Breaking News

Ketika Bumi Berguncang, Perlu Mitigasi Berbasis Teknologi

Ketika Bumi Berguncang, Perlu Mitigasi Berbasis Teknologi
Rut Sri Wahyuningsih

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Jawa Timur mengalami gempa bumi, tepatnya tanggal 10 April 2021, telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,1M di selatan Malang. Setidaknya 1.720 warga terdampak gempa bumi. Selain di selatan Jawa Timur, gempa itu juga dirasakan di Solo, Yogyakarta, Wonogiri, dan sekitarnya.


Presiden Joko Widodo memerintahkan pemerintah daerah segera melakukan langkah tanggap darurat, Instruksi yang sama juga diberikan Jokowi kepada kementerian serta lembaga negara terkait (inews.id, 11/4/2021).


Presiden Joko Widodo juga mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia berada di wilayah ring of fire atau cincin api, sehingga aktivitas alam yang berpotensi menjadi bencana alam dapat terjadi kapan saja. “Saya perlu mengingatkan bahwa kita ini berada di wilayah ring of fire, di wilayah cincin api, oleh karena itu, aktivitas alam dapat terjadi setiap saat." (Kompas.com, 11/4/2021).


Jika kita sudah paham topografi Indonesia terletak di wilayah ring of fire ( cincin api) tentu tak cukup jika hanya mengandalkan kewaspadaan. Butuh keputusan yang lebih serius, baik mengenai teknis antisipasi, penanganan saat kejadian maupun pasca bencana.


Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Azis Syamsuddin menekankan pentingnya mitigasi bencana melalui pemanfaatan teknologi. Menurutnya, ini poin penting yang harus mulai diterapkan oleh pemerintah. "Mitigasi dan sistem peringatan dini yang mengedepankan teknologi digital sudah menjadi keharusan. Penerapan ini penting disosialisasi ke masyarakat," kata Azis seperti dilansir Antara (merdeka.com, 11/4/2021).


Selain mitigasi bencana, sistem informasi peringatan dini bencana harus mudah diakses masyarakat. Khususnya di daerah pegunungan dan pesisir pantai. Hal ini sebagaimana hasil riset Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan riset pascabencana di Adonara, NTT. Masyarakat yang selamat dari musibah bencana di wilayah tersebut karena mendapat informasi dari grup WhatsApp.


Jelas, butuh pengerahan seluruh kemampuan agar bencana tidak memberi madharat pada manusia, negaralah harapan terbesar rakyat. Salah satunya yang kini menjadi kebutuhan urgen adalah dilakukannya penggunaan mitigasi berbasis teknologi agar deteksi dan proses penyelamatan bisa dilakukan dini.

Tak bisa lagi jika negara hanya "menunggu" datangnya bencana dengan persiapan seadanya. Dan memang itulah yang terjadi, negara seperti gagap setiap kali tertimpa bencana, malah lebih terkesan pencitraan. Sementara rakyat, LSM dan berbagai komunitas bergerak cepat dengan bermacam-macam tajuk kegiatan.

Tak ada salahnya, sebab amal sosial adalah fitrah manusia yang dibekali Allah SWT naluri berkasih sayang, sehingga dalam amalnya tak jarang kita mendapati seseorang yang peduli dan mampu menggerakkan orang banyak untuk perbaikan dan pertolongan. Hal ini sekaligus menegaskan posisi negara yang abai, lantas, berapa besar kekuatan rakyat untuk mengatasi bencana sekalipun dilakukan secara gotong royong?

Gempa dalam prespektif Islam sungguh berbeda dengan bencana lainnya. Umar pun mengingatkan kaum Muslimin ketika Madinah mengalami gempa agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali.


Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Namun bukan berarti kita pasrah begitu saja dalam menghadapi gempa. Setidaknya kita bisa mengupayakan mitigasi awal, agar bencana tak membawa mudharat berkepanjangan. Dan sekaligus bagian dari kepatuhan hamba kepada Sang Khalik untuk tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.


Lantas bagaimana negara khilafah menyiapkan teknologi mitigasi, penanganan bencana yang diiringi infrastruktur memadai? terdapat tiga fase yang harus dilakukan. Pertama, fase prabencana yang meliputi pencegahan, peringatan, dan persiapan. Kedua, fase respons terhadap bencana yang meliputi sikap tanggap terhadap keadaan darurat yang terjadi. Ketiga, fase pascabencana yang meliputi pemulihan hingga penyembuhan korban karena trauma. Ketimpangan salah satu dari ketiga fase di atas mengakibatkan kerugian material dan imaterial yang tak terhingga.


Dalam bencana gempa bumi, kendati belum bisa dicegah, namun risiko bencana tersebut dapat diminimalisasi melalui serangkaian upaya persiapan dan peringatan sebelum gempa bumi terjadi.


Islam mengatur kesadaran terhadap bencana melalui tiga konsep, yaitu pengetahuan ( Al-ilmu), ikhtiar dan tawakal (Furqan I. Aksa, 2020). Negara akan mengerahkan para ahli dan ilmuwan untuk mengetahui konsep mitigasi bencana apapun termasuk gempa, terutama karena hal ini berkaitan dengan hidup matinya seseorang. Hal ini bisa pula diawali dengan penyusunan kurikulum pendidikan yang berkaitan dengan life skill.


Kedua, seorang muslim harus berikhtiar dan berusaha dalam segala kondisi sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra'du 13:11 yang artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."


Poin kedua ini berupa kesiapan secara infrastruktur dan teknis menghadapi berbagai bencana, tentu ini membutuhkan pengembangan industri berat, sains dan teknologi. Jika hari ini negara kita lebih mempercayakan urusan profesional ini kepada asing, yang sebenarnya terlarang dalam agama, sebab artinya kita menyerahkan urusan dalam negeri kepada pihak yang inginkan lenyapnya Islam beserta ajarannya ( kufar) .

Ketiga, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha apa-apa, melainkan menyerahkan hasil dan dampaknya kepada Allah Swt, seiring dengan usaha maksimal untuk mengurangi risiko gempa bumi tersebut.

Ketiga hal ini tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit dan inilah pula yang menjadi kendala Indonesia selalu gagap menangani bencana sebab minim anggaran, pemerintah sebagaimana menurut Hammam Riza, Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), anggaran pemerintah untuk mitigasi bencana atau pencegahan dan persiapan mengurangi risiko gempa bumi tergolong minim.

Maka bagaimana bisa mengadakan perubahan? Bagaimana dengan Islam, darimana anggaran di dapat? Yaitu dari Baitul Mal, pos-posnya bukan didapat dari utang dan pajak, tapi dari pengelolaan SDA sebagai kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Hal ini terjadi hanya jika kita memiliki pemimpin yang menjadikan dirinya sebagai pelayan umat dan penerap hukum syariat. Wallahu a' lam bish showab. [•]

Penulis berdomisili di Jawa Timur dan saat ini aktif sebagai editor dan kontributor tetap beberapa web media sosial.

Iklan Pemkab Pijay
Gubernur Hardiknas
Hari Pendidikan Nasional Disdik Aceh