelajaran bagi setiap siswa.

Hingga menimbulkan rasa malas dari para pelajar. Kemudian juga persoalan fasilitas gadget, banyak siswa yang tidak aktif belajar online. Pernah terdapat kasus, dari 30 siswa hanya aktif 4 orang belajar online. 

Selama proses belajar online bukan hanya siswa saja tertekan tetapi juga guru. Ada guru merasa emosional, membalas pesan satu persatu keluhan murid dan wali murid akibat merasa tidak paham dengan materi-materi pembelajaran, wali murid marah-marah kepada guru atau sebaliknya. 

Terkadang psikis guru terganggu karena faktor internal dan eksternal, misalkan setiap orang kan punya persoalan hidup masing-masing tanpa kita ketahui. Kemudian diperparah dengan proses belajar online yang belum terukur implementasinya.

Stres timbul dari persoalan karena faktor seperti yang diatas karena terganggu pemenuhannya selama pandemi. Nah solusinya apa ?

Pertama, apabila stress akibat faktor pelajaran tidak paham, tanya kepada guru. Konsultasikan kendalanya, guru harus siap juga. Harus ada penanggung jawab terhadap stres siswa yaitu guru BK (Bimbingan Konseling), dengan membuat penilaian, guru BK harus punya data setiap siswa, sistem kerja guru BK harus berkoordinasi dengan wali kelas dan guru mata pelajaran. Dipanggil siswa yang bermasalah ke guru BK, jadi selama pandemi lebih memberikan peran kepada guru BK. Karena selama ini peran guru BK tidak optimal.

Kedua, bagi siswa agar bisa keluar dari situasi stres, harus membudayakan disiplin waktu. Kerjakan segera tugas, atur waktu kapan belajar dan bermain. Harus ada manajemen waktu. karena kita tetap semua berpontensi stres. Makanya perlu disiplin waktu mengerjakan tugas.

"Hari sekolah untuk mengerjakan tugas, hari libur digunakan untuk bermain. Misalkan senin sampai jum'at digunakan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas, hari sabtu dan minggu digunakan waktu untuk bermain".

Ketiga, sebenarnya tidak semua stres itu negatif, ada juga stres positif yang membuat kita maju, seperti ibarat "per" dia butuh tekanan untuk bisa bekerja, yang perlu dihindari "distres", sehingga perlu pengelolaan stres yang tepat.

Keempat, guru juga berpotensi stres karena banyak sumber stres seperti masalah keluarga, anak-anak di rumah dan sebagainya. Karena "stresor" itu berkurang apabila semua perangkat sekolah menjalankan semestinya.

Persoalan mental harus terlibat kedua belah pihak antara guru dan murid. Selain siswa, guru harus sehat mentalnya. Para guru perlu ada rilis stres dengan berbagai macam kegiatan.

Kalau stres lakukan jeda, tetapi hanya sementara untuk mengurangi tekanan. Misalkan melakukan aktivitas menanam bunga atau urban gardening, membuat rajutan, memperbanyak aktifitas ibadah, berzikir dan sebagainya. Menurut sebuah jurnal penelitian 80 % kita mampu bertahan dalam masa pandemi ini yaitu karena faktor manajemen prilaku. "Jelasnya.