Breaking News

Kesuksesan Dibalik Doa Ibu (Refleksi Hari Ibu 22 Desember)

Kesuksesan Dibalik Doa Ibu (Refleksi Hari Ibu 22 Desember)
Tgk Helmi Abu Bakar Bersama Sang Ibunda saat wisuda Pascasarjana IAIN Lhokseumawe


Islam sangat menghormati sang ibu. Seorang ibu itu sosok wanita yang telah melahirkan, merawat, melindungi dan mendidik kita dengan sepenuh hati. Kedudukan wanita dalam Islam dan kedudukan seorang ibu adalah mulia dan penting, dan Islam mewajibkan kita sebagai umat muslim untuk berbakti dan patuh kepada seorang ibu.

Menurut Ar-Razi "Seorang ibu mengalami tiga fase kepayahan, mulai dari fase kehamilan, kemudian melahirkan, lalu menyusui. Karena itu, ibu berhak mendapatkan kebaikan tiga kali lebih besar dibandingkan ayah.

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi memberikan jawaban dengan ucapan “Ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan “Ayahmu”(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Hal itu karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan saat melahirkan, dan kesulitan ketika menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, sementara seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi : 239)

Alquran menggunakan kata “umm”. Karena dari ibu, memancarkan cahaya kesabaran dan kemuliaan pada hari kiamat nanti, karena itu kita diperintahkan untuk memuliakannya di dunia dengan pemuliaan yang mutlak dan tanpa batas. Maka sebagai seorang anak seyogyanya menisbahkan dirinya kepada ibu yang melahirkannya.

Bagi generasi salaf, penghormatan atas jerih payah mereka tekankan. Mereka menempuh bermacam cara untuk menunjukkan bakti terhadap ibundanya. Muhammad bin al-Munakkar, misalnya. Ia sengaja meletakkan kedua pipinya di tanah. Hal ini bertujuan agar dijadikan sebagai pijakan melangkah ibunya.

Selain itu, Ali bin al-Husain tak ingin makan satu meja dengan ibundanya. Alasannya? Ia takut bila merebut menu yang diinginkan ibunya. Ada lagi Usamah yang pernah memanjat pohon kurma, lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya. Mengapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab, “Ibuku memintanya. Apa pun yang ia minta dan saya mampu, pasti saya penuhi.”

Begitulah perhatian salaf terhadap ibu mereka. Aisyah bahkan pernah bertutur, ada dua nama yang ia nilai paling berbakti kepada sosok ibu, yaitu Usman bin Affan dan Haritsah bin an-Nu’man. Nama yang pertama tak pernah menunda-nunda perintah ibundanya. Sedangkan yang kedua, rajin membasuh kepala sang ibu, menyuapinya, dan tidak banyak bertanya saat ibundanya memerintahkan suatu hal.

Menurut Syekh Muhammad bin Ali Asa’awy dalam artikelnya yang berjudul “al-Ihsan ila al-Umm”, pengabdian dan bakti kepada kedua orang tua, terutama ibu, wajib hukumnya. Ini merujuk pada surah al-Isra’ ayat 23-24. Tingkat kewajiban berbuat baik (ihsan) kepada ibu itu bertambah kuat saat anak-anaknya dewasa.

Ia menjelaskan, bentuk ihsan kepada ibu bervariasi. Di level pertama ialah menjauhkan segala perkara buruk darinya, memberikan hal positif, berinteraksi dengan pekerti yang luhur dan etika kesopanan, peka terhadap perkara yang ia suka dan tidak, berdoa untuknya, dan segala ihsan yang dilakukan bertujuan untuk menggapai ridanya.

Berbakti dan berihsan kepada ibu adalah kunci dikabulkannya doa. Pengabdian kepada sosok ibu juga dikategorikan sebagai sebab masuk surga. Ini seperti tertuang dalam kisah Uwais. Tabiin tersebut adalah orang yang beruntung.

Rasulullah SAW menyebut bahwa siapa pun yang melihat Uwais maka hendaknya meminta doa ampunan kepadanya. Ini lantaran dirinya terkenal taat dan berbakti pada sang ibunda. Itulah yang mendorong Umar bin Khatab mencari keberadaan Uwais. Kisah pencarian Umar itu seperti tertuang di riwayat Muslim.

Syekh Asa’awy menjelaskan, pengabdian yang penuh (ikhlas) kepada ibu bisa mengantarkan seorang anak ke surga. Hal ini sebagaimana terjadi kepada Haritsah bin an-Nu’man. Dalam riwayat Ahmad disebutkan, Haritsah masuk surga berkat ihsan yang ia tujukan kepada ibunda. Dan, Haritsah adalah sosok paling berbakti untuk ibu.

Sebaliknya, mereka yang durhaka kepada kedua orang tua, khususnya ibu, akan mendapatkan ganjaran setimpal. Sanksi yang akan ia terima bukan hanya di akhirat. Akan tetapi, ia akan menerima akibat ulahnya itu di dunia.

Seperti ditegaskan dalam riwayat Muslim, setiap perbuatan dosa, Allah akan menunda siksaannya kapan pun Ia berkehendak hingga kiamat. Kecuali, durhaka kepada kedua orang tua. Allah akan mempercepat siksa bagi pelakunya di kehidupan dunia, sebelum mati. Ini mengingat durhaka—sebagaimana riwayat Bukhari—termasuk pelanggaran berat, dosa besar. Imam Syafi’i pernah bertutur dalam syairnya, “Tunduk dan carilah rida ibumu karena mendurhakainya termasuk dosa besar)

Keutamaan Doa Seorang Ibu yang Paling Mustajab

Doa seorang ibu adalah doa yang selalu dinanti anak-anaknya dan doa yang mujarab. Hal ini karena seorang ibu memiliki banyak keutamaan yang tentunya Allah mengangkat derajat tinggi seorang ibu yang telah berjuang keras dan berjihad untuk membesarkan anak-anaknya dengan ilmu dan kasih sayang.Akan tetapi ada yang berbeda dengan Doa dari ibu.

Doa ibu tentu saja berbeda dengan doa yang dipanjatkan oleh orang lain yang bukan merupakan orang tua atau bagian terpenting dalam hidup kita.Hal ini sebagaimana disampaikan dalam sebuah hadist bahwa, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” (HR Abu Daud)

Untuk itu, sangat logis dan rasional jika seorang anak diminta untuk selalu berbakti kepada orang tuanya dan memberikan yang terbaik untuk orang tua yang telah membesarkannya.Hal ini karena orang tua khususnya ibu telah berjasa besar untuk diri kita sehingga bisa memiliki kedewasaan hingga kini.

Berpijak kepada ulasan di atas, diantara kedua orang tua, namun yang lebih harus dibakti adalah ibu. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah bercerita: Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling ber hak untuk saya berbakti kepadanya dengan sebaikbaik nya? Beliau menjawab, Ibumu. Ia bertanya lagi, Lalu siapa lagi? Beliau menjawab, Ibumu. Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab lagi, Ibumu. Kemudian, siapa lagi. Beliau menjawab, Ayahmu. (HR al-Bukhari)

Nabi bersabda, :Sungguh celaka! Sung guh celaka! Sungguh celaka! Orang yang sempat menemui kedua orang tuanya di kala usia tua, baik salah satu atau keduanya, tetapi orang tadi tidak dapat masuk surga (sebab tidak berbakti kepada orang tuanya). (HR Muslim) Saking besarnya jasa ibu, satu amal baik seseorang terhadap ibunya belum dapat membandingi jasa ibu.

Kisah lainnya sebagaimana dinukilkan dari kitab Al-Kaba'ir karya Imam Adz-Dzahabi, dikisahkan, suatu hari Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil tawaf mengelilingi Ka'bah. Orang tersebut lalu bertanya kepada Ibnu Umar, Wahai Ibnu Umar, menurut pendapat Anda, apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku? Ibnu Umar menjawab, Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkan mu. Akan tetapi, kamu sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedi kit amal yang engkau lakukan itu.

Dikisah lain, ada seorang Habaib Sepuh yang diyakini banyak orang bahwa do’anya diijabah oleh Allah. Maka datanglah orang orang untuk dido’akan oleh beliau. Namun ketika orang orang datang kepadanya, beliau selalu bertanya, “Apakah kamu masih memiliki permata (Ibu) di rumahmu?” jika jawabannya masih, maka beliau dengan halus berkata, “Tahukah kamu?, bahwa do’a seorang ibu untukmu lebih mulia dan makbul dari pada Do’a seorang wali besar sekalipun”.

Oleh karena itu beruntunglah mereka yang ibunya masih diberi umur panjang, beruntunglah mereka yang memuliakan ibunya. Beruntunglah mereka yang masih bisa mencium tangan ibunya, melihat senyumnya, merasakan lembutnya sentuhan tangannya dan selalu mendapatkan do’a-do’a mustajab darinya.

Beranjak dari itu meskipun setiap tanggal 22 Desember diperingati Hari Ibu, namun memuliakan dan menghormati sang ibu sebuah kewajiban yang harus kita lakoni setiap waktu dan kesempatan bahkan ketika Ibu telah tiada. Keberhasilan dan kesuksesan hidup kita di dunia hatta akhirat tidak terlepas dari Ibu (orang tua). Sudahkah kita berbakti kepada ibu?

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, dikutip dari berbagai sumber.

Iklan Biro Pengadaan Barang dan Jasa
DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan
Iklan Badana Pengelola Keuangan Aceh