Breaking News

Ilmuwan Temukan Fakta bahwa Virus Covid Dapat Merusak Paru-Paru

Ilmuwan Temukan Fakta bahwa Virus Covid Dapat Merusak Paru-ParuFoto: Ilustrasi

RUANGBERITA.CO | Jakarta - Para ahli menemukan fakta bahwa virus yang menyebabkan Covid-19 dapat merusak paru-paru manusia. 

Hal tersebut dikemukakan oleh ilmuwan dari Department of Energy’s (DOE) Brookhaven National Laboratory, Amerika Serikat, yang mengungkapkan bagaimana SARS-CoV-2 menggerogoti paru-paru manusia.

Mereka menemukan model tingkat atom terperinci pertama dari protein “amplop” SARS-CoV-2 yang mengikat protein manusia, penjaga lapisan paru-paru.

Dalam penemuan tersebut, menunjukkan dua protein berinteraksi menyebabkan kerusakan paru-paru yang luas akibat penyebaran virus. Bahkan virus tersebut dapat terlepas dari paru-paru dan siap menginfeksi organ lain.
Kerusakan tersebut ditemukan sangat rentan terjadi pada pasien Covid-19 dan memperparah kondisi penyakit yang dialami.

Dikutip dari Scitech Daily, seorang ahli biologi struktural di Brookhaven Lab, Qun Liu mengungkapkan penyebab kerusakan itu terjadi akibat dari tingkat atom dari interaksi protein. 

“Dan mencari inhibitor yang secara khusus dapat memblokir interaksi ini,” ungkapnya, dilansir Tempo, Rabu (9/6/2021).

Penemuan ini sebenarnya dapat mempercepat pencarian obat untuk menghapus efek penyakit yang paling parah yang mungkin akan diderita pasien. Menurutnya, jika virus dapat menemukan inhibitor, maka tidak akan menyebabkan begitu banyak kerusakan sehingga pasien akan merasa lebih baik.

Ilmuwan lainnya juga menemukan detail dan mengembangkan model molekuler menggunakan salah satu mikroskop cryo-elektron baru di Brookhaven Lab’s Laboratory for BioMolecular Structure (LBMS). Fasilitas penelitian yang baru dibangun dengan dana dari Negara Bagian New York tersebut berlokasi dekat dengan Brookhaven’s National Synchrotron Light Source II (NSLS-II).

Menurut direktur LBMS dan rekan penulis di makalah tersebut, Sean McSweeney, LBMS dibuka lebih cepat dari jadwal karena urgensi dalam pertempuran melawan Covid-19. LBMS dan NSLS-II menawarkan teknik pencitraan protein komplementer dan keduanya memainkan peran penting dalam menguraikan detail protein yang terlibat dalam Covid-19.

“Ini adalah makalah pertama yang diterbitkan berdasarkan hasil penelitian dari fasilitas baru itu,” kata McSweeney. 

Liguo Wang, direktur operasi ilmiah LBMS yang juga rekan penulis lainnya di makalah tersebut, menjelaskan bahwa mikroskop cryo-electron (cryo-EM) sangat berguna untuk mempelajari protein membran dan kompleks protein dinamis. Hal itu mungkin sulit untuk mengkristalkan kristalografi protein yang merupakan teknik umum lain dalam mempelajari struktur protein.

“Dengan teknik ini, kami telah membuat peta 3D yang memperlihatkan bagaimana masing-masing komponen protein saling cocok,” ungkap Wong.

Protein amplop (E) SARS-CoV-2, yang merupakan virus penyebab Covid-19 ditemukan pada membran luar virus bersama protein spike virus corona. Protein tersebut membantu merakit partikel virus baru di dalam sel yang terinfeksi.

Bahkan hipotesis para ilmuwan menyebutkan bahwa virus melakukan ini dengan mengikat protein sambungan sel manusia.
”Interaksi itu bisa baik untuk virus, dan sangat buruk bagi manusia, terutama pasien Covid-19 lanjut usia dan mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya," ujarnya.

Ketika sambungan sel paru-paru terganggu, sel-sel kekebalan masuk untuk mencoba memperbaiki kerusakan, melepaskan protein kecil yang disebut sitokin. Respon imun ini dapat memperburuk keadaan dengan memicu peradangan masif, menyebabkan apa yang disebut “badai sitokin” dan selanjutnya sindrom gangguan pernapasan akut seperti pada penderita Covid-19 yang umumnya terkena gejala batuk-batuk.

Selain itu, karena kerusakan melemahkan koneksi sel-sel, virus mungkin lebih mudah keluar dari paru-paru dan berjalan melalui aliran darah untuk menginfeksi organ lain, termasuk hati, ginjal, dan pembuluh darah. 

Sebagian besar kerusakan akan terjadi pada pasien apabila jumlah virus dan vitamin E yang diproduksi lebih banyak. Hal itu dapat menyebabkan lebih banyak kerusakan, lebih banyak transmisi, dan lebih banyak virus lagi.

Apapun jenis kerusakan yang terjadi, baik pada jaringan parut sel paru-paru, hal itu akan tetap membuat pasien Covid-19 sulit sembuh. 

“Untuk mempelajari cara mengganggu interaksi dan mengurangi atau memblokir efek parah ini," tambah Qun Liu lagi. []

Editor: