Breaking News

11 Persen Kasus Covid-19 di Indonesia Terjadi Pada Anak, Pakar Sarankan Disiplin Prokes

11 Persen Kasus Covid-19 di Indonesia Terjadi Pada Anak, Pakar Sarankan Disiplin Prokes

RUANGBERITA.CO I JAKARTA--Kasus positif Covid-19 di Indonesia terus merangkak naik. Bahkan, sebanyak 11 sampai 12 persen diantaranya terhadi pada anak-anak.

Bahkan, selama masa pandemi, jumlah kematian anak balita meningkatkan hingga 50 persen atau ada 1.000 kematian pada anak setiap minggunya.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Aman Bhakti Pulungan, seperti dikutip dari Kompas.com, Sabtu, 26 Juni 2021.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Citra Indriani menjelaskan, sebenarnya sejak awal anak-anak mempunyai risiko untuk terinfeksi sars cov-2.

Ia mencontohkan seperti yang terjadi di provinsi DIY, kasus pertama Covid-19 adalah pada anak-anak. Namun pada saat awal pandemi, pengetahuan yang ada tentang infeksi virus ini terhadap anak menunjukkan bahwa gejala yang terjadi adalah sedang ke berat.

"Pengetahuan kita belum sepenuhnya lengkap untuk virus ini, sehingga masih berkembang. Apalagi virus pun mengalami mutasi dan menyebabkan perubahan karakternya," jelas Citra seperti dikutip dari laman UGM, Jumat (25/6/2021).

Citra menekankan, di tengah kondisi belum adanya vaksin yang efektif bagi anak, penerapan prokes pada anak-anak dan prokes ketat dari orangtua diharapkan sebagai senjata terakhir untuk melindungi anak-anak dari paparan infeksi virus corona.

"Proses 3T (test, tracing, treatment) tidak untuk melindungi anak-anak. Tapi prokes anak dan prokes orang tualah yang melindungi. Langkah ini," tutup Citra.

Citra mengakui, vaksin yang ada saat ini, belum direkomendasikan untuk diberikan terhadap anak-anak.

Vaksin untuk anak belum jadi prioritas global
Pasalnya, semua vaksin ketika akan digunakan harus melalui uji terlebih dahulu untuk efikasinya. Apakah memberikan manfaat atau tidak, meskipun dalam kondisi kegawatdaruratan.

"Pada saat ini memang kita masih dan harus menunggu hasil uji klinis pada kelompok anak, sebelum bisa kita berikan ke anak-anak," terang Citra.

Meski sudah ada vaksin yang sudah direkomendasikan oleh WHO SAGE (Strategic Advisory Group of Expert) bagi mereka yang berusia lebih dari 12 tahun yaitu Pfizer/Biontech. Namun selama ini anak-anak memang belum menjadi prioritas secara global.

Citra menambahkan, dengan perkembangan situasi dan bukti ilmiah yang dihimpun, tidak menutup kemungkinan, akan ada rekomendasi baru dan akan mengubah kebijakan terkait pemberian vaksin pada anak.

"Kembali lagi, senjata kita ada di prokes. Makan bersama dengan orang selain di luar rumah pun sangat berisiko. Karena sama-sama membuka masker dan pastinya ngobrol. Hal ini kalau kita lihat masih banyak yang melakukan," beber Citra. [•]

Sumber:Kompas.com
Iklan Idul Adha Bupati Abes
Iklan Idul Adha Gub Aceh