Breaking News

Empati dan Kesah Pahlawan Corona

Empati dan Kesah Pahlawan CoronaFoto: Ist

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh - Jarum jam menunjukkan pukul 14.50 WIB. Hari itu, matahari terkesan enggan menunjukkan keperkasaannya, sehingga terik pun tak terlalu terasa.

Sementara, di ujung ufuk sana awan dengan rona hitam menggelayut manja seolah tak beranjak dari tempatnya.

Dihadapan mata telah terpampang sebuah pamflet berwarna biru yang melekat di dinding bertuliskan 'Instalasi Pinere', sebuah tempat yang khusus diperuntukkan bagi pasien Covid-19 yang terpapar dengan kategori sedang dan berat.

Selintas, terbersit keraguan untuk melanjutkan langkah. Maklum, tempat yang memiliki nama lengkap Respiratory Intensive Care Unit (RICU) Instalasi Pinere itu bukan kawasan yang 'ramah' bagi orang yang sehat ditengah ganasnya pandemi Covid-19 yang sedang mewabah.

'Salah-salah aku bakal kena," umpatku dalam hati.

Selepas memantapkan hati dan didahului lafazd bismillah sebagai penguat mental, aku melangkah maju. Tak lama berselang seorang security menyapaku dengan ramah.

"Maaf pak, ada keperluan apa ya pak," tanyanya.Setelah sebelumnya mengenalkan diri dan menjelaskan ingin bertemu dengan seseorang, security tersebut mengantarkan kepada orang yang dimaksud.

"Saya dari Ruangberita bang, orang yang tempo hari menghubungi abang," ujarku sembari menjabat tangan orang yang ku tuju, Jumat, 21 Mei 2021.

Orang yang kumaksud adalah Wakil Kepala Ruangan Respiratory Intensive Care Unit (RICU) Instalasi Pinere RSUZA, Maierol, seorang Tenaga Kesehatan (Nakes) yang bertugas di tempat tersebut.

Kepada media ini, Maierol bersedia membagikan keluh kesahnya menjadi petugas yang menjadi ujung tombak dan garda terdepan dalam memberikan pelayanan serta merawat pasien yang terinfeksi virus yang sedang menjadi momok menakutkan bagi kita saat ini, Coronavirus Disease alias Covid-19.

**********

Sudah 1 tahun Maierol bertugas di ruang RICU Pinere, RSUZA Banda Aceh. Sebagai manusia, Nakes yang masih berstatus tenaga kontrak ini juga memiliki rasa takut layaknya kita pada umumnya.

Kekhawatiran terhadap keselamatan diri yang dialami Maierol merupakan sebuah kewajaran, mengingat penugasan yang diterimanya adalah merawat pasien yang terpapar Covid-19, sebuah virus yang saat ini menjadi musuh bersama oleh hampir seluruh negara diberbagai sudut penjuru dunia dan menjadi wabah yang mematikan.

"Wajarlah bang, sebagai manusia saya juga memiliki perasaan takut. Apalagi kita tahu, yang sedang kita hadapi ini apa serta resikonya bagaimana," ucap Maierol membuka percakapan.

Namun, berbekal dukungan dari rekan seprofesi serta support manajemen dan pimpinan dari instansi tempatnya bekerja, dirinya menjadi yakin untuk menjalankan tugas mulia itu.

Ia menceritakan, kala kasus pertama di Aceh yang terjadi pada bulan maret tahun lalu, merupakan awal-awal dimana situasi sulit dirasakan olehnya. Ditengah gencarnya pemberitaan media terhadap virus Covid-19 yang awalnya terjadi di Cina, selanjutnya masuk ke Indonesia, dan akhirnya 'merangsek' ke Aceh, membuat Maierol semakin kebingungan.

Kala itu, fasilitas pengamanan terhadap dirinya serba minim. Maierol mengaku hanya menggunakan jas hujan sebagai alat pelindung diri.
Saat kasus pertama di Aceh terkonfirmasi, seluruh Nakes yang bertugas merawat pasien tersebut dilakukan swab. Hasilnya? 4 orang dinyatakan positif.

"Saat itu kami shock semua," ucapnya lirih.

Pasca 4 rekan seprofesinya dinyatakan positif, situasi saat itu benar-benar kacau, dimana hampir seluruh mental Nakes yang bertugas saat itu mengalami down, terpuruk bin stres alias depresi.

Dibenak para Nakes yang hasil swab nya belum keluar, bayangan rasa takut, cemas dan khawatir terus menghantui. Seluruh rasa berkolaborasi, mengkerucut pada sebuah pertanyaan besar; 'Bagaimana dengan hasil swab yang kujalani? Apakah aku terpapar?'

"Keadaan itu diperparah dengan adanya penolakan dari masyarakat terhadap rekan kami yang terpapar itu bang. Mereka 'diusir' (ditolak) oleh yang punya kost agar tidak tinggal lagi dirumahnya," kata Maierol dengan nada suara bergetar.

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kira-kira demikian ungkapan yang tepat untuk merepresentasikan nasib Nakes kala itu.

Meski hanya menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seadanya, lembur siang dan malam merawat pasien Corona yang terinfeksi, ditambah insentif serta penghasilan yang tidak seberapa, Nakes yang terpapar harus menelan 'pil pahit' dan menerima kenyataan bahwa dirinya terpapar wabah yang mematikan itu.

Namun, penguasa semesta maha tahu dengan keikhlasan yang diusung para pahlawan Covid itu. Tuhan tidak akan membiarkan orang baik terjebak dengan musibah yang dialaminya.

Melalui kebijakan pimpinan daerah, seluruh Nakes yang bertugas di area Covid-19, baik yang telah terpapar (ditempatkan secara terpisah), maupun yang belum diinapkan untuk sementara di mess BPSDM.

"Untuk sementara bang, guna meredam penolakan dari masyarakat," jelas pria yang masih berstatus tenaga kontrak ini.

Sudah selesaikah ujian yang dialami mereka? Belum!
Sebagai laki-laki yang telah berkeluarga, kerinduan untuk bertemu keluarga, anak dan istri, adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi, Covid-19 telah membatasi 'kemerdekaan' Maierol untuk menumpahkan kekangenannya pada keluarga yang dicintai.

"Pernah suatu ketika, saat kerinduan bertemu dan memeluk anak memuncak, saya harus menggunakan helm saat melihat anak dari jauh. Helm saya gunakan agar anak tidak melihat saya secara langsung, karena kalau dilihat anak pasti mengejar saya. Sementara disisi lain, saya ingin sekali memeluk anak saya. Tapi...," ucapannya terhenti. Suaranya terhenti tercekat ditenggorokan. Sudut matanya terlihat mulai memerah.

Sejenak Maierol terdiam. Ia terlihat sulit melanjutkan cerita. Mungkin saja, ia terjebak dalam lorong waktu yang menghantarnya pada momentum yang mengharu biru itu.
Suasana menjadi hening.

Matanya terlihat nanar dengan tatapan kosong, seolah mengingat kembali masa-masa sulit dimana dirinya bersama rekan seprofesinya 'berjibaku' menangani pasien Covid-19 yang kian hari 'mengalir' bak air bah yang datang dari segala arah mata angin.

Sembari mendengus panjang, ia membetulkan posisi duduk dengan menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi.

Suasana yang tadinya senyap berubah saat tiba-tiba seorang perempuan hadir ditengah kami.
"Ibu Marlina ya," sapa Ruangberita.
"Benar," jawabnya singkat.

Sekedar informasi, Ibu Marlina merupakan atasan langsung Maierol, alias Kepala Ruang Isolasi Pinere RSUZA.

20210523-img-20210523-wa0014

Ruangberita mengajak pembaca untuk 'merelay' kembali pada kejadian luar biasa yang terjadi tahun lalu, dimana lonjakan kasus wabah mematikan itu ‘melejit’ hebat pada momentum jelang lebaran
Idul Adha 1420 H, yang bertepatan jatuh
pada tanggal 31 Juli 2020.


Berdasarkan data grafik kasus konfirmasi Covid-19 minggu-an Periode Maret 2020-Maret 2021, diperoleh fakta pada minggu ketiga Juli 2020, kasus yang terkonfirmasi berjumlah 23 kasus.

Pada minggu keempat, warga yang terjangkit ‘melesat’ pada angka 242 kasus, untuk selanjutnya terus meningkat dari minggu ke minggu, hingga akhirnya mencapai puncaknya pada minggu kedua bulan September dengan kejadian yang terkonfirmasi sebanyak 1000 kasus!
Kembali kepada Maierol.

Saat disinggung mengenai perhatian pemerintah, Maierol tidak menampik tingkat atensi pemerintah kepada para Nakes seperti dirinya cukup tinggi. Selain insentif dan honor yang meningkat, selama ini seluruh SKPA bergiliran menyiapkan makan siang dan malam, serta snack bergizi untuk Nakes yang bertugas.

"Kita juga disupport secara materil dan immateril oleh pimpinan. Alhamdulillah, kita kuat karena ada dukungan itu. Kami bersyukur memiliki pimpinan yang peduli atas situasi kami," terang Maierol.

