Breaking News

Aceh Krisis Pojok Menyusui, Kemana Penerapan Qanun Kesehatan Aceh?

Aceh Krisis Pojok Menyusui, Kemana Penerapan Qanun Kesehatan Aceh?

 Oleh: drg. Misra Hanum

Mahasiswi Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala dan Staff di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Syiah Kuala.

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber gizi pertama bagi anak sejak ia dilahirkan. Pemberian ASI memiliki perananan penting dalam upaya menurunkan angka kematian dan kesakitan anak. Menurut World Health Organization (WHO) dan United Nation Childrens Fund (UNICEF), seorang anak yang baru lahir seharusnya disusui paling minimal selama 6 bulan, dimana setelah 6 bulan dapat diberikan makanan padat sebagai pendamping ASI akan tetapi pemberian ASI harus dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun.

Salah satu pola menyusui yang dianjurkan oleh WHO adalah menyusui ekslusif, yaitu tidak memberi bayi makanan atau minuman lain bahkan termasuk air mineral selain ASI kecuali multivitamin bayi atau mineral tetes. Dalam mendukung hal ini, pada tahun 2013 pemerintah Indonesia menyarankan lamanya pemberian ASI eksklusif dari rentang waktu minimal 4 bulan menjadi selama 6 bulan lamanya.

Mengapa Harus ASI Eksklusif?

Saat ini kita sudah dapat menemukan banyak artikel-artikel penelitian yang menyajikan pengetahuan mengenai manfaat ASI bagi bayi. ASI adalah makanan bernutrisi pilihan terbaik untuk bayi baru lahir hingga usianya mencapai 2 tahun. Untuk memperolehnya, kita juga tidak memerlukan biaya apapun karena langsung didapatkan ibu sehingga pemberian ASI eksklusif juga mendukung dalam menopang perekonomian keluarga untuk pemenuhan gizi anak.

Lantas apa manfaatnya sehingga perlu diberikan ASI eksklusif bagi Bayi dan Ibu? Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sheila dkk, University of Nevada, ASI ekslusif yang diberikan kepada bayi memberikan banyak nutrisi bagi bayi. Nutrisi ini terbukti mampu memberikan faktor perlindungan terhadap kesehatan bayi hingga bayi tersebut tumbuh dewasa. ASI mampu melindungi bayi dari penyakit infeksi seperti diare, otitis media, infeksi saluran nafas akut bawah, batuk, pilek, serta penyakit alergi lainnya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ASI mampu mencegah anak dari obesitas yang dapat menimbulkan penyakit kronis lainnya seperti diabetes dan sebagainya.

Tidak hanya bagi bayi, ternyata pemberian ASI ekslusif sangat bermanfaat bagi ibu yang menyusui. Dilansir dari www.nhs.uk, kegiatan menyusui yang dilakukan oleh ibu mampu menurunkan resiko terkena kanker payudara, kanker ovarium, osteoporosis, penyakit jantung, serta mencegah obesitas. Begitu banyaknya manfaat pemberian ASI eksklusif yang saat ini mungkin masih minim diketahui oleh beberapa lapisan masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh lemahnya peran promosi kesehatan dalam mempromosikan ASI ekslusif.

Cakupan ASI Ekskulif di Aceh Saat Ini

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai bagaimana  keadaan cakupan pemberian ASI eksklusif di Aceh saat ini, perlu kita ketahui bahwa di Indonesia telah ditetapkan aturan tertulis terkait pemberian ASI eksklusif itu sendiri. Diantaranya adalah Pasal 128 Ayat 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, Pasal 6 Peraturan Pemerintah Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang pemberian ASI Eksklusif, serta Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 450/MENKES/SK/VI/2004 Tentang Pemberian ASI Esklusif di Indonesia yang menetapkan wajib selama 6 bulan dan dianjurkan hingga anak berusia 2 tahun atau dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.

