Breaking News

Kekayaan Alam dan Karakter Masyarakat yang Ramah Modal Bagi Aceh Menarik Investor

Kekayaan Alam dan Karakter Masyarakat yang Ramah Modal Bagi Aceh Menarik InvestorFoto:Net
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Ir. Abdullah Puteh

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh - Potensi sumber daya kekayaan alam yang luar biasa, plus karakter masyarakatnya yang ramah terhadap pendatang menjadi modal bagi Pemerintah Aceh untuk menarik para investor menanamkan investasinya di Aceh. Akan tetapi, hal tersebut harus mampu dimbangi oleh kemampuan 'leadership' yang harus dimiliki oleh pemimpin di Aceh.

Hal tersebut ditegaskan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Aceh, Ir. Abdullah Puteh, melalui sambungan langsung, Sabtu, 4 September 2021.

"Dengan catatan kemampuan leadership (kepemimpinan) nya dimiliki oleh pemimpin. Artinya di rumah kita punya macam-macam, orang mau ambil. Tapi kita tidak memberikan syarat-syarat, apa yang kamu mau ambil. Kalau mau ambil ini, kamu dapat berapa, saya dapat berapa," kata Abdullah Puteh.

Lebih lanjut, eks Gubernur Aceh periode tahun 2000-2004 ini membandingkan Indonesia dengan Vietnam. Menurutnya meskipun Indonesia lebih dahulu merdeka, namun Vietnam jauh lebih maju.

"Kenapa Vietnam lebih maju dengan Indonesia? Karena mereka 'menjemput bola'. Kalau ada pengusaha datang dari luar negeri, pemimpinnya datang menyambut. Dia jumpa dan dijemput. Kalau kita, datang pengusaha kita intip dulu. Dimana bisa ku ambil, kan begitu," jelas Abdullah Puteh.

Dikatakan olehnya, diantara seluruh provinsi di Indonesia Aceh memiliki sumber daya alam yang paling kaya. Begitu pula dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun yang ada di Lhokseumawe. Dalam pengamatannya, pada beberapa kawasan KEK di Indonesia seperti di Jawa Barat, yang menurutnya jauh lebih berkembang daripada di Aceh.

"Di Aceh tidak jalan-jalan saya lihat, sudah lama ya kan. Kita mau salahkan siapa? Harus kita pada kepemimpinannya. Kalau pemimpinnya tidak jalan-jalan, memanggil-manggil, menjemput bola, ya stagnan (berdiri ditempat)," ujar dia.

Dijelaskan oleh dia, situasi keamanan Aceh telah kondusif sehingga hal tersebut tidak menjadi kendala bagi investor. Akan tetapi, diakuinya oleh Abdullah Puteh stigma negatif tentang keamanan di Aceh masih melekat. Hal tersebut, jelas dia, diakibatkan oleh sumber dan referensi yang hanya sepihak.

"Kita DPD saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan beberapa negara luar seperti Korsel dan Jepang, saya katakan pada Dubes Jepang bahwa anda dulu kan punya perusahaan di Sabang, kenapa ditinggalkan? "Keamanannya pak gak menjamin". Jadi masyarakat luar masih menilai bahwa Aceh tidak aman, walaupun telah aman," beber Ketum KNPI periode 1984-1987 itu.

Menurut Abdullah Puteh, Pemerintah Aceh harus melakukan sesuatu untuk menetralisir stigma tersebut dan menjelaskan ke dunia luar bahwa Aceh telah betul-betul aman. Karena hal tersebut, sambungnya, dapat menjadi salah satu faktor terganggunya investor datang ke Aceh.

"Publikasi yang bagus. Pemerintah daerah harus benar-benar mempublikasikan ke luar bahwa Aceh telah benar-benar aman bagi investor," imbuh dia.

Dengan dana yang dimiliki Aceh saat ini, banyak hal yang bisa dilakukan Pemerintah Aceh untuk membangkitkan perekonomian di Aceh, misalnya dengan mendirikan perusahaan daerah di setiap Kabupaten/kota di Aceh.

"Berikan dana pada perusahaan daerah, gak usah besar, Rp 20 milyar misalnya, itu sudah bisa jalan. Mereka bisa melakukan sesuatu, buat batu bata, buat industri minyak goreng. Kita kan punya CPO dimana-mana, di Aceh Selatan, di Singkil, Aceh Tamiang. Kenapa tiap hari kita lihat CPO dibawa ke Medan, besok balik lagi ke Aceh dengan minyak goreng," terang dia.

"Kenapa pemerintah daerah tidak mengambil inisiatif ini. Dana ada, dirikan perusahaan daerah," tambahnya.

Saat disinggung upaya yang dilakukan para senator untuk mendorong investor datang ke Aceh, Abdullah Puteh mengatakan, pihaknya telah mendatangi pemimpin daerah untuk berdiskusi tentang potensi daerah tersebut, sekaligus upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

"Beberapa waktu lalu saya ke Aceh Tengah dan bertemu Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar. Dalam pertemuan itu saya mendiskusikan tentang potensi kopi yang dimiliki Aceh Tengah agar dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat," ungkap Abdullah Puteh.

Sebagai perwakilan daerah yang ada di Jakarta, dirinya mengaku siap jika Pemerintah Aceh membutuhkan atensi dan dukungan dari dirinya.

"Kalau kita dimintakan bantuan, kita akan cari jalan. Kita kan bisa komunikasi dengan menteri, dengan Dirjen, dengan Dubes. Itu yang akan kita lakukan," kata Abdullah Puteh.