Breaking News

BRI Syariah Merger Ke BSI, Pertumbuhan Aset BRI Tetap Meningkat

BRI Syariah Merger Ke BSI, Pertumbuhan Aset BRI Tetap MeningkatFoto: Ilustrasi Bank BRI

RUANGBERITA.CO | Jakarta - Penggabungan atau merger tiga bank yang terdiri dari Bank BNI Syariah, BRI Syariah dan Syariah Mandiri menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) berpengaruh terhadap aset yang dimiliki ketiga bank tersebut.

Penggabungan itu juga mempengaruhi posisi bank yang memiliki aset terbesar menjadi Mandiri bukan BRI lagi. Mandiri telah mendapat limpahan aset dari hasil merger BSI.

Meskipun demikian, BRI tetap tercatat mengalami pertumbuhan aset pada kuartal I tahun 2021 walaupun BRI Syariah yang sudah tidak mengkonsolidasikan asetnya ke BRI,  

Aset BRI Syariah dan seluruh portofolionya dialihkan ke BSI semenjak berlakunya Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2018  tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang mengharuskan layanan konvensional menjadi Syariah.

Corporate Secretary BRI, Aestika Oryza Gunarto mengatakan bahwa di tengah pandemi BRI tetap tumbuh positif.

"Sampai Maret 2021 BRI mampu mencatatkan Laba Rp6,86 triliun. Aset pun masih tumbuh positif 3,38 persen yoy dengan total Aset BRI mencapai Rp1.411,05 triliun. Ini naik dibandingkan kuartal I tahun lalu di mana Aset BRI Rp1.358,98 triliun," ungkapnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (28/5/2021).

Aestika meyakini pihaknya akan terus membantu pemulihan ekonomi sejak pandemi yang tak berkesudahan ini.

 "Kami akan terus mengambil peran jadi garda terdepan dalam pemulihan ekonomi nasional dan menjadi mitra utama pemerintah dalam menyalurkan berbagai bantuan dan stimulus untuk mendorong permintaan kredit. Pada situasi saat ini, BRI terus fokus untuk menyelamatkan UMKM, mendukung kebangkitan UMKM nasional agar bertumbuh dan berdaya saing," ucap Aestika.

Menurutnya, penerapan nilai sosial dan ekonomi secara bersamaan telah membuat kinerja BRI tumbuh sustain. BRI sukses menghadirkan layanan keuangan terbaik bagi nasabah kecil dan hingga pelosok daerah, serta di sisi lain terjaga profitabilitasnya.

"Kita bukan berkompetisi. Menjadi konservatif pada saat ini adalah pilihan bijak. Bankir harus berfikir jauh, berfikir sustainability. Bagi kami, mencipatakan value itu jauh lebih penting, memberikan manfaat untuk stakeholder, untuk masyarakat dan lingkungan," pungkasnya. []

Editor: