Breaking News

Keluhan Transaksi di BSI Meningkat, Ombudsman Minta Segera Diatasi

Keluhan Transaksi di BSI Meningkat, Ombudsman Minta Segera Diatasi

RUANGBERITA.CO | Banda Aceh - Laporan terkait permasalahan transaksi di Bank Syariah Indonesia di Aceh semakin banyak.

Oleh karena itu, Ombudsman RI Perwakilan Aceh mengadakan rapat koordinasi (rakor)  pada Jumat (4/6/2021) kemarin.

Pada rapat tersebut, turut hadir pihak BSI,  Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perwakilan pelaku usaha, dan akademisi serta beberapa asisten Ombudsman.

Saat ini ada 17 permasalahan yang dilaporkan masyarakat baik secara langsung maupun secara online. Keluhan yang paling banyak adalah terkait transaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) berupa tarik tunai dan transfer.

Permasalahan lainnya juga terjadi seperti jaringan yang lambat, ATM yang kosong, sehingga menjadi hambatan bagi nasabah.

"Permasalahan ini muncul karena peralihan dari bank konvensional ke syariah, setelah berlakunya Qanun Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Sehingga hari ini kita mengundang para pihak untuk meminta klarifikasi guna menemukan solusi," sebut Taqwaddin dalam rilisnya, Sabtu (5/6/2021).

Salah satu pelaku usaha, Samsuar yang merupakan pemilik Rizki Fashion mengaku sulit bertransaksi dengan mitra diluar Aceh yang umumnya menggunakan rekening bank konvensional.

"Iya kita merasa sulit dan dirugikan pada saat transaksi yang gagal, potongan biaya transaksi, dan lainnya. Selanjutnya kita juga melihat bahwa BSI belum mampu menyediakan modal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)," kata Samsuar dalam forum tersebut.

Menanggapi berbagai keluhan yang disampaikan melalui Ombudsman, Ahyar Subhan yang merupakan Regional Bisnis Control BSI Wilayah Aceh meminta maaf atas kendala yang terjadi selama ini.

"Kami mohon maaf atas apa yang terjadi selama ini, banyak permasalahan yang harus kami selesaikan. Ini semua terjadi kelambanan sistem pada saat konversi dari bank konvensional ke syariah, selanjutnya dari syariah peralihan lagi ke BSI," ujar Ahyar.

Oleh karenanya dibutuhkan waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Ini semua karena proses aturan yang berlaku pada akhir tahun, sehingga sangat menyulitkan dan tidak cukup waktu yang diberikan," paparnya.

Ia menyebutkan mulai Tanggal 7 Juni 2021 nanti dimulainya migrasi otomatis dari syariah ke BSI secara keseluruhan. Insya Allah pasca migrasi ini pelayanan ATM BSI akan semakin baik.

"Jadi nanti kita semua akan kami migrasikan rekening Bank Syariah ke BSI, baik dari BRIS, BNIS, maupun BSM" ungkap Ahyar.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Aceh Yusri, yang hadir langsung dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan bahwa permasalahan yang terjadi tidak terlepas karena berlakunya Qanun LKS di Aceh.

"Terkesan seperti dipaksakan dari konvensional ke syariah, itu belum selesai, terus harus ke BSI," ungkap Yusri.

Ada masalah besar lainnya selain masalah teknis dan jaringan sebut Yusri, yaitu masalah penerima bantuan sosial, penerima beasiswa, KUR dan hal lainnya. Karena dari Pemerintah Pusat bantuan disalurkan ke bank konvensional, namun di Aceh bank konvensional sudah tidak beroperasional lagi.

"Selain hal tadi, investasi dan pertumbuhan ekonomi juga akan menjadi masalah nantinya," ungkap Yusri.

Pada akhir rapat koordinasi tersebut, Taqwaddin Husin selaku pimpinan lembaga negara pengawas pelayanan publik di Aceh meminta pihak BSI segera menyelesaikan komplain dari nasabah dan memperbaiki kelemahan sistem yang terjadi.

"Kami menyarankan agar pihak BSI segera menyelesaikan komplain dari nasabah, supaya tidak terjadi lagi kegaduhan seperti bulan puasa lalu," tambahnya.

Pihak Ombudsman juga akan membahas secara khusus pemberlakuan LKS di Aceh.

"Terkait dengan keberlakuan Qanun LKS, nanti kami juga akan bahas secara khusus. Karena menurut kami, ada hal-hal yang harus dikaji kembali," tutupnya. []

Editor: