Dibalik Kenikmatan dan Bersemangatnya Menuntut Ilmu di Usia Senja

Dibalik Kenikmatan dan Bersemangatnya Menuntut Ilmu di Usia Senja
Tgk Bukhari Ulee Gle Alumni MUDI Samalanga dan Pimpinan Dayah di Ulee Glee serta Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Waktu terus berotasi hingga saat ini telah memasuki era millenial, bealajr dan menuntut ilmu atau dalam Bahasa spesifik lainnya beut seumeubeut itu harsu dilakoni tanpa mengenal waktu dan usia, ini sebagaimana di lantunkan lagu saat masih SD dulunya berbunyi: “Belajar di waktu muda bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu tua bagai melukis di atas air.” Itulah petikan lagu yang tren pada tahun 80-an yang dipopulerkan salah satu orkes Melayu, El Suraya, pimpinan Ahmad Baki. Mungkin inilah diantara motivator yang dilakoni Tgk. Bukhari Ulee Glee salah satu alumni Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan di tengah kesibukannya menjadi pimpinan dayah serta “dosen” terbang setiap waktu di Majlis Taklim masih berhasrat menuntut ilmu di jenjang magister (S2).

Tgk. Bukhari menjatuhkan pinangan di salah satu program pascasarjana terkenal di Aceh IAIN Lhokseumawe dengan konsentrasi Hukum Keluarga Islam (HKI). “Meskipun telah lama meraih strata satu (S-1) di IAI Al-Aziziyah Samalanga namun tradisi menuntut ilmu harus dilanjutkan meskipu telah berumur dan kesibukan dalam masyarakat,” ungkapnya di sela-sela menyelesaikan perkuliahan Daring di salah satu sudut Kota “Santri” Ulee Glee. Ketekunan dan keinginan tahunya tentang ilmu Tgk Bukhari mencari yang bisa mengajarinya bil khusus berkaitan dengan perkuliahan dan era pandemic Covid-19. Secuil kisah ini menjadi insipirasi untuk kita dan generasi penerus untuk melanjutkan beut seumeubeut (menuntut ilmu).

Tentunya di balik perjalanan Tgk. Bukhari Ulee Glee itu sebagai pembais dan motivator generasi muda agar giat belajar dan menuntut ilmu. Hal ini tentunya disebabkan masa muda itu hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan.
Namun, bukan berarti orang yang sudah memasuki usia senja sudah terlepas tanggung jawabnya untuk menuntut ilmu. Banyak orang yang sudah berusia, berlindung dari kewajiban belajar dengan ungkapan ini. Menurut mereka, masa tua sudah dibebaskan dari kewajiban menuntut ilmu. Karena daya ingatnya sudah tak mampu lagi merekam pelajaran.

Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya seseorang yang usianya sudah 80 tahun. Apakah orang tua itu masih pantas untuk menuntut ilmu? Imam Hasan menjawab, “Jika ia masih pantas hidup.”
Demikianlah hakikat dari menuntut ilmu, ia menjadi ruh bagi kehidupan. Siapa yang menganggap dirinya masih pantas untuk hidup, maka dia mesti belajar dan menambah pengetahuannya. Imam al-Hasan menegaskan, tak ada batasan usia bagi orang yang mau menuntut ilmu.

Tak ada alasan untuk tidak belajar di usia senja. Tidak ada kata terlambat untuk kembali mengkaji ilmu-ilmu Islam. Tak perlu pula merasa malu atau minder karena dianggap terlambat memulai mengkaji Islam. Banyak sekali dalam sejarah Islam dikisahkan, betapa banyak orang-orang yang lanjut usia, tetapi tidak sungkan untuk belajar ilmu agama.

Sangat banyak kisah ulama terdahulu yang memulai menuntut ilmu di usia tua. Salah satunya sebagaimana ditempuh oleh Al-Kisa’i adalah ulama fikih brilian dari Mazhab Syafi’i bernama Al-Qaffal Al-Marwazi. Lelaki yang berprofesi sebagai tukang duplikat kunci ini sampai usia empat puluh tahun hidup dalam kegelapan. Ia tidak mengerti agama sama sekali. Ia hanya sekadar menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan. Kerja lembur sering ia lakoni dan banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belajar di usia yang tergolong sudah matang membuatnya kesulitan. Daya ingat yang sudah mulai menurun diceritakan sempat menjadi penghalang utama yang merontokkan semangat Al-Qaffal.