Sementara itu, cerita yang cukup mengiris hati juga disampaikan oleh Kepala Ruang isolasi Pinere, Marlina. Saat kasus pertama Nakes yang terinfeksi terjadi, dirinya bersama rekan-rekan seprofesi lainnya secara spontanitas menggalang dana untuk disumbangkan kepada Nakes yang terpapar.

"Ada anaknya yang butuh susu, kami antar susu. Anaknya masih sangat kecil, masih menyusui. Saat itu anaknya hanya bisa memanggil tanpa bisa merasakan hangatnya pelukan ibunya," ucap Marlina dengan intonasi terbata-bata menahan haru.

Beban psikologis yang dialami Nakes bukan hanya terbatasnya ruang gerak mereka bertemu dengan orang-orang yang dicintai, kadangkala mereka juga diuji 'kesabarannya' kala menghadapi keluarga pasien Covid-19. Dimarahi dan didamprat oleh keluarga pasien adalah hal biasa yang saban hari mereka rasakan.

"Sering. Keluarga pasien ini kan tidak sama pemahamannya dengan Nakes. Konfliknya paling karena keluarganya yang tidak bisa dijenguk, padahal kita larang untuk kebaikan mereka sendiri. Untuk kasus Covid, perawat itu memberi edukasi sampai berulang-ulang. Kadang-kadang untuk satu pasien, butuh 3-4 jam. Bayangkan jika ada 5 pasien," keluh Marlina panjang lebar.

Marlina merasa bersyukur tim Nakes Covid-19 yang terbentuk saat ini sangat kompak. Menurut dia, kekompakan itu dilatarbelakangi oleh rasa solidaritas, senasib dan sepenanggungan sesama profesi.

"Ada yang tidak diterima mertua hanya gara-gara bekerja di area Covid, ada anak yang terpisahkan dari orangtuanya, dan berbagai pengalaman miris lainnya. Saya sering ingatkan mereka, bekerjalah dengan ikhlas, dan yakinlah pekerjaan ini adalah ladang pahala untuk kalian. Insya Allah, Allah pasti membantu. Saya bersyukur sekali, tim yang terbentuk saat ini sangat solid, sampai sekarang," jelas dia.

Marlina juga menyampaikan soal kepedulian pemerintah yang diakuinya cukup tinggi. Namun, kadangkala honor yang diterima macet akibat 'keribetan' birokrasi.

"Pertama faktor pengamprahan yang cukup berbelit, kemudian faktor data yang dikirim kurang lengkap sehingga harus diperbaiki. Jadi telatnya lebih kepada aspek birokrasi," beber perempuan yang telah berulangkali menjalani swab ini.

Yang paling menyedihkan bagi Marlina dan Maerol, adanya anggapan Covid-19 adalah penyakit biasa-biasa saja yang minim resiko.

Bahkan, ada menilai Covid-19 itu tidak ada!

Tidak ada?!! Bukan bermaksud membela. 'Berjibaku' siang dan malam ditengah 'intimidasi' wabah Corona yang mematikan merupakan teror yang menakutkan bagi siapa saja. Rutinitas itu menjadi keseharian para Nakes yang bekerja merawat pasien yang terinfeksi Covid-19. Lalu, ada anggapan jika wabah Covid-19 tidak ada dan hanya sebuah teori konspirasi? Bukankah itu sebuah hal yang menyakitkan?

"Kami tidak minta untuk dihargai dengan insentif dan honor yang besar. Kami hanya minta masyarakat menghargai kerja kami dengan peduli dan kesadaran untuk penerapan Prokes secara disiplin. Hanya itu yang kami minta. Karena hanya dengan cara itu pandemi ini dapat berakhir," harap Marlina setengah memelas.
Demikianlah.

Layaknya kita yang sedang sehat-sehat saja saat ini, Nakes juga mahluk bernama manusia yang menaruh rasa takut, memiliki keinginan untuk bercengkrama dengan keluarga yang dicintai, dan bergerak bebas layaknya kita saat ini.
Namun, untuk beberapa saat dan entah sampai kapan, mereka harus menunda segala asa dan harapannya itu. Saat ini mereka harus dan sedang berjuang membebaskan kita, anak kita, orang tua kita, serta orang-orang di sekeliling kita atas teror yang bernama virus Corona.

Seperti yang disampaikan Marlina, hargai dan hormati kerja para Nakes hanya dengan; Penerapan Prokes secara disiplin. Karena hanya dengan cara itu, bencana wabah Covid-19 ini berakhir. Semoga.

Editor: