Breaking News

Budaya Minum Kopi Orang Di Aceh

Budaya Minum Kopi Orang Di AcehFoto: Ilustrasi

Oleh : Assauti Wahid

Budaya minum kopi salah satu budaya yang diminati oleh banyak kalangan di Aceh akhir-akhir ini. Setelah dilanda gempa bumi dan hantaman gelombang tsunami pada tahun 2004 yang lalu. Tapi, belum tahu pasti, sejak kapan muncul budaya minum kopi ureng (orang) Aceh baik itu di rumah sendiri maupun di tempat publik seperti warung kopi, pesta dan kenduri lainnya.

Hal ini terjadi juga kepada kebiasaan-kebiasaan masyarakat Aceh terhadap budaya minum kopi. Jika di abad ke-19 masehi masyarakat Aceh. Sama sekali tidak mengenal budaya minum kopi. Maka, sampai  akhir pengujung abad ke-20 Aceh. Masih sebatas produsen utama kopi. Di abad 21 masehi budaya minum sudah menjadi tradisi yang tidak dipisahkan dari keseharian masyarakat Aceh baik di Gampong maupun di Kota.

Bila kita melihat masa lalu di tahun 2004. Negara Republik Indonesia dilanda gempa bumi dan dihantam gelombang tsunami dahsyat. Khususnya di Provinsi Aceh yang tingkat kerusakan luar biasa, porak-poranda dan tercengang mata dunia pada saat itu.

Membuat orang-orang dunia berbondong-bondong dengan berbagai latarbelakang orang dari seluruh suku bangsa datang ke Aceh. Untuk memberikan bantuan kemanusian. Saat itu dunia, sudah mulai mengandrungi kopi. Maka, para turis yang datang, membawa budaya baru yaitu menikmati kopi atau budaya minum kopi. Memang sebelumnya Ureng (orang) Aceh sudah mengenal minum kopi.

Dan sebagai daerah banyak kopi serta banyak ditemukan warung kopi di Aceh. Namun itu semua, hanya terbatas bagi kaum laki-laki dewasa saja atau mahasiswa.

Selepas peristiwa gempa bumi dan hantaman gelombang tsunami yang melanda Aceh di tahun 2004 yang lalu. Budaya minum kopi di dunia semakin “membooming” di Aceh. Mungkin itu merupakan salah satu hikmah dari tsunami dan perjanjian perdamaian. Bila kita lihat, baik itu diwaktu pagi, siang dan malam. Berbagai lapisan dari masyarakat Aceh atau orang-orang Aceh. Mengisi kedei-kedei dan warung-warung kopi. Baik itu di gampong maupun di kota-kota madya lainnya.  Yang tujuannya datang untuk bersantai minum kopi.

Dan pada masa rekontruksi Aceh pasca tsunami banyak para pekerja dalam negeri dan luar negeri yang minum kopi Aceh. Sehingga membuat kopi Aceh terdengar di luar negeri akan khas aroma, rasa dan kualitas yang mendunia. Untuk mendapatkan kualitas yang bagus dan citra rasa dahsyat serta unik. Maka, biji kopi Aceh membutuhkan proses panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Dalam tahapan proses membuat kopi itu juga unik. Bila dibandingkan dengan daerah lain ialah cara penyajiannya yang khas. Dan kopi diseduh dengan air  tetap dijaga tingkat kepanasan dalam keadaan mendidih. Seduhan kopi disaring balik dengan berulang kali dengan saringan yang terbuat dari kain. Kemudian dituangkan dari satu ceret ke ceret yang lainnya. Sehingga hasil proses tadi, terciptalah kopi yang sangat pekat, harum dan bersih tanpa mengandung bubuk kopi.

Tidak terbatas pada kalangan usia tua, muda dan lelaki maupun perempuan. Serta miskin ataupun kaya yang datang ke warung kopi untuk menikmati secankir kopi. Itu semua berbaur tanpa sekat-sekat pembatas. Jika ada kriteria jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu. Maka, dapat dipastikan kota Banda Aceh. Akan masuk ke rekor Muri dan tidak mungkin akan masuk rekor dunia. Berarti itu akan mengalah kota Paris di negara Francis. Jika dihitung dari jumlah orang-orang yang datang ke warung kopi per hari, pemenangnya pastilah orang Aceh yang mengalahkan negara lain. Selepas berakhir tsunami dan konflik dengan perjanjian perdamian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Republik Indonesia. Itu menyebabkan orang Aceh leluasa kembali beraktivitas. Setelah sekian lama sicekam konflik selama bertahun-tahun.

Kopi merupakan minuman yang ajaib, setidahnya bagi lidah orang Aceh ataupun yang terpengaruh dengan rasa. Karena rasanya akan berubah sesuai dengan tempat ia diminum kopi.

Zaman dulu kopi hanya satu macam yang berwarna hitam pekat dengan campuran gula. Caranya sangat simple dan mudah dilakukan saat penyajiannya sangat sederhana.

Masyarakat Urban tidak hanya menganggap kopi sebagai kebutuhan semata tapi sudah menjadi tren hidup atau gaya hidup. Lebih-lebih sekarang di Aceh sudah menjamur warung kopi. Baikah warung kopi itu berbentuk bangunan sentuhan minimalis moderen maupun trandisional.

Ada anggapan sama orang pecinta kopi atau penikmat kopi. Bahwa minum kopi bukan hanya menikmati rasanya tapi ikut serta juga menjaga tradisi minum kopi. Dan kopi memiliki filosufi yang bermakna dalam kata salah satu pecinta kopi yang tidak mau disebut namanya.  Ketika saya wawancara. Yang berbunyi seperti ini. “sepahit-pahit hidup harus dijalani dan harus menikmati hidup serta mencintai hidup”. Dan serta “begitulah yang terkandung dalam kopi walaupun pahit tetap dinikmati, dicintai dan disukai oleh banyak orang,’’ungkapnya.

Warung kopi di Aceh merupakan tempat interaksi, tempat berkumpul, bertemu, diskusi, main game dan curhat. Juga serta membicarakan isu-isu terkini baik isu politik maupun fenomena alam ataupun gejala-gejala sosial terjadi di masyarakat. Dengan datang ke warung kopi “semua masalah pasti selesai di warung kopi”. Begitu peribahasa yang lagi viral di kalangan masyarakat Aceh.

Kedatangan Belanda ke Nusantara khususnya Aceh bukan saja hanya menjajah. Tapi, juga mungkin awalnya, kopi diperkenalkan dan ditanam oleh pihak Belanda pada masa kolonial. Namun dikemudian hari kopi berkembang dan terus berkembang serta membaur atau menyatu dalam kebudayaan Aceh. Sehingga minum kopi sekarang sudah menjadi bahagian hidup atau gaya hidup masyarakat Aceh.