Namun kegigihan dan ketekunannya serta motivasi dari guru-gurunya berhasil memompa ban kempis semangatnya. Ia menjadi pribadi yang haus ilmu. Ia belajar dari pagi sampai larut. Ketekunannya itulah yang mengantarkannya menjadi pribadi yang cemerlang dan disegani di bidang ilmu fikih kalangan Mazhab Syafi’i. Ia meninggal di usia delapan puluh tahun. Banyak ulama yang mengatakan bahwa Al-Qaffal adalah contoh terbaik bagaimana Tuhan memberikan skenario pencerahan kepada hambanya.
Separuh hidupnya ada di dalam kegelapan dan kejahilan, sementara separuh yang lain berhasil dijalaninya dalam gemerlap cahaya yang cemerlang. Namun, urusan senioritas ketelatan dan mencari ilmu belum ada yang menandingi Sholeh bin Kaisan. Seperti dikisahkan dalam kitab Tadzhibud Tadzhib, lelaki alim ini baru memulai belajar dan mencari ilmu di usia yang jauh meninggalkan batas usia pensiun pegawai. Ia belajar agama pada saat usianya tepat masuk kepala tujuh. Meskipun sangat telat, banyak riwayat menyatakan ketangguhan ingatan Sholeh bin Kaisan dalam menghafal hadis sehingga kerap mengalahkan pewari-perawi lain yang usianya lebih mudah. Ulama-ulama yang memiliki ketekunan luar biasa hidup tidak berdasarkan angka hitungan usia. Umur diperlakukan sebagai deretan angka semata. Semangat, integritas, dan kesungguhan dalam belajar adalah kunci utama mengapa mereka bisa move on dari kehidupan yang penuh kejahilan ke arah cahaya ilmu pengetahuan. Inilah jalan pencerahan yang dalam bahasa Quraish Shihab disebut dengan At-Tariq Al-Ishraqy atau pencerahan batin.
Kisah lainnya Ibnu Mandah berangkat menuntut ilmu di usia 20 tahun dan menghabiskan usianya selama 45 tahun untuk menuntut ilmu di perantauan. Di usia yang sudah senja, 65 tahun, ia baru pulang dan menjadi ulama besar di kampung halamannya. Ja’far bin Durustuwaih pernah mengisahkan, suatu kali ia berada dalam majelis ilmu Ali bin Al-Madini. Ketika waktu Ashar tiba, majelis itu telah penuh sesak oleh para penuntut ilmu yang akan dimulai esok harinya. Setiap pelajar tidak mau meninggalkan tempat duduknya, takut akan terisi oleh orang lain. Mereka menungguinya sepanjang malam agar mendapatkan posisi yang di depan.
Bahkan seorang bapak tua, kisah Ja’far, terpaksa buang air kecil di jubahnya, karena ia takut pergi ke kamar mandi dan meninggalkan tempat duduknya. “Saya melihat seorang yang sudah tua di majelis tersebut buang air kecil di jubahnya. Karena ia khawatir tempat duduknya diambil, apabila ia berdiri untuk buang air kecil ke kamar mandi,” kata Ja’far mengisahkan.
Betapa antusiasnya orang-orang terdahulu mencari ilmu agama. Bahkan, dalam kisah Ja’far, orang yang sudah tua sekalipun tak kalah bersemangatnya dari anak muda. Semangat inilah yang sudah pudar pada umat Islam saat ini. Semangat menuntut ilmu semakin pudar, seiring bertambahnya usia. Padahal, kewajiban menuntut ilmu tak pernah berkurang dengan bertambahnya usia.
Dunia sains abad modern sudah membuktikan, otak manusia masih bisa dipakai dalam waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Manusia hanya memakai 10 persen dari otaknya. Ini membuktikan, kapasitas dan daya tampung otak manusia tak pernah penuh. Ia akan bisa dipakai untuk belajar oleh orang yang sudah tua renta berusia ratusan tahun.
Menuntut ilmu tidak mengenal usia. Bukan aib apabila seseorang memulai karirnya sebagai penuntut ilmu di usia senja. Karena ilmu tidak dibatasi oleh waktu maupun umur. Orang tua pun tetap membutuhkan ilmu, agar dapat berakidah, beribadah dan bermualah berdasarkan ilmu, bukan semata prasangka dan hawa nafsu.
Beranjak dari itu mari kita berjihad diri kita untuk mewakafkan diri untuk meninggikan agama Allah termasuk dengan menuntut ilmu walaupun di usia tua. Hendaknya kita mampu menjadikan para pendahulu saleh sebagai tauladan baik, hingga bisa meniru secercah dari banyaknya kebaikan mereka termasuk belajar di usia senja. Bukankah Rasullah menyuruh kita lewat hadis-Nya untuk menuntut ilmu sejak dari ayunan hingga liang lahat. Lantas masihkah kita sombong dan malu menuntut ilmu usia tua bahkan malu mengikuti pengajian umum di saat telah dipanggil Abu, Abi, Abati, Waled, Abon dan lainnya oleh masyarakat, padahal sekaliber Abu Lamkawe saja masih belajar dan mengikuti pengajian muridnya Abu MUDI. Lantas kita bagaimana??

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tgk.Helmi Abu Bakar el-Langkawi Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya

Editor: