Breaking News

Iklan DPRK ABES Ucapan Selamat Sekda

Ayo Mondok Sambil Kuliah di IAI Al-Aziziyah Samalanga

Ayo Mondok Sambil Kuliah di IAI Al-Aziziyah Samalanga

Era 4.0 atau akrab dikenal dengan istilah era millenial terus bergulir dan berotasi hingga limitnya yang akan disambut oleh era 5.0. Biarkan waktu terus bergulir sesuai sunnatullah. Tugas kita bagaimana berusaha diri kita dan keluarga juga saudara menjadi insan dan generasi terbaik. Salah satunya dengan mendidik dan menerpa anak kita dengan sentuhan ilmu baik ilmu pengetahuan umum terlebih ilmu agama.

Kita sebagai orang tua berkewajiban mendidik anak. Tidak sedikit nash yang menyuruh kita mendidik mereka. Diantara hadist yang memberikan isyarah ke arah tersebut yaitu;

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ}.

Nabi saw. bersabda, “Muliakanlah anak-anak kalian dan ajarilah mereka tata krama.” (Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah dari sahabat Anas bin Malik r.a).

Kita terkadang merasa bangga bukan sebagaimana yang diharapkan dalam agama kepada anak-anak sebagai generasi penerus agama. Orang tua yang baik bukan memberikan anak harta dan sesuatu yang berharga serta bernilai tinggi namun pemberian yang diharapkan adalah memberikan pengetahuan (tarbiyah) dan mengajarinya adab, ini sebagaimana diungkapkan dalam hadits nabi Muhammad Saw berbunyi:

قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Tidak ada pemberian seorang ayah untuk anaknya yang lebih utama dari pada (pendidikan) tata krama yang baik.” (Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dan imam Al-Hakim dari sahabat Amr bin Sa’id bin Ash r.a.)

Islam sangat memuliakan seseorang yang telah mencurahkan perhatian dan usahanya demi tarbiyah terutama untuk anak-anak atau generasi penerus agama dan negeri ini. Satu rupiah saja kita berikan untuk dunia pendidikan sangat berharga. Pemberian itu tidak harus berbentuk material juga lainnya yang bermuara bermanfaat untuk pembangunan tarbiyah wa al-adab. Ini seperti yang diungkapkan dalam pemahaman hadist berbunyi:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {لِأنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha’.” (Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dari sahabat Jabir bin Samurah r.a.)

Intinya mendidik anak-anak merupakan kewajiban kita sebagai orang tua. Terkadang kita tidak punya waktu atau tidak ada kemampuan atau ada alasan lainnya tidak sanggup dipenuhi untuk mendidik mereka. Orang tua berkewajiban menyerahkan generasi penerus atau anak-anak untuk dididik di lembaga pendidikan baik dayah, balee beut, sekolah, perguruan tinggi dan sejenisnya.

Salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam di Nusantara ini yang menyelenggarakan pendidikan berbasis "boarding school" (Pendidikan berbasis pemondokan) dan termasuk yang paling maju dan membeludaknya orang tua menempatkan anaknya untuk dididik menjadi generasi yang handal adalah IAI Al-Aziziyah Samalanga Kabupaten Bireuen, Aceh.

IAI Al-Aziziyah Samalanga merupakan hasil ijtihad sosok al-mujaddid yang hidup di era millenial ini juga seorang Mursyid tarekat Naqsyabandiyah plus mudir di Dayah atau pondok pesantren terkenal di provinsi paling barat di Nusantara. Abu Syekh H Hasanoel Basri HG atau akrab dipanggil Abu MUDI.

Saat pendirian perdana kalinya kampus awalnya bernama STAI Al-Aziziyah Samalanga tahun 2003, Abu MUDI dikritik oleh banyak kalangan baik intern dayah MUDI sendiri maupun eksternal luar dayah bahkan kaum intelektual dayah yang telah menempuh pendidikan umum. Ijtihad Al-Mursyid Abu MUDI ini bukanlah lahir secara tiba-tiba namun pasca bermusyawarah dengan masyaikh termasuk via rabithah dengan Allahuyarham Abon Aziz juga iqra Abu MUDI membaca fenomena yang berkembang saat itu dan alasan lainnya singkatnya lahirlah kampus di lingkungan dayah. Namun Dayah dan IAI Al-Aziziyah itu keduanya berjalan saling melengkapi dan tetap berkiblat kepada akhi kabir Dayah MUDI Mesjid Raya dalam aktivitas sehari-hari.

