Breaking News

Catatan Sang Musafir Ilmu yang Tercecer di Darussalam (1)

Catatan Sang Musafir Ilmu yang Tercecer di Darussalam (1)

Era pandemi Covid-19 “menerjang” bumi ini dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Fenomena ini juga dirasakan di nusatara ini khususnya negeri paling barat yang terkenal dengan sebutan “Serambi Mekkah” meskipun tidak sedikit warganya yang jauh dari nilai-nilai “Serambi Mekkah”nya.

Era pandemi masih menggema, namun roda dan semangat pendidikan tidak boleh luntur. Terlebih penuntut ilmu dengan usia yang sudah menanjak umur berkepala dua atau lebih di samping tugas dan kewajiban dalam keseharian baik di rumah atau pekerjaan atau dinas masing-masing.


Fenemena juga dirasakan dan di lakoni oleh mahasiswa program Pascasarjana doctoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh jurusan PAI unit Dua angkatan tahun 2019 yang kini keberadanya  sudah semester tiga. Ruang ini tergolong “unik” dengan segala keberagamannya, kombinasi lintas umur, lintas beragam structural, ada yang guru, dosen, pimpinan dayah, guru rangkang, petinggi ASN di Dinas Propinsi dan lainnya termasuk pengayom di balik Jeruji besi (penjara suci) juga “mahaguru” alias widyaswara.

Belajar level doctoral dengan mahasiswa “ureng ka syiek” tentunya suasananya berbeda tanpa mengurangi norma keadaban dan tatakrama di dunia taklim (belajar mengajar). Angkatan unit dua ini terasa hampa tanpa hadir beberapa “motivator” dan tokoh “kunci” meskpipun sebenarnya semua ada sfesifiknya tersendiri yang berbeda nuansa dan aura sehingga lewat perbedaan itu selalu “hidup” dan semangatnya belajar.

Suasana belajar dengan mata kuliah matematika (statistik) zoom telah dirintis dan di era ini meskipun terkadang dengan mata kuliah dengan label yang “menakutkan” dan memerlukan energy khusus dalam memahaminya seperti halnya dengan statistic.

Namun sang “muallim” bertangan dingin" yang juga suami Dr. Sri Rahmi, MA sosok dosen enerjik dan dekat dengan semua kalangan termasuk anak didiknya laksana anak sendiri. Dr. Zainal Abidin, M. Pd pemikdoctor lulusan Universitas Negeri Surabaya tahun 2012 dan sebelumnya sempat mengambil magister di Universitas Negeri Malang sebelum Tsunami Aceh tahun 2002 yang keduanya menjadi ‘muallim” di almamaternya “jantung hate” rakyat Aceh negeri Darussalam.


Sentuhan dosen “bertangan dingin” kelahiran Pidie ini mampu meracik dengan segudang pengalaman menjadikan mata kuliah statistik dari status “maop” menjadi “santapan” yang “memuaskan” bahkan mampu di  cerna dengan mudah.

Suasana belajar dengan komting abadi Tgk. Shadiqin yang sejak menjadi mahasiswa di kampus Darussalam kerap dipercayakan sebagai nakhoda. Tgk AmiruddinCek gu di salah satu sekolah di negeri kelahiran Aceh Besar itu plus pemilik suara merdu dan sering diundang menjadi Imam jemputan, menjadikan unit dua mampu di “desain”dengan baik dan itu tidak terlepas dari “bensin” penghidup roda unit dua alias bendahara yang mempiawai dalam mengelola anggaran? Who is he?  Sosok enerjik berbadan mungil Lisma Wani tertulis saat pendaftaran di S1- hingga S3 di kampus Darussalam itu. Perempuan  yang sempat mondok dan nyantri di salah satu dayah erbesar di Teupin Raya Pidie juga istri dari senator ulung di DPRA Iskandar Al-Farlaky yang sudah dua periode di percayakan di parlemen Aceh. 

 Ternyata panggilan masyhur “ Istri Bupati Aceh Timur” (meminjam Istilah Tgk. Shadiqin) awalnya sebuah sebutan biasa ternyata doa dan ini penulis  mendengar sendiri saat salah seorang anggota dewan DPRA menerima telepon dari Al-Farlaky di panggil dengan “Wa’alaikum salam Bupati….”.

Keberkahan dengan adanya “ureung chiek” juga mewarnai unit tersebut, empat ‘jamaah”itu masing-masing dua putra kelahiran Aceh Pantai Barat Selatan bapak Fuadi orang nomor dua setelah Rektor UIN Ar-Raniry di Kopertais wilayah V Aceh dan sosok berkacamata berkulit hitam manis Abdul Haris Hasmar “muallim” senior di kampus yang kini dipimpin Prof. DR. H. Warul Walidin, MA. 

Selanjutnya “jamaah” senior juga seorang cek gu di negeri Kutaraja kelahiran daerah Paru (Cubo),  Pijay dengan tampilan sederhana bahkan sepintas terlihat jelas sosok apa adanya tanpa meninggalkan jejak dan tanda kandidat doctor itu. Abdul Aziz namanya dan AA (Abdul Aziz) sang senior berkacamata dan berkulit hitam manis meskipun umurnya sudah lanjut namun semangat masih membara dan menggebu-gebu. Memori kehidupan dengan negeri Cubo saat musim durian masih menjadi kenangan dan keinginan AA untuk kembali seperti kala itu, namun waktu itu tidak dapat di putar balik, biarlah itu menjadi kenangan indah untuk diceritakan kepada anak cucu kita bahwa hidup itu jihad dan perjuangan dengan kesabaran.

Next, “jamaah” beutsenior Muslem Yacob dengan segudang pengalaman ketika di level propinsi baik di Dinas Pendidikan, Deperindag hingga kini di era Gubernur jadid bapak Nova dipercayakan sebagai orang penting di MPA (Majelis Pendidikan Aceh) sering menjadi “wasit” dan pengambil kebijakan saat terjadi problematika dan perbedaan qaul (pendafar.

Bahkan pengalaman tak terlupakan perayaan maulid Nabi Muhammad perdana unit dua PAI Program S3 angkatan 2019 di adakan di “istana”nya sabagai ‘kado” istimewanya dan kenangan tak terlupakan sebelum hijrah ke MPA.
Perempuan tangguh yang mampu membagi waktu untuk “jak beut’ (kuliah).

Empat srikandi di ruang tersebut, dua cek gu di wilayah negeri Blahdeh Seulawah meskipun lahirnya di Pidie, Erfianti M. Adam (bukan Erianti, terkadang sering salah sebut) lulusan magister negeri Hitler kerap “dueter” dengan salah cek gu berkulit hitam manis  pencetus ungkapan“Jak Beut”.

Mengupas Kata-kata “hitam manis” terkenang kembali meretas memori lama sebuah lirik lagu sendu bombastis saat naik Bus BE dan L-300 era konflik tahun dengan bunyinya: “Hitam memang kulitmu biar hitam tapi manis di Eropa,…” yang di bawakan Asoka Band. (Bersambung)

Wallahu Muwaffiq Ila ‘Aqwamith Thariq

Tgk. Helmi Abu Bakar El-Langkawi

Jamaah “Balee Beut” unit 2 PAI UIN Ar-Raniry Banda Aceh Program Doktoral Tahun 2019 tinggal di gubuk Blang Dalam, Ulee Glee, Pijay

Tanggal 31 Desember 2020, Pukul 23. 58 WIB, Ulee Glee Pidie Jaya