Breaking News

Kisah Inspiratif Lulusan Turki Dirikan Cahaya Aceh

Kisah Inspiratif Lulusan Turki Dirikan Cahaya Aceh
Azwir Nazar, pendiri Balai Cahaya Aceh. (Dok. pribadi)

RUANGBERITA.CO | Banda Aceh - Balai Cahaya Aceh, sebuah lembaga edukasi dan taman baca gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak yang ingin belajar. Pendirinya bernama Azwir Nazar, seorang lulusan Hacettepe University, Turki.

Azwir mendirikan Cahaya Aceh sebagai simbol spirit Tsunami. Ia bermimpi untuk membuat lebih banyak anak Aceh yang gemar belajar dan membaca. Bermodalkan pengalaman dan kemampuannya, Azwir dirikan bangunan berkontruksi kayu ala rumah panggung Aceh pada tahun 2017.

Balai tersebut ia bangun di atas tanah warisan orangtuanya di daerah Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.
“Sekarang sudah dibangun satu balai edukasi dan taman baca,” ucap pria kelahiran 4 Januari 1983 ini.

20210321-a2e46162-5cae-4ee3-8f6b-3c6f5cb65a0c
(Balai Cahaya Aceh menerima kunjungan tim media dari Jepang).

Mantan Presiden Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki periode 2016-2017 ini mengatakan siapa saja boleh datang ke Cahaya Aceh baik untuk belajar maupun mengajar.
“Para guru itu datang mengajar dengan tulus dan disiplin.  Bukan uang yang didepan, tapi pengabdian, mereka tidak dibayar, tapi doa anak-anak di balai akan membuka jalan kesuksesan mereka. Kelak mereka akan masuk dalam catatan sejarah,” tukasnya.

Rencana panjang Azwir 10-20 tahun ke depan adalah berdirinya Cahaya Aceh Academy yang memiliki program unggulan pada bidang pendidikan. Saat ini pihaknya sedang menempa murid Cahaya Aceh dengan fokus pada membaca Alquran, kemampuan berbahasa Inggris, Arab dan Turki yang kelak dapat menjadi penerus guru-guru disitu. Selain itu, anak-anak juga bisa belajar memanah, menari dan melukis, semuanya gratis. Bahkan balai ini sering digunakan ibu-ibu pengajian dan warga.

Peserta didik Cahaya Aceh beragam, mereka siswa-siswi setingkat SD, SMP dan SMA. Pada akhir tahun Cahaya Aceh mengadakan evaluasi melalui malam apresiasi untuk menampilkan kemampuan para pelajar, seperti pidato, baca puisi, serta tari daerah. Azwir sangat bahagia melihat perkembangan itu dan orang tua mereka mendukungnya.

“Saya bahagia, mereka kini sudah berani tampil, orangtua mereka sangat mendukung balai ini,” tutur pria yang telah mengelilingi beberapa negara Asia dan Eropa ini.

Azwir semasa kuliahnya memang sangat suka berorganisasi, ia pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII),  Iskada, Imada, HPI, AlWashliyah, remaja mesjid dan ormas lainnya. Azwir juga pernah menjadi konsultan media, pelatih training, dan pembicara pada kegiatan remaja. Tak hanya itu saja, Azwir juga sering mengikuti perlombaan dan pernah magang di tabloid Gema Baiturrahman untuk mengasah hobi menulisnya.
"Setiap pulang sekolah saya selalu ke Gema di Mesjid Baiturahman. Saya dipaksa menulis oleh Bang Sayed Muhammad Husen, senior di PII. Ada juga Ust Ameer Hamzah, bang Hilmi Hasballah, bang Murizal Hamzah, Bang Juniazi. Jadi mulai tahun 1999 saya sudah sering di Mesjid Raya,”kenangnya.

Semua yang diperoleh Azwir saat ini didukung usaha dan tekad kuat, lantaran ia pun bukan berasal dari keluarga berada.
"Saya berdiri disini karena rahmat Allah, doa orang tua, para guru, sahabat dan orang kampung serta orang-orang yang mencintai saya. Selain itu saya tidak memiliki apa-apa. Saya hanya anak tsunami dan nelayan yang memiliki tekad kuat untuk belajar," ungkapnya.

 Orang tua dan ketiga adiknya menjadi korban tsunami terbesar Aceh yang terjadi pada tahun 2004 silam, hanya ia dan adik bungsunya yang selamat. Sejak kejadian tersebut Azwir menjadi orangtua tunggal bagi adiknya yang baru kelas 3 SD.
"Saya hanya selamat berdua dengan adik, dan kami bertemu pada hari kedua," kenangnya.

Ia menceritakan saat tsunami menerpa, awalnya ia tidak tau. “Tapi saat itu saya belum tahu ada kejadian apa, malah ada yang berteriak kebakaran. Karena langit sudah menghitam, seperti mendung. Akhirnya kami memutuskan menjauh lari dari kerumunan manusia yang berdesakan itu. Baru kemudian saya melihat air hitam pekat. Alhamdulillah saya selamat dan tidak ada kena air,” pungkasnya.

Azwir sangat bersyukur dapat selamat dari bencana tsunami dan dapat menginspirasi banyak orang. Kisah Azwir bahkan telah dimuat pada sebuah koran Jepang The Tō-Ō Nippō Press. Kepala Biro Umum Kyodo Internasional Jepang, Mr. Kentaro Okada bersama timnya datang secara khusus ke Aceh  untuk meliput kisah Azwir.

Azwir sendiri menyelesaikan pendidikan S1 di  Uin Ar Raniry, Tadris Bahasa Arab, ia melanjutkan S2 di Universitas Indonesia jurusan Komunikasi Politik, kemudian mendapat beasiswa S3 di Hacettepe University dengan fokus studi Komunikasi Politik. []

Selamat Hari Raya Diskominfo Aceh
Iklan Bank Aceh Selamat Hari Raya
Iklan Pemkab Pijay
Selamat Hari Raya Sekda Aceh