Lantas apakah aturan yang telah ada sudah mampu menciptakan keadaan di lapangan seperti yang diinginkan?  Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019, cakupan bayi mendapatkan pemberian ASI ekslusif di Provinsi Aceh adalah sejumlah 55,24%, artinya dari 100 bayi hanya sekitar 56 bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif. Angka ini tentu telah melebihi target Renstra Tahun 2019, yaitu 50% akan tetapi Provinsi Aceh masih menempati urutan ke 26 terendah dibandingkan provinsi lain di Indonesia.

Peran Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2010 Tentang Kesehatan Dalam Mendukung Pojok Menyusui

Setelah Pemerintan Indonesia membentuk aturan hukum nasional kesehatan yang mengatur tentang kewajiban pemberian ASI eksklusif, didalamnya pemerintah juga menghimbau peran serta pemerintah daerah dalam mendukung aturan nasional tersebut. Di Provinsi Aceh sendiri selama 11 tahun terakhir kita telah memiliki Qanun yang mengatur tentang kesehatan. Namun, apakah Qanun ini telah dijalankan fungsinya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan?

Hal ini akan kita bahas lebih lanjut dari salah satu pasal terkait promosi kesehatan. Pada Pasal 20 Ayat 1 Qanun Nomor 4 Tahun 2010 Tentang Kesehatan dinyatakan bahwa setiap badan usaha wajib menyediakan tempat khusus bagi ibu menyusui, bayi, dan anak balita di lingkungan tempat ibu bekerja. Selanjutnya pada Pasal 2 dinyatakan bahwa kewajiban tersebut harus dilaksanakan secara bertahap paling lama 5 tahun sejak Qanun diundangkan.

Pasalnya, sudah sejak 11 tahun Qanun ini berlaku kita masih jarang melihat tempat umum dan tempat bekerja yang menyediakan pojok khusus ibu menyusui. Sejauh ini belum dapat ditemukan pojok menyusui yang layak di tempat-tempat umum dan tempat bekerja yang dapat kita temui, bahkan di tempat umum seperti bandara di Provinsi Aceh. Padahal pojok menyusui ini sangat diperlukan di kalangan masyarakat untuk mendukung terpenuhinya program ASI eksklusif yang dicanangkan oleh pemerintah.

Ketimpangan di lapangan dari penerapan Qanun kesehatan ini seharusnya menjadi konsen bagi pemerintah Aceh untuk melakukan monitoring dan evaluasi kembali terhadap Qanun tersebut. Masyarakat sangat mengharapkan adanya Qanun Kesehatan Propinsi Aceh mampu meningkatkan indikator-indikator derajat kesehatan.

Rekomendasi Pojok Menyusui Untuk Dijadikan Aturan yang Sah Dalam Qanun Kesehatan Provinsi Aceh

Setiap ibu yang menyusui tentu memerlukan tempat yang nyaman dan adanya privasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendirikan pojok menyusui di tempat umum atau tempat bekerja sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui atau Memerah ASI, antara lain meliputi; terdapat ruang berukuran minimal 3x4 m dan terdapat pula ventilasi atau sirkulasi udara yang memadai.

Kemudian ruangan juga harus bebas polusi atau potensi berbahaya lain di tempat kerja, tempat harus tenang, menghindari kebisingan serta terdapat penerangan yang tidak berlebihan. Kelembaban udara juga harus diatur antara 30-50%, tersedia tempat cuci tangan dengan air yang mengalir.  Selanjutnya tersedia pula lemari pendingin penyimpanan ASI perah, jika memungkinkan dapat disediakan alat sterilisasi botol ASI.

Qanun Kesehatan propinsi Aceh ini sudah terlalu lama, sehingga disarankan kepada pemerintah Aceh untuk dapat melakukan update pada beberapa pasal yang terdapat di dalamnya. Aturan yang ditetapkan dalam Qanun kedepannya juga diharapkan tidak hanya sebatas tulisan saja, tetapi perlu ditinjau dalam implementasinya di lapangan terkait tujuan-tujuan yang ingin dicapai dari adanya Qanun ini. []