Breaking News

Aceh Dalam Bayangan Vandalisme, Sebuah Perilaku Barbar

Aceh Dalam Bayangan Vandalisme, Sebuah Perilaku Barbar
Popon Tanjong.

Oleh : Popon Tanjong

Bebrerapa hari lalu saya melihat coretan piloks di beberapa fasilitas umum di Banda Aceh. Coretan itu bernada politis tentunya. Dan yang menjadi permasalah disini bukan soal apa konten yang ditulis, akan tetapi tempat penulisannya sendiri.

Fasilitas umum telah digunakan untuk ajang melampiaskan kemarahan dan kegundahan beberapa oknum terhadap politisi. Wujud ekspresi kebebasan dalam menyuarakan apapapun sangat nutural (nuture rights) di setiap negara yang demokrasi. Segala lini ruang untuk aktualisasi "kritisisme" juga disediakan oleh konstitusi. Apalagi di era keterbukaan informasi sekarang, saluran pipa kritik saran sangat multi dimensi dan multi platform. Setiap kita bisa pergi lewat mana saja, kita juga bisa menggunakan bahasa apa saja sejauh itu tidak lari ke persoalan personal.

Coretan yang ada di beberapa fasilitas publik di kota Banda Aceh itu merupakan perilaku tercela yang sangat bar bar, atau kita sering mendengar dengan istilah vandalisme. Merusak nilai estetika publik.

Perilaku tersebut dahulunya dilakukan oleh kaum vandal yang mencul pada abad 4 atau 5 masehi, meski beberapa sumber mengatakan ada sejak zaman manusia sebagai pemburu dan pengumpul.

Masyarakat vandal dahulu ada di zaman Jerman purba. Meskipun masyarakat vandal pada abad ke 5 masehi mampu menjangkau kekuasaan dari spanyol sampai ke Afrika Utara.

Seiring berjalannya waktu, dinamika vandalisme termasuk digolongkan menjadi perilaku kriminal. Anda bisa melihat beberapa negara yang menghukum atau menindak perilaku bar bar atau merusak secara fisik maupun estetik fasilitas umum. Seperti Amerika, Inggris yang secara serius memberi hukuman penjara dan denda.Tapi hal ini sering diabaikan oleh  pemerintah Indonesia terhadap kaum vandal.

Dalam studi psikologi perilaku vandalisme ini sangat berbahaya, biasanya ini dilakukan oleh kaum remaja (identity confusion) yang cenderung mengikuti pengaruh orang dewas yang minim "pendidikan karakter" dan emosional tak terkendali.

Mengajak orang-orang di lingkungan untuk melakukan hal-hal yang memicu keributan dan hura hura, menurut psikolog Goldstein, terjadi berdasarkan tingkatan pendidikannya.

Perilaku bar bar ini andai terus dibiarkan, maka sama seperti kita mengajarkan bibit-bibit remaja untuk hidup seperti kaum vandalus. Tetapi, jika orang dewasa mempengaruhi remaja untuk berperilaku demikian, sungguh itu ajaran pembangkangan dari norma sosial.

Terjadinya hal tersebut juga tidak terlepas dari stigmatisasi soal ownership fasilitas publik telah terbangun dalam masyarakat seperti lingkaran setan. Masayarakat menganggap fasilitas publik di bangun dengan uang negara/publik maka oknum yang mengatasnamakan publik memiliki hak untuk meluapkan pelampiasan dalam bentuk apapun, dan pihak yang memperbaiki juga memperoleh keuntungan dari uang perbaikan tersebut. Disinilah kesadaran banyak orang tidak terbentuk hingga mudah terprovokasi oleh orang yang meluapkan kemarahannya tidak memakai "dengkul" (the stupid take all attention). Mindset lengkaran setan seperti inilah yang sulit diputuskan.

Jikapun Aceh belum mencapai titik peradaban yang optimal, setidaknya Aceh tidak boleh menurun atau surut ke zaman yang sudah banyak orang tinggalkan atau menjadi irelevan.


Kota Banda Aceh sebagai hunian yang merepresentasikan suatu hubungan sosial yang mewajibkan manusia berfikir secara universal dalam hal visualisai, harusnya mempunyai  ketertiban atau keindahannya.

Peristiwa cat piloks di fly over jalam Simpang Surabaya merupakan tindakan bar bar atau vandalis, tindakan ini mencerminkan bayang-bayang vandalisme abad ke lima dan "konon" katanya bisa dipelihara oleh kakak pembina.

Manusia sebagai makhluk yang mulia mempunyai tugas untuk selalu menjaga bukan merusak, kendatipun realitas tidak demikian.

Demokrasi menyediakan banyak corong menyampaikan aspirasi. Di zaman perkembangan sains dan teknologi kaum bar bar atau vandalis akan berujung bersifat anarki. Itu kredo saya. Maka oleh itu harus dicegah dan disudahi. [•]

Iklan Idul Adha Bupati Abes
Iklan Idul Adha Gub Aceh