Breaking News

Dyah Erti Idawati Ingin Produk Kerajinan Aceh Bernuansa Islami

Dyah Erti Idawati Ingin Produk Kerajinan Aceh Bernuansa Islami
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Dr Ir Dyah Erti Idawati, MT. ( Foto : Heri Juanda)

RUANGBERITA.CO I Banda Aceh—Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh, Dr Ir Dyah Erti Idawati, MT ingin desain produk kerajinan Aceh bernuansa Islami, dengan catatan tetap dapat bersaing di kancah nasional. Desain busana muslim, misalnya, mampu menginspirasikan, sehingga Serambi Mekkah ini menjadi rujukan para desainer syar’i di tanah Air. 

Hal tersebut disampaikan Dr Ir Dyah Erti Idawati, MT terkait pelantikannya secara virtual sebagai Ketua Dekranasda Aceh sisa masa jabatan periode 2017-2022 oleh Ketua Umum Dekranas Pusat, Wuri Ma’ruf Amin di Restoran Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu, 3 Maret 2021.

“Kita ingin memotivasi para desainer kerajinan Aceh agar lebih kreatif dan karya-karyanya dapat menginspirasi para desainer Islami di tanah air,” tutur Dyah usai berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa, Banda Aceh, Jumat (5/3/2021). 

Menurut Dyah, mewujudkan Aceh sebagai referensi desainer Islami perlu dukungan industri fashion yang baik supaya karya yang dihasilkan memiliki dampak ekonomi bagi desainer dan pengrajinnya.

Tanpa dukungan industri fashion yang memadai maka produk yang dihasilkan hanya menjadi pajangan semata. Kondisi ini kurang kondusif dan dapat mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya, urainya. 

Selain industri fashion, lanjut Dyah, perlu ajang promosi yang menampilkan karya-karya desainer profesional, seperti pada Modprem Fashionity 2020 yang digelar di Hermes Palace Hotel,  akhir tahun lalu. Fashion show semacam itu dapat merangsang kreatifitas para desainer dan pengrajin kita di Aceh.

Itulah sebabnya saya selaku Ketua Dekranasda Aceh  datang membuka acara "Modprem Fashionity 2020 With Lina Sukijo Road to Fashionaxy 5.0", yang ditampilkan aneka busana syar’i karya desainer profesional Lina Sukijo. Karya-karya Lina sangat sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter masyarakat Aceh yang Islami, jelasnya.


"Saya diundang dalam kapasitas Ketua Dekranasda Aceh untuk membuka acara fashion show karya-karya Lina Sukijo, dan  tidak ada sangkut pautnya dengan model investasi yang kemudian dikembangkan oleh Yalsa Boutique itu," tegas Dyah.

Penegasan itu dinilainya penting untuk meluruskan posisioning dirinya pada ajang  Modprem Fashionity tersebut. Saya membuka acara fashion show itu karena concern pada desain busana syar'i karya Lina Sukijo, yang sarat dengan nilai-nilai budaya Islami yang sedang kita wujudkan di Aceh, tambah dosen teknik arsitek ini.

Acara Modprem Fashionity yang disinggung Dyah digelarkan pada Sabtu, 5 Desember 2020 dan  benar menampilkan karya-karya desainer kondang, Lina Sukijo. Lina Sukijo merupakan salah satu desainer ternama Indonesia yang karyanya telah mendunia. Brand busana syar’i miliknya sudah diperkenalkan hingga ke Dubai, Uni Emirat Arab, dan Belanda. 

Selanjutnya, Dyah mengatakan, hasil desain Lina Sukijo sangat inspiratif bagi para desainer di Serambi Mekkah yang memberlakukan Syariah Islam secara kaffah. Lina juga memotivasi desainer kita dengan mengatakan Aceh mampu menjadi ikon fashion muslim di Asia Tenggara dan bahkan dunia

Apa yang dikemukakan Lina tampaknya tidak berlebihan. Kita yakin Aceh memiliki  desainer bertalenta dan mampu menginspirasi Indonesia melalui produk-produk bernuansa syariah, kata Dyah yang notabene istri Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT. 

“Saya, selaku Ketua Dekranasda Aceh dan Ketua Penggerak PKK Aceh, terus memotivasi dan membina desainer maupun pengrajin Aceh agar karyanya kompetitif dan berdampak pada kesejahteraan mereka,"  pungkas penyandang gelar doktor dari Melbourne Australia University itu[]

DPRK Aceh Besar Ucapan Ramadhan