Breaking News

Indahnya Pernikahan, Kado Istimewa Akhir Tahun Era Pandemi

Indahnya Pernikahan, Kado Istimewa Akhir Tahun Era Pandemi
Ikhsan salah seorang jurnalis muda enerjik asal Bireuen mengakhiri lajangnya di akhir tahun era pandemi

Era pandemi covid-19, tidak menjadi halangan dan rintangan melepaskan status jomblo. Jihad dalam konteks ini merupakan sebuah ibadah yang mempunyai nilai dan pahala tersendiri di sisi Allah SWT. Kita sebagai sebagai khalifah di muka bumi ini. Melestarikan regenerasi khalifah itu tidak lain melainkan dengan memperbanyak generasi lewat pernikahan. Sering orang takut dengan pernikahan.

Esensialnya seorang yang menikah tujuannya hanya untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia saja berarti ia tidak ikhlas dan tidak menjadikan menikah ini sebagai bentuk peribadahan kepada Allah Ta’ala, dan jika tidak mendapatkan kebahagiaan di dunia ia akan kecewa, patah hati dan tidak memiliki harapan.

Namun seorang hamba yang beriman, ia menikah dikarenakan menikah diperintahkan oleh Rasulullah Saw, tentunya ia meyakini menikah adalah bentuk ibadah kepada Allah, Allah Ta’ala menyatakan :“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nuur : 32).

Seorang yang menjadikan menikah sebagai ajang untuk mentaati Allah Ta’ala ia takkan terlalu risau akan mendapatkan kebahagiaan di dunia atau tidak, karena misi utamanya adalah meraih ridha Allah Ta’ala dan mendapatkan pahala serta syurga dan kebahagiaan hakiki kelak di akhirat.


Sebagian orang saat ditanyakan kapan mengakhiri masa jomblonya? Beragam jawabannya diantara kebanyakan menyebutkan rasa ketakutan terhadap kemiskinan apabila menikah tidak didukung ekonomi yang mapan. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan dan kita sebagai muslim Hagan lupa terhadap janji Allah dalam firman-Nya berbunyi:

“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui” ( QS An Nuur :32) ,

Penjelasan Imam Al Qurtubi terhadap ayat diatas mengatakan bahwa jangan biarkan kemiskinan seorang laki laki dan seorang wanita menjadi sebuah alasan untuk tidak menikah semata semata meperoleh ridha Allah dan mencari tempat perlindungan dari ketidak patuhan padaNya, Allah akan memampukannya dan Allah akan mengkayakannya. Ayat itu merupakan bukti bahwa menikah itu tidak pandang bulu. Anda diperbolehkan menikahi orang miskin. Karena itulah, tidak seharusnya anda berkata, “ Bagaimana aku akan menikah jika aku tidak punya uang?” atau berkata, “ Susah sekali jika aku menikahi orang miskin, jangan jangan aku akan menjadi semakin miskin?’ jangan pernah berkata dan berfikiran seperti itu. Mengapa? Sebab rizki telah dijanjikan oleh Allah, dan makanan pun telah dijamin oleh Allah.

Melepaskan hasrat biologis via dukhul (hubungan intim) merupakan menjadi perekat rumah tangga atau kunci rumah tangga bahagia dan menjadi hak bagi keduanya, yakni suami dan istri.Meskipun banyak cara membahagiakan sang istri tercinta namun ala spesifik ini mempunyai nilai pahala yang sangat dahayat bukan hanya sebatas melampiaskan hawa nafsu bahkan syariat Islam telah mengatur metode dan kiat khusus hubungan intim khas Islam dengan menghadirkan ulasan yang khusus dan ini tidak sedikit para ulama menyusun kitab tersebut untuk mereka para mantan jomblo meskipun kaum jomblo tidak dilarang untuk membacanya.

Sangat banyak hadist yang mengupas pahala berhububgan intim suami istri. Di antara hadist tersebut menyebutkan hubungan intim dinilai sebagai sedekah, bunyinya:

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ »

“Hubungan badan antara kalian (dengan isteri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.’”(HR. Muslim no. 1006).

Menjelaskan hadist.di atas, Imam An-Nawawi rahimahullah salah seorang ulama terkemuka mazhab Syafi'i menjelaskan bahwa berhubungan badan atau jima’ suami-istri memberikan keuntungan yang sangat banyak baik dunia maupun akhirat. Di akhirat mendapatkan pahala, sedangkan di dunia mendapatkan berbagai kebaikan-kebaikan termasuk kebaikan kesehatan fisik dan psikologis.

Lebih lanjut, Imam Nawawi berkata:

اعلم أن شهوة الجماع شهوة أحبها الأنبياء و الصالحون, قالوا لما فيها من المصا لح الدينية و الدنيوية, و من غض البصر, و كسر الشهوة عن الزنا, و حصول النسل الذي تتم به عمارة الدنيا و تكثر به الأمة إلى يوم القيامة. قالوا: و سائر الشهوات يقسي تعاطيهم القلب, إلا هذه فإنها ترقق القلب

“Ketahuilah bahwa syahwat jima’ (yang halal) adalah syahwat yang disukai oleh para nabi dan orang-orang shalih. Mereka berkata demikian karena padanya terdapat berbagai mashalat agama dan dunia berupa menundukkan pandangan, meredam syahwat dari zina dan memperoleh keturunan, yang dengannya menjadi sempurna bangunan dunia serta memperbanyak jumlah umat islam. Mereka berkata juga bahwa semua syahwat bisa mengeraskan hati jika ditunaikan kecuali syahwat ini, karena bisa melembutkan hati.”(Syarh Al-Arbain An-Nawawiyah hal 91).

Lakon jihad jomblo kembali aksi tersebut direspon sosok pemuda jurnalis Ikhsan asal Kota Santri Bireuen. Usahanya tersebut tidak terlepas dari peran Apa Raban yang mensupport Pemuda untuk mengikuti jejaknya juga pemuda lainnya yang melanjutkan "perkaranya" ke meja "hijau" KUA.

"Keberhasilan melepaskan jomblo di masa sulit Pandemi Covid-19 ini tidak terlepas nasehat dari Apa Raban, tidak mengenal lelah memberikan nasehat, semangat sehingga "kado istimewa" akhir tahun terwujud juga. Disamping doa dan bantuan orang tua dan keluarga, juga doa dan dorongan dan bantuan dari kawan, rekan kerja serta lainnya tidak dapat membalasnya," pintanya dengan nada haru pasca melangsungkan akad pernikahan dengan salah seorang wanita idaman itu.

Kontribusi Apa Raban dalam jihad melepaskan jomblo tidak sia-sia, beberapa aneuk kumeun Apa Raban seperti Aziz, Ikhsan dan beberapa nama lainnya telah meraih pahala jihad ini, setidaknya langkah tersebut bisa diikuti pemuda lainnya seperti Khairul Surya, Tgk Yusuf Aree dan beberapa aneuk kumeun Apa Raban lainnya.

Beranjak dari penjelasan di atas, jihad melepaskan status jomblo terlebih di era pandemi covid-19 yang dilakukan para pemuda atau jomblo mempunyai nilai ibadah yang besar. Jangan takut menikah menjadi miskin.Di balik itu, mari kita merenung nasehat Ibnu Abbas ra yang sangat inspiratif dan motivator untuk kita semua:"Siapa yang ingin menjadi manusia yang paling kaya hendaklah ia yakin pada jaminan Allah melebihi daripada apa yang sudah ada ditangannya." Yuk, mari kita menikah niscaya kita akan terbebas dari fitnah dan menyempurnakan agama serta akan kaya. Jangan pernah takut dan ragu untuk melangkah menuju perubahan dan perbaikan dengan nawaitu lillahi ta'ala, Insya Allah, menikahlah niscaya akan dimudahkan rezeki.


Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

***Tgk Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Penikmat Kopi BMW Cek Pen Lamkawe dan Pemerhati Masalah Sosial Agama.