Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Kehamilan Pada Masa Pandemi

Kehamilan Pada Masa Pandemi


Oleh dr. Rezki Muttaqin


Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan gangguan saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dan telah menjadi pandemi di seluruh dunia. COVID-19 telah menginfeksi hampir separuh penduduk dunia tidak terkecuali wanita hamil. Kerentanan wanita hamil terhadap infeksi menjadi latar belakang perlunya studi tentang pengaruh COVID-19 baik pada ibu, janin, maupun bayi yang dilahirkan.


Sebanyak 80% infeksi COVID-19 tergolong tanpa gejala (asimptomatis) maupun dengan gejala ringan (mild), 15% sedang (moderate) yang membutuhkan oksigen, dan 5% berat (severe) yang membutuhkan ventilator/alat bantu nafas (WHO, 2020). Gejala COVID-19 muncul setelah masa inkubasi (1–5 hari) yaitu masa dimana virus SARS-CoV-2 masuk dan menginfeksi saluran pernapasan manusia.

Gejala COVID-19 dapat terjadi pada hari ke 7 hingga ke 14 tergantung dari status sistem imun seseorang. Gejala klinis COVID-19 yang sering muncul yaitu panas tinggi (>37.5°C), bersin, sesak napas, dan batuk kering. Manifestasi klinis lain yang mungkin muncul pada pasien diantaranya adalah diare, berkurang atau hilangnya indera penciuman dan kerusakan paru-paru yang ditunjukkan dari pemeriksaan foto toraks (rontgen bagian dada).


Wanita hamil merupakan kelompok orang yang rentan mengalami gangguan kesehatan khususnya penyakit infeksi dikarenakan adanya perubahan fungsi normal tubuh (fisiologi) dan mekanisme respon imun di dalam tubuhnya. Menurut data Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Jakarta, 13,7% perempuan hamil lebih mudah terinfeksi Covid-19, dibandingkan mereka yang tidak hamil.


​Penyebab dari Covid-19 ini ialah coronavirus. Belum dipastikan berapa lama virus penyebab COVID-19 bertahan di atas permukaan. Lamanya coronavirus bertahan mungkin dipengaruhi kondisi-kondisi yang berbeda (seperti jenis permukaan, suhu atau kelembapan lingkungan).

Penelitian (Doremalen et al, 2020) menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat bertahan selama 72 jam pada permukaan plastik dan stainless steel, kurang dari 4 jam pada tembaga dan kurang dari 24 jam pada kardus. Coronavirus sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas. Dan tidak aktif dengan larutan Alkohol (etanol 75%), disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat, dan khloroform (seperti cairan pemutih pakaian).


Berdasarkan studi epidemiologi dan virology (cabang biologi yang mempelajari makhluk suborganisme, terutama virus) saat ini membuktikan bahwa COVID-19 ditularkan dari orang yang bergejala (simptomatik) ke orang lain yang berada dalam jarak dekat melalui droplet. Droplet merupakan partikel berisi air dengan diameter >5-10 μm. Penularan droplet terjadi ketika seseorang berada pada jarak dekat (dalam 1 meter) dengan seseorang yang memiliki gejala pernapasan (misalnya, batuk atau bersin) sehingga droplet berisiko mengenai permukaan mulut, hidung atau mata.

Penularan juga dapat terjadi melalui benda dan permukaan yang terkontaminasi droplet di sekitar orang yang terinfeksi. Oleh karena itu, penularan virus COVID-19 dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi dan kontak tidak langsung dengan permukaan atau benda yang digunakan pada orang yang terinfeksi (seperti gagang pintu, pegangan tangga, meja, kursi dan benda-benda di tempat umum lainnya).

Sebagai tambahan, bahwa terdapat kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik), meskipun risiko penularan sangat rendah akan tetapi masih ada kemungkinan kecil untuk terjadi penularan.
Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun dan tetap merasa sehat.

Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, nyeri kepala, mata merah, sakit tenggorokan, diare, hilang penciuman dan pembauan atau ruam kulit. Tidak ada perbedaan antara populasi umum dengan ibu hamil terhadap gejala yang mungkin timbul. Berdasarkan Royal College of Obstetricians and Gynaecologists atau disingkat RCOG 2020 menyatakan bahwa kehamilan dan persalinan tidak meningkatkan risiko infeksi terhadap COVID-19.

Perubahan sistem imun fisiologis pada ibu hamil, berhubungan dengan gejala infeksi COVID-19 yang lebih besar. Kebanyakan ibu hamil hanya mengalami gejala demam, pilek dan batuk derajat ringan sampai dengan sedang. Pada telaah sistematis dari 108 kasus kehamilan terkonfirmasi covid-19 didapatkan gejala paling sering dialami pasien adalah demam dan batuk. Lebih dari 90% tidak memerlukan terminasi kehamilan (Persalinan).

Risiko akan meningkat pada kehamilan dengan disertai penyakit lain seperti Hipertensi pada kehamilan, diabetes mellitus pada kehamilan atau penyakit-penyakit yang dapat mengganggu sistem imunitas ibu hamil.


Idealnya semua ibu hamil yang akan melahirkan dilakukan pemeriksaan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction test (RT-PCR) yang didapat melalui swab nasopharing dan oropharing (Cairan Hidung) sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosis pasti (dengan Swab RT-PCR).

Hal ini sesuai dengan rekomendasi terbaru dari RCOG yang menyarankan bahwa semua pasien yang masuk rumah sakit harus ditawarkan tes swab RT-PCR. Tujuan dilakukan swab RT-PCR selain untuk penegakan diagnosa pasti (dengan tingkat akurasi mencapai 80% hingga 90%), juga bertujuan untuk mendeteksi ibu hamil yang akan melakukan persalinan di fasilitas Kesehatan. Hal ini bertujuan agar apabila pasien tersebut terinfeksi covid Dokter dapat mengambil langkah awal untuk menghindari terjadinya penyebaran virus secara luas.

​Ibu hamil harus melakukan langkah pencegahan yang sama seperti orang lain untuk menghindari infeksi COVID-19. Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan cara :


• Rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir, atau cairan antiseptik berbahan dasar alkohol.

• Menjaga jarak dengan orang lain, setidaknya 1 meter, terutama dengan orang yang sedang batuk atau bersin.

• Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut.


• Jaga kebersihan pernapasan. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan siku yang terlipat atau tisu. Lalu segera buang tisu bekas tersebut ke dalam tempat sampah tertutup.


• Konsumsi vitamin untuk menjaga sistem imum tetap baik. Terutama vitamin C, Vitamin B kompleks, Zink dan vitamin D yg bisa didapatkan dari sinar matahari (berjemur).


Ibu hamil dengan keluhan demam, batuk dan kesulitan bernafas harus segera mencari pertolongan medis. Hubungi via telepon sebelum pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan ikuti arahan dari dinas kesehatan setempat.

Semua ibu hamil, termasuk mereka yang terkonfirmasi terjangkit atau dicurigai terjangkit COVID-19, mempunyai hak akan perawatan yang berkualitas tinggi sebelum, selama, dan setelah persalinan. Ini termasuk perawatan kesehatan antenatal care (ANC), bayi baru lahir, pasca kelahiran (nifas), dan kesehatan mental. Jika terkonfirmasi atau dicurigai terjangkit COVID-19, tenaga kesehatan harus melakukan tindakan pencegahan yang tepat, termasuk penggunaan pakaian pelindung yang tepat, untuk mengurangi risiko infeksi bagi mereka dan orang lain.


Belum diketahui apakah seorang ibu hamil yang terjangkit COVID-19 dapat menularkan virus tersebut ke janin atau bayi selama kehamilan atau persalinan. Sampai saat ini, virus ini belum ditemukan di dalam sampel cairan amniotik/ketuban atau ASI. WHO menyarankan untuk hanya melakukan operasi caesar ketika dibenarkan secara medis. Cara persalinan seharusnya dilakukan secara per individu dan berdasarkan keinginan ibu hamil serta indikasi kebidanan.

Ibu yang terjangkit COVID-19 dapat menyusui jika mereka ingin melakukannya. Mereka harus menerapkan kebersihan pernapasan selama menyusui (mengunakan masker), Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi, Rutin mencuci dan membersihkan permukaan-permukaan yang disentuh (Pakaian atau perlengkapan bayi lainnya).


Jika berada dalam kondisi yang sangat tidak sehat untuk menyusui bayi karena terjangkit COVID-19 atau adanya komplikasi lain, maka harus didukung untuk memberikan ASI kepada bayi dengan aman melalui suatu cara yang memungkinkan, yang tersedia, dan yang dapat diterima. Hal ini termasuk Memerah ASI, Relaktasi/Menyusui kembali, Donor ASI.

dr. Rezki Muttaqin Alumni Fakultas Kedokteran Abulyatama Aceh Periode Kelulusan 2017