Qaul Qadim Vs Qaul Jadid
Lahirnya kampus di lingkungan dayah MUDI Samalanga menimbulkan pro dan kontra sehingga dikenal adanya istilah qaul qadim dan qaul Jadid. Qaul qadim masih mengikuti argumen masa Abon Aziz Samalanga tidak boleh adanya kampus di lingkungan dayah sedang qaul Jadid sebaliknya sebagaimana yang dipelopori Abu MUDI. Kedua qaul itu di awal pemderian IAIA Samalanga begitu kental dalam "perseturuan" di awal tahun 2003 hingga beberapa tahun kemudian.

Tentu saja ini revolusi dan reformasi pendidikan yang lahir ide cemerlang dan pemikiran Al-mursyid Al-Mukarram Syaikh H. Hasanoel Basri HG (Abu MUDI) dan lahir pro dan kontra sesuatu yang wajar. Mereka yang kontra ada alasan tersendiri dengan menyebutkan masa Allayurham Abon Abdul Aziz Samalanga bahkan beliau benci kepada perkuliahan dan mereka ini kita istilahkan dengan “qaul qadim.

Sedangkan mereka yang pro dan sependapat dengan Abu MUDI dikenal dengan “Qaul Jadid”. Tentunya problema yang melahirkan “Qaul Qadim” yang melarang dan tidak setuju dengan berdirinya perkuliahan di lingkungan dayah. Sementara yang berpengaruh kepada “Qaul Jadid” membolehkannya yang dipelopori oleh Abu MUDI sendiri.

Tentu saja “tarjih”nya lebih diunggulkan “Qaul Jadid” dari “Qaul Qadim” sebagaimana dalam istilah Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Mahally. Lantas bagaimana dengan problema Qaul Jadid versus Qaul Qadim disini?

Kita mengetahui bahwa Abu MUDI bukan hanya ashabil wujuh (murid langsung dan senior) Abon Aziz juga telah jauh hari disiapkan sebagai calon penggantinya, ini terbukti dengan menjadikan Abu MUDI sebagai menantunya bahkan dalam setiap perkara dan problema Abu MUDI selalu bersama dengan Abon Aziz, tentunya banyak permasalahan dan wasiat yang hanya tahu kedua ulama besar tersebut bahkan menjelang meninggal Abon Aziz, Abu Mudi masih juga mendengarkan petuah dan nasehat Abon. Singkat cerita Abu MUDI sosok yang lebih mengenal Abon Aziz terhadap pemiikirannya dengan ulama lainnya yang juga ashabil wujuh Abon Aziz Samalanga.

Menerusuri akar pemikiran Abon Aziz melarang perkuliahan saat itu disebabkan di kampus banyaknya faham sesat seperti Wahabi dan sejenisnya yang mampu mengubah aqidah dan keyakinan serta pengetahuan seperti kebiasaab kaum dayah pada umumnya dan masih banyak lagi jawaban serta penjelasannya tidak mungkin habis diutarakan diforum ini.

Dalam menerjemahkan pesan Abon, lebih mendekati kebenaran menafsirkannya lebih tepatnya dikatakan Abu MUDI. Tentunya Abu MUDI melihat realita saat ini dengan problemnya, dewasa ini terletak bagaimana generasi penerus itu tidak melupakan kewajiban belajar agama sebagai fardhu ain sebagai kewajiban pokok dan pendidikan yang berkiblat kepada fardhu kifayahnya juga masih kemungkinan dapat ditempuh.


Al-mukarram Abu MUDI mengasumsikan bahwa fenomena umat dan era globalisasi terus mengancam dekadensi moral dan akidah. Akhirnya keresahan Abu MUDI menjawab apa yang terjadi dewasa ini dan lahirnya solusi terhadap kekhawatiran itu dengan mendirikan perguruan tinggi di lingkungan dayah, ide itu muncul dan dibuktikan pada tahun 2003 dengan mendirikan pendidikan formal bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah pada tahun 2003. Penabalan “Al-Aziziyah” itu sebagai tafaulan (sempena) kepada sosok pemimpin dayah sebelumnya yakni Abon Abdul Aziz Samalanga dan beliau dikenal sebagai sosok “Reformis” dalam dunia pendidikan dayah.

Lantas bagaimana dengan qaul Jadid Abu MUDI sejak tahun 2003 hingga menjelang awal tahun 2021? Ternyata apa yang telah dicetuskan menjadi kenyataan, banyak orang yang dulu "kontra" menjadi berubah pemikiran dan secara langsung dan tidak langsung mengakui bahkan menjadi pelopor dan bagian dari ide sang mujaddid memajukan IAIA Samalanga. Tajdid (pembaharuan) yang dilakukan oleh Abu MUDI seakan tahu atau dalam bahasa agama dikenal dengan kasyaf terhadap fenomena yang akan terjadi dikemudian haribahwa bagaimana seharusnya Insan dayah berkiprah dalam masyarakat dan pemerintah.

Sekokah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah Samalanga resmi berubah status sebagai Institut Agama Islam Al-Aziziyah, setelah disahkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI melalui SK Nomor 3776 Tahun 2014. Serah terima SK persetujuan alih status berlansung di Ruang Sidang Kementerian Agama RI di Jakarta pada Senin, 7 Juli 2014 yang dihadiri oleh Rektor Institut Agama Islam Al-Aziziyah Samalanga, Dr. Tgk. Muntasir A.Kadir, MA.

Kini IAI Al-Aziziyah Samalanga mempunyai tiga Fakultas dan tujuh Prodi yakni Fakultas Tarbiyah dengan tiga prodi masing-masing Prodi Pendidikan Guru Agama (PAI), Prodi PBA (Pendidikan Bahasa Arab) dan MPI (Manajemen Pendidikan Islam), kedua Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam dengan dua prodi yakni Prodi HKI (Hukum Keluarga Islam) dan EKOS (Ekonomi Islam) dan terakhir Fakultas Dakwah dan Komunikasi dengan dua prodi masing-masing Prodi KPI dan PMI (Pengembangan Masyarakat Islam) dan hampir semua Prodi berakreditasi B.

Era millenial seperti saat ini dengan kecanggihan teknologi dan informasi bahkan lahirnya efek negatif dalam pergaulan kaum generasi millenial sudah sepatutnya kita sebagai orang tua menempatkan anak di lembaga pendidikan Islam yang kredibel dan salah satunya di IAI Al-Aziziyah Samalanga. Belajar di IAI Al-Aziziyah Samalanga diwajibkan untuk mondok di dayah seputaran Samalanga, baik Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dayah Putri Muslimat, Dayah Baitul Ihsan, Dayah Jami'ah Al-Aziziyah Batee Iliek, Dayah Manyang Gampong Meulum dan beberapa dayah lainnya.

Umpamanya anak kita tempatkan di MUDI Samalanga untuk belajar turast klasik dengan kurikulum tersendiri juga kemudian saat sudah belajar kitab kuning beberapa tahun masuk ke IAIA Samalanga juga tidak mengapa, bukan berarti mereka yang mendaftar di MUDI Samalanga wajib kuliah di IAIA Samalanga, itulah bedanya sistem pendidikan di Al-Aziziyah bersifat hiterogen. Juga mereka yang mendaftar di IAIA Samalanga boleh tidak mondok di MUDI Samalanga namun kewajiban mondok sudah menjadi syarat utama. Masih ragukah anak Anda belajar di IAI Al-Aziziyah Samalanga? Ayo kuliah di IAI Al-Aziziyah Samalanga.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

Pegiat literasi kuliah di Program Doktoral UIN Ar-Raniry Banda dan Ketua PC Ansor Pidie Jaya serta Salah Seorang Penulis Buku Aceh 2